Padi Menguning, Petani di Sulut Terancam Merugi akibat Antrean Panjang Mesin Panen

3 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Hamparan sawah di Kelurahan Bintauna, Kecamatan Bintauna, Kabupaten Mongondow Utara (Bolmut), Sulawesi Utara, tampak menguning. Bulir padi telah merunduk, tanda siap dipanen.

Namun di balik pemandangan itu, tersimpan kecemasan para petani yang belum bisa memulai panen.

Iswan Paputungan menjadi salah satu yang merasakan kondisi tersebut. Ia hanya bisa menunggu giliran penggunaan combine harvester atau mesin panen yang jumlahnya terbatas di wilayahnya.

“Padinya sudah siap panen, tapi alatnya terbatas. Kalau terlambat, gabah bisa rontok atau kualitasnya menurun,” kata Iswan kepada Liputan6.com, Sabtu (4/4/2026).

Hari demi hari berlalu, sementara padi di sawah terus menua. Dalam situasi normal, panen seharusnya dilakukan tepat waktu agar kualitas gabah tetap terjaga. Namun ketika musim panen datang bersamaan, permintaan penggunaan combine harvester meningkat drastis.

Kondisi ini membuat antrean panjang tak terhindarkan. Petani harus saling menunggu, sementara waktu terus berjalan.

"Situasi ini dapat memperburuk kondisi padi di sawah. Jika tidak segera dipanen, hasil produksi berisiko mengalami penurunan kualitas hingga kerugian bagi petani bahkan bisa terjadi gagal panen," ujarnya.

Di tengah keterbatasan alat modern, Iswan sempat memikirkan kembali cara lama, memanen padi secara manual. Namun harapan itu kembali pupus karena tenaga kerja kini semakin sulit ditemukan di desa.

"Sebab rata-rata mereka sudah beralih profesi dan telah berada di luar daerah," tuturnya.

Di kawasan Ontomuno luar, hamparan sawah lainnya juga mengalami nasib serupa. Sekitar 7 hingga 8 hektare padi telah siap dipanen, tetapi belum tersentuh karena belum ada kepastian kapan mesin panen akan tiba.

"Di Kawasan Ontomuno luar itu ada sekitar 7-8 hektare yang siap di panen namun masih menunggu kabar kedatangan mesin panen yang tak ada kepastian jelas kapan akan tiba disini," lanjutnya.

Di tengah situasi tersebut, harapan petani sederhana. Mereka berharap pemerintah daerah dapat menambah jumlah alat mesin pertanian sekaligus memperbaiki sistem distribusinya agar lebih merata.

“Kalau alatnya cukup, kami tidak perlu khawatir lagi soal keterlambatan panen,” pintanya.

Bagi para petani di Bolmut, waktu panen bukan sekadar soal jadwal, melainkan penentu hasil kerja berbulan-bulan. Ketika alat terbatas, yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas gabah, tetapi juga keberlangsungan ekonomi mereka.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner