Kisah Tragis Siswi SMP di NTT: Diperkosa lalu Dibunuh Kakak Kelas, Jasadnya Dibuang Ayah dan Kakek Pelaku

22 hours ago 26

Liputan6.com, Jakarta - STN (14) siswi SMP Mater Boni Consili (MBC) Ohe, Desa Rubit, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) ditemukan tewas mengenaskan pada 23 Februari 2026. Polisi menetapkan tiga orang tersangka.

Pertama, kakak kelas korban berinisial FRG (16), ayah kakak kelas berinisial SG (44) dan VS (57) kakek pelaku.

Wakapolres Sikka, Kompol Marselus Yugo Amboro, mengatakan berdasarkan hasil penyidikan, ayah dan kakek pelaku berperan aktif membantu FRG (pelaku utama) untuk menutupi tindak kejahatan yang dilakukan.

"VS berperan menyembunyikan alat bukti dan memindahkan jenazah korban dari lokasi awal ke kali, sedangkan SG berperan menginstruksikan VS dan FRG menghilangkan barang bukti dan memindahkan jenazah," ungkapnya, Kamis 5 Maret 2026.  

FRG dijerat pasal pembunuhan dan pemerkosaan. Sedangkan VS dan SG dijerat pasal 278 ayat 1 huruf C dan atau huruf b Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 KUHP dengan ancaman pidana paling lama 6 tahun.

"Ketiga tersangka saat ini ditahan di rutan Polres Sikka," katanya. 

Diperkosa Sebelum Dibunuh

Kompol Marselus menuturkan kasus itu berawal saat STN hendak mengambil gitarnya yang dipinjam FRG. Saat itu, di rumah hanya ada FRG seorang diri. Anggota keluarga lainnya sedang mengikuti acara adat di kampung tetangga.  

Di rumah FRG, pelaku dan korban sempat makan durian bersama. Namun, saat hendak pamit pulang, pelaku tiba-tiba berubah jahat. Dia memaksa korban berhubungan badan. Namun ditolak. 

Rumah yang sepi dan jauh dari tetangga, membuat pelaku leluasa beraksi dan terus memaksa korban. Korban terus melakukan perlawanan. Namun pelaku merudapaksa korban. 

Lalu, pelaku meminta korban agar tak menceritakan kepada siapapun atas kejadian itu. Sambil menahan rasa sakit, korban berupaya menghubungi keluarga untuk menjemputnya pulang.

Niat korban menghubungi keluarga membuat geram pelaku. Takut perbuatannya dilaporkan, pelaku berupaya merampas handphone korban, namun tetap ditahan. 

Saat itulah pelaku kalap. Dia mengambil parang dan membacok korban hingga tewas. 

"Keduanya (pelaku dan korban) hanya sebatas teman, karena satu sekolah. Pelaku mengira korban melapor keluarganya hingga terjadi pembacokan," ungkapnya. 

Sembunyikan Jenazah

Setelah menghabisi korban, FRG menyembunyikan jasad STN di belakang dapur rumah. Dia menutup jasad dengan daun talas dan kain bekas. 

Sekitar pukul 9 malam, keluarga FRG pulang ke rumah setelah mengikuti acara adat. Saat itulah, FRG menceritakan perbuatannya ke orangtuanya. Bukannya melapor ke polisi, keluarga malah berniat membantu pelaku menghilangkan jejak kejahatannya.

Atas perintah sang ayah, FRG bersama kakeknya kemudian memasukkan jasad korban di dalam karung, lalu dibuang ke sungai mati, sebelum akhirnya ditemukan warga. 

"Setelah meminta jenazah dibuang, SG lalu menyuruh anaknya kabur ke Kabupaten Ende," katanya. 

Kemarahan Keluarga dan Warga

Setelah menerima laporan penemuan jenazah, polisi bergerak cepat melakukan penyelidikan dan berhasil menangkap FRG di Kabupaten Ende dan SG di wilayah Nebe, Kabupaten Sikka. 

Saat itu Polisi hanya menetapkan FRG sebagai tersangka tunggal dalam kasus itu. Sementara SG, ayah pelaku hanya sebagai saksi, bahkan sempat kabur saat dibawa polisi dirawat di RSUD TC Hillers Maumere karena sakit.

Penetapan tersangka tunggal dan kaburnya SG memicu kemarahan keluarga korban dan memantik simpati publik. 

Gelombang unjuk rasa di Polres Sikka dilakukan selama dua hari oleh mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sika. 

Mahasiswa mendesak polisi bekerja profesional dan transparan mengungkap tuntas kasus itu. Mahasiswa juga meminta polisi menyelidiki keterlibatan pihak lain atas kematian STN.  

Aksi demo itu baru mereda setelah polisi menetapkan dua tersangka tambahan yakni SG yang merupakan ayah pelaku dan VS, kakek pelaku.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner