Ancaman Senyap Kepunahan Tumbuhan Karnivora

7 hours ago 4

Liputan6.com, Jambi - Daswarsya berada di hutan hujan mencari tumbuhan karnivora, tapi bukan yang berbahaya. Pria berusia 60 tahun ini membawa saya ke hutan di tepi Danau Lingkat di dekat Desa Lempur, Kabupaten Kerinci, Jambi, Sumatra. Di bawah naungan pohon, ia membungkuk untuk memeriksa area sekitar mencari tumbuhan kantong semar, yang dikenal di Indonesia sebagai kantong semar.

Tanaman karnivora ini masih melimpah untuk saat ini. Beberapa tumbuh bergerombol di lantai hutan. Yang lain menggantung di dahan pohon. Satu per satu, Daswarsya memetik sekitar 30 butir tanaman dan memasukkannya ke dalam kantong kain.

“Mari kita ambil sedikit untuk membuat lemang kantong semar,” katanya pada 21 Agustus 2025 lalu.

Lemang kantong semar merujuk pada makanan tradisional yang terbuat dari beras ketan, susu kelapa, dan garam. Biasanya, lemang dimasak dalam bambu. Namun, di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, orang-orang justru menempatkan bahan-bahan tersebut dalam tanaman kantong semar, yang kemudian dikukus, sehingga memberikan lemang pada aroma dan rasa yang khas.

Daswarsya khawatir tradisi lama ini telah berubah menjadi ancaman modern bagi tanaman kantong semar, bersama dengan hilangnya habitat, penebangan ilegal untuk perdagangan tanaman hias, dan perubahan iklim.

Meskipun kerangka hukum Indonesia memberikan perlindungan bagi beberapa spesies tanaman kantong semar, penegakan hukum menjadi tantangan — dan tanaman yang digunakan untuk membuat kuliner lemang tidak termasuk dalam peraturan yang berlaku saat ini.

Sumatra: Surga Tanaman Nepenthes

Nepenthes (spesies Nepenthes) yang dikenal sebagai tumbuhan karnivora itu merambat di pohon dan tanaman lain. Tumbuhan itu memiliki daun yang dimodifikasi membentuk struktur cangkir atau tabung berisi cairan — penduduk setempat menyebutnya “monkey pots”. Nektar yang diproduksi di tepi kantong menarik serangga dan hewan kecil lainnya, yang kemudian tergelincir ke dalam kantong dan tenggelam. Tanaman tersebut kemudian mencerna mereka.

Indonesia merupakan pusat keanekaragaman global untuk tanaman ini, dengan setidaknya 68 dari 170 spesies yang telah dideskripsikan di dunia. Menurut data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sebagian besar tumbuhan karnivora itu ditemukan di Sumatra (34 spesies), dengan jumlah yang lebih kecil di Kalimantan (22 spesies), Sulawesi (11 spesies), Papua (11 spesies), Maluku (3 spesies), dan Jawa (3 spesies).

Spesies yang digunakan oleh masyarakat Lempur, Kabupaten Kerinci untuk memasak lemang adalah Nepenthes ampurallia. Kantongnya menyerupai toples bulat dengan tinggi 5-10 sentimeter, berwarna hijau muda atau hijau dengan bintik-bintik merah. Spesies ini tumbuh di tempat teduh, berkembang baik di bawah naungan pohon-pohon hutan hujan. Hutan Lempur, tempat Daswarsya membawa saya adalah tempat ideal untuk menemukan tumbuhan eksotis ini.

Kembali ke rumahnya, tiga kilometer jauhnya, Daswarsya menyiapkan tanaman tersebut, lalu mengisi bahan lemang ke dalamnya sebelum dimasak. Para tetua desa memberitahunya bahwa praktik memasak lemang dalam tanaman kantong semar dimulai pada abad ke-17 dan telah diwariskan dari generasi ke generasi sejak saat itu. Setelah sekitar satu jam memasak, Daswarsya membawa nampan lemang kantong semar yang sudah matang dan menyajikannya dengan saus srikaya manis.

Permintaan Meningkat untuk Lemang Kantong Semar

“Dulu, hidangan ini hanya bisa dinikmati pada acara-acara tertentu, seperti upacara tradisional atau perayaan Idul Fitri,” kata Daswarsya.

Kini ia khawatir tanaman kantong semar dipanen berlebihan untuk memenuhi permintaan lemang kantong semar dari wisatawan. Kabupaten Kerinci hanya berjarak 37 kilometer dan warganya semakin sering mengunjungi Lempur dan danau untuk berwisata. Beberapa penjual kue rumahan di Kabupaten Kerinci mempromosikan makanan tradisional ini melalui jaringan media sosial. Untuk memenuhi permintaan, masyarakat setempat mengambil tanaman kantong semar langsung dari hutan — tidak ada budidaya tanaman ini, atau upaya konservasi populasi liar.

Daswarsya menyesalkan bahwa tanaman kantong semar kini digunakan tanpa upacara tradisional, dan orang-orang tidak menyadari bahwa tanaman ini langka. Ia mengatakan kurangnya pengawasan dan kampanye kesadaran oleh pemerintah telah mendorong panen Nepenthes ampurallia.

Pada tahun 2018, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia mengeluarkan peraturan yang menambahkan 59 spesies tanaman kantong semar ke dalam daftar spesies dilindungi di negara ini. Di antaranya terdapat enam spesies yang diklasifikasikan sebagai ‘terancam punah secara kritis’ dalam Daftar Merah Spesies Terancam Punah Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), dan beberapa spesies lain yang diklasifikasikan sebagai terancam punah.

Nepenthes ampurallia yang digunakan sebagai pembungkus lemang tidak termasuk dalam daftar spesies dilindungi. Meski belum masuk daftar yang dilindungi, namun dikhawatirkan jika tidak diatur kedepan keberadaan tanaman ini semakin terancam.

“Jika tidak diatur, tanaman ini bisa habis, dan kami khawatir akan punah,” kata Daswarsya, yang juga menjabat sebagai ketua Forum Pelestarian Hutan dan Lingkungan Desa. “Oleh karena itu, panen tanaman kantong semar harus dibatasi. Saya harap warga hanya memanennya untuk upacara tradisional dan acara khusus.”

Dibutuhkan: Regulasi dan Pendidikan

Desa Daswarsya terletak di dalam sebuah eksklave Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) – situs warisan dunia yang diakui UNESCO yang memiliki 15 spesies Nepenthes. Hampir setengah dari spesies ini dilindungi, kata Dian Indah Pratiwi, Petugas Pengendalian Ekosistem Hutan di Kantor TNKS.

"Namun, karena penelitian tentang Nepenthes di wilayah kami masih terbatas dan kami kesulitan mengidentifikasinya, kami khawatir spesies yang digunakan sebagai pembungkus lemang adalah spesies yang dilindungi," kata Staf Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) pada Balai Besar TNKS Dian Indah Pratiwi.

Tri Warseno, peneliti di Pusat Penelitian Biosistematika dan Evolusi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang bermarkas di Jakarta, mengatakan bahwa pengumpulan tanaman kantong semar di habitat alaminya perlu diatur dan dikelola dengan bijak. “Pencarian atau pengumpulan yang tidak terkendali di alam liar dapat mengganggu upaya konservasi,” kata Warseno.

Ia menyoroti bahwa pengumpulan berlebihan untuk memenuhi permintaan yang meningkat dari pariwisata akan mengancam dan membuat tanaman kantong semar sulit ditemukan atau bahkan punah secara lokal. Hal ini pada akhirnya akan mengancam penggunaan tradisional dan komersial tanaman tersebut untuk membuat lemang.

Warseno mengatakan penting untuk mendidik masyarakat lokal tentang Nepenthes dan risiko panen berlebihan. Ia menyarankan TNKS dapat menetapkan kuota panen tanaman di luar kawasan konservasi, dan anggota komunitas harus diajari cara menanam tanaman kantong semar agar tidak perlu memanennya dari habitat aslinya.

Habitat yang Menghilang

Panen berlebihan untuk produksi lemang hanyalah salah satu dari beberapa ancaman yang dihadapi tanaman kantong semar di Sumatra. Pada Desember 2025, Daswarsya melaporkan bahwa sebagian hutan adat Hulu Air Lempur di zona penyangga TNKS telah secara ilegal diubah menjadi perkebunan kopi dan kayu manis. Area tersebut merupakan hutan tempat tanaman kantong semar tumbuh.

“Kami sedih melihat hutan kami dirampas, yang dapat menyebabkan hilangnya tanaman kantong semar yang unik,” katanya.

Tanaman kantong semar sangat rentan terhadap kehilangan habitat dan fragmentasi karena hanya tumbuh dalam kondisi tertentu. Nursanti, dosen kehutanan di Fakultas Pertanian Universitas Jambi, menjelaskan bahwa spesies Nepenthes telah beradaptasi untuk tumbuh di tempat-tempat dengan tanah yang tandus atau kekurangan nutrisi, seperti rawa gambut asam dan hutan kerangas.

Di bawah kondisi ini, tanaman ini masih dapat memenuhi kebutuhan nutrisi mereka, terutama protein, dengan menangkap dan mencerna serangga menggunakan kantong unik mereka. Namun, di seluruh Sumatra, deforestasi, pertambangan, dan perluasan perkebunan kelapa sawit serta hutan industri sedang menghancurkan habitat alami Nepenthes.

Data dari Kementerian Kehutanan pada tahun 2025 menunjukkan bahwa deforestasi bersih di Sumatra mencapai 78.030 hektar. Sekitar 44 persen deforestasi di Indonesia terjadi di Sumatra, dengan tingkat tertinggi di provinsi Riau, diikuti oleh Aceh, Jambi, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Greenpeace Indonesia memperkirakan bahwa Sumatra kini hanya memiliki 10 hingga 14 juta hektar hutan alami, atau kurang dari 30 persen dari total luas pulau.

“Jika ekosistem hutan terganggu, keberadaan tumbuhan kantong semar sangat terancam, dan jika ekosistem rusak, keberadaan Nepenthes sangat sulit untuk dipulihkan,” kata Nursanti.

Perdagangan Tanaman dan Perubahan Iklim

Pemanenan Nepenthes untuk pembuatan lemang dibatasi di Kabupaten Kerinci, namun di seluruh Sumatra, tanaman ini juga diambil oleh pemburu liar yang memasok perdagangan tanaman hias. Bentuk unik dan menarik secara visual dari tanaman kantong semar membuatnya sangat diminati di kalangan kolektor tanaman.

Pemburu liar akan menargetkan spesies langka khususnya, karena nilainya yang tinggi. Sebuah nursery online Malaysia menjual bibit Nepenthes rigidifolia — yang secara alami hanya ditemukan di Sumatra dan terancam punah secara kritis — seharga US$86 per bibit, atau sekitar Rp1.300.000.

Semua spesies Nepenthes di Indonesia terdaftar dalam Lampiran II Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar yang Terancam Punah (CITES). Ini berarti tumbuhan tersebut, hanya dapat diperdagangkan secara internasional dengan syarat tertentu dan izin khusus. Namun, ukuran tanaman yang kecil memudahkan orang untuk menyelundupkannya, menimbulkan kekhawatiran bahwa perburuan liar akan menyebabkan penurunan drastis populasi mereka.

Menurut Warseno dari Badan Penelitian dan Inovasi Nasional, perubahan iklim dan kenaikan suhu juga dapat mempengaruhi kemampuan tanaman kantong semar untuk beradaptasi dan bertahan hidup. Jika suhu naik, akan sangat sulit bagi tanaman ini untuk berkembang, jelasnya.

Nilai-Nilai Nepenthes

Manfaat komersial bagi para pemanen Nepenthes — baik untuk perdagangan tanaman internasional maupun untuk membuat lemang — jelas terlihat. Namun, tanaman ini juga memiliki nilai lain, kata Warseno.

“Tanaman kantong semar atau Nepenthes juga memiliki peran ekologi, yaitu sebagai pengendali hama serangga alami di habitatnya,” ujarnya. “Ia membantu menyeimbangkan rantai makanan dan mengurangi potensi wabah hama serangga di ekosistemnya.”

“Keberadaan Nepenthes di suatu area dapat digunakan sebagai indikator kesehatan hutan dan menunjukkan bahwa ekosistem tersebut relatif sehat dan belum tercemar secara signifikan,” tambahnya.

Warseno mengatakan tanaman ini memiliki nilai edukatif, karena penampilannya, keunikan evolusioner, dan kemampuannya memangsa hewan untuk mendapatkan nutrisi. Ia mencatat bahwa tanaman kantong semar telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional, tetapi sedikit orang yang mengetahui hal ini.

“Tapi jika tanaman itu sendiri punah dan belum diteliti, bagaimana kita bisa mengetahui manfaatnya?” tanyanya. “Itulah mengapa sangat penting untuk melindunginya.”

*Liputan ini didukung Internews’ Earth Journalism Network

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner