Perjuangan Warga Sawangan Depok Naik TransJakarta, Antre Kepanasan hingga Banjir Keringat

3 days ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Teriknya matahari di langit Sawangan, Kota Depok, tidak menyurutkan para pejuang rupiah untuk berangkat ke tempat kerja di wilayah Jakarta. Windi (25), sejak pukul 08.00 WIB, sudah berada di halte Transjakarta tanpa atap di pintu exit tol Sawangan.

Windi bersama belasan warga Depok lainnya tampak mengantre mengikuti barisan, untuk menaiki Transjakarta yang awal pemberangkatan dari Terminal Sawangan. Menunggu sekitar 20 menit di bawah terik matahari, bulir keringat mulai mengalir dari wajahnya.

“Transjakarta menjadi salah satu alat transportasi yang saya gunakan untuk berangkat maupun pulang kerja,” ujar Windi, Rabu (14/1/2026).

Windi turut mengeluhkan fasilitas halte yang disediakan untuk penumpang Transjakarta. Bukan tanpa sebab, halte yang disediakan hanya berupa lapak antrean tanpa bangku dan penutup sehingga jauh dari rasa kenyamanan.

“Iya seperti ini, nunggunya di pinggir jalan, karena bukan halte pada umumnya yang ada penutup dan bangku,” jelas Windi.

Windi menilai, halte Transjakarta jauh dari kenyamanan terhadap penumpang. Penumpang Transjakarta selain mengikuti antrean, harus berjuang melawan rasa panas maupun ancaman hujan yang sewaktu-waktu datang secara dadakan.

“Cukup panas juga, kan tidak ada penutup, dapat dilihat sendiri ini kan halte dadakan atau halte yang dipaksakan,” ucap Windi.

Halte Transjakarta yang melayani rute Sawangan menuju Lebak Bulus perlu dilakukan evaluasi. Menurutnya, halte tanpa penutup dan jauh dari kata layak, tidak hanya di pintu exit Tol Sawangan, dapat ditemukan pula di pertigaan Parung Bingung.

“Di Halte Parung Bingung juga sama seperti di sini, tidak ada halte yang layak, jadi seperti kita menunggu angkot,” terang Windi.

Windi meminta, Pemerintah Kota Depok maupun Transjakarta dapat menyediakan halte yang layak untuk penumpang. Setidaknya tersedia halte penutup untuk menghindari penumpang dari terik matahari maupun saat terjadi hujan.

“Kalau bisa ada halte yang memadai, setidaknya ada halte tertutup meskipun tidak disediakan bangku,” ungkap Windi.

Hal yang sama turut dirasakan Mursyid (45) warga yang setiap harinya memanfaatkan Transjakarta. Mursyid harus rela kepanasan demi menaiki Transjakarta menuju tempat kerjanya.

“Kalau lagi panas bikin keringetan, kalau sudah keringetan, terkadang kita malu juga sama penumpang lain maupun teman kantor,” tutur pria yang tinggal di Rangkapan Jaya Baru.

Mursyid bersyukur keberadaan Transjakarta sebagai transportasi terintegrasi antara Jakarta dan Depok, memudahkannya beraktivitas. Namun pelayanan keberadaan halte perlu menjadi evaluasi untuk meningkatkan kenyamanan warga.

“Saya yakin, kalau fasilitas pelayanannya baik maka warga yang biasa menggunakan kendaraan pribadi akan beralih ke moda transportasi publik,” pungkas Mursyid.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner