Liputan6.com, Jakarta - Jalanan berdebu tebal cukup mengaburkan pandangan, ketika para jurnalis memasuki Desa Kaloi, Kecamatan Tamiang Hulu, Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Perkebunan sawit di sepanjang bahu jalan juga masih bernuansa monokrom, seakan turut berduka atas bencana banjir yang sempat menyapu wilayah tersebut. Bencana yang membuat sebagian besar masyarakat kehilangan tempat bernaung dan terpaksa harus berlindung di tempat pengungsian, selama berminggu-minggu.
Aceh Tamiang menjadi salah satu kabupaten yang terdampak banjir paling parah pada akhir November 2025. Bencana itu, disebut-sebut oleh masyarakat, lebih mencekam jika dibandingkan dengan tsunami yang terjadi pada tahun 2004.
Lumpur-lumpur menyisakan kerak. Hingga sulit dibersihkan. Rumah-rumah yang masih menyisakan garis batas banjir. Orang-orang di halaman ruko pasar masih sibuk berjibaku berupaya agar motornya bisa kembali menyala, setelah mesinnya mati selama hampir dua bulan.
Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Kamis (15/1), Aceh Tamiang menempati posisi keempat kabupaten terdampak bencana di Sumatera, dengan jumlah pengungsi paling tinggi, yakni 6.500 jiwa. Seperti dilansir Antara.
Tenda-tenda pengungsian hingga kini masih berdiri di sepanjang bantaran sungai, depan kantor bupati, hingga bahu-bahu jalan. Tenda yang menjadi saksi dahsyatnya air bah yang tak kenal ampun membawa air beserta kayu-kayu gelondongan.Gelombang yang membuat ribuan keluarga kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan barang berharga, termasuk nyawa orang-orang terdekat mereka.
Ini adalah kisah dari orang-orang baik yang membantu dengan hati demi menyembuhkan Aceh Tamiang.
Kisah Dokter Azmi
Rabu, 26 November 2025. Ketika banjir besar menerjang Kecamatan Tamiang Hulu, Azmi (34), seorang dokter umum yang sehari-hari berpraktik di Puskesmas Tamiang Hulu, terpaksa harus memindahkan tujuh pasien dari lantai satu ke lantai dua dengan peralatan seadanya.
Ketujuh pasien tersebut ada yang menderita penyakit jantung, stroke, hingga diabetes. Di tengah kekalutan pikiran karena terpisah dengan sang suami yang ketika bencana datang sedang bertugas di Banda Aceh, Azmi berusaha sekuat tenaga untuk membagi perannya sebagai seorang ibu, dokter, dan anak.
Saat bencana datang, dia sama sekali tidak bisa menghubungi keluarga di rumah. Di hari itu, Puskesmas Tamiang Hulu tengah merayakan acara Hari Guru Nasional yang bertepatan dengan hari Azmi menjalankan piket pelayanan. Terpisah dari anak, orang tua, dan suaminya, Azmi tetap berusaha menahan kegelisahannya, dengan tetap memberikan pelayanan maksimal kepada tujuh pasien itu.
Satu per satu, mereka dipindahkan dengan kursi roda dan kasur geret seadanya. Bahkan, beberapa pasien terpaksa harus dipapah dan digendong karena keterbatasan alat. Berbekal senter, sisa alkohol, dan sedikit obat-obatan yang sempat diselamatkan, Azmi melayani para korban yang terluka.
Puskesmas Tamiang Hulu sempat memindahkan pelayanan ke posko kesehatan darurat yang didirikan dekat dengan Kantor Kecamatan Kualasimpang karena lokasi yang terendam lumpur. Pasien yang datang dalam kondisi gawat darurat dan tidak bisa dilayani di posko, akan dialihkan ke posko kesehatan lain yang mampu melayani.
Meski sempat kehilangan jaringan internet, para dokter dan tenaga kesehatan akhirnya mendapatkan bantuan dari para relawan. Sehingga ketika jaringan sudah kembali normal, mereka memanfaatkan grup-grup WhatsApp untuk saling merujuk pasien yang membutuhkan layanan kegawatdaruratan.
Azmi merasa lega, setelah berhasil menghubungi keluarga dan mengetahui bahwa mereka baik-baik saja, meski tempat tinggalnya rusak berat.
"Perasaan saya campur aduk, sedih sekali, waktu itu. Gelisah setiap malam memikirkan bagaimana keadaan orang tua saya di sana, seperti apa kondisi anak saya, ingin sekali rasanya pulang dan memeluknya, tetapi keadaan sangat tidak mungkin. Bahkan, saya tidak sempat makan karena sibuk memindahkan pasien, hanya sempat makan pisang rebus sekali yang saya bawa dari rumah," katanya.
Dalam kondisi darurat, sebagian pasien terpaksa harus dipulangkan demi melindungi nyawa mereka. Selama enam hari, Azmi, beberapa tenaga kesehatan, dan Kepala Puskesmas Tamiang Hulu terjebak di fasilitas kesehatan penunjang yang terendam banjir dan lumpur itu. Mereka bertahan, tanpa listrik, jaringan internet, dengan asupan makanan yang amat terbatas. Berada di ambang batas antara bertahan hidup sambil menyelamatkan nyawa orang lain, Azmi meneguhkan hatinya demi bisa bertemu dengan keluarganya.
"Walaupun keadaan rumah porak-poranda, buat saya yang penting keluarga itu selamat. Sambil memikirkan rumah, di sini kami tetap melayani pasien berbekal senter handphone. Sambil gelap-gelapan, kami berusaha sekuat tenaga menyelamatkan nyawa pasien," ujar Azmi.
Menjadi "Superman"
Perasaan campur-aduk itu tak hanya dirasakan oleh Azmi. Kepala Puskesmas Tamiang Hulu Purwono juga harus berperan menjadi Superman yang dituntut serba bisa, ketika bencana datang. Ekspektasi tinggi masyarakat terhadap tenaga kesehatan membuatnya terus berupaya mendapatkan bantuan dari fasilitas kesehatan di luar Aceh Tamiang untuk merujuk mereka dengan kondisi yang gawat darurat.
Di tengah lumpur yang belum sepenuhnya mengering dan bau air banjir yang masih menyengat, Purwono menjalani hari-hari yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dia bertekad mengabdikan diri untuk masyarakat, berusaha tidak tumbang. Bahkan ketika dia sendiri ikut menjadi korban bencana.
Ketika banjir datang, sambil tetap mencarikan rujukan untuk pasien-pasien yang sebelumnya dirawat di Puskesmas Tamiang Hulu, Purwono juga harus mengantarkan anaknya yang berusia tujuh tahun untuk operasi usus buntu ke Rumah Sakit Umum Mahkota Bidadari di Medan, Sumatera Utara.
Hanya menggunakan sepeda motor, Purwono dan sang istri, serta anaknya yang diapit di tengah, menempuh perjalanan selama hampir dua jam menerjang jalanan yang masih dipenuhi lumpur tebal.
Banjir besar yang melanda wilayah Aceh Tamiang tak hanya merusak rumah warga, tetapi juga melumpuhkan sistem layanan kesehatan di tingkat paling dasar. Puskesmas Tamiang Hulu, yang menjadi tumpuan ribuan warga, hanya memiliki tiga dokter, yakni satu dokter umum dan dua dokter gigi, serta sekitar 90 staf. Hampir 95 persen dari seluruh staf puskesmas juga terdampak banjir.
“Semua staf kami korban. Rumah terendam, barang habis, keluarga juga terdampak,” kata Purwono.
Meskipun demikian, pelayanan tak bisa berhenti. Dengan kondisi serba terbatas, para tenaga kesehatan bergantian datang ke puskesmas, siapapun yang rumahnya lebih dulu bisa dibersihkan, atau yang lokasinya paling dekat.
“Pelayanan ini pelayanan dasar. Orang lagi kena musibah, sakit pula. Mau tidak mau kami harus tetap jalan,” ujarnya.
Hari-hari awal adalah masa paling berat. Selama hampir sepuluh hari, belum ada relawan kesehatan yang datang. Rujukan pasien gawat darurat pun menjadi tantangan besar, mengingat keterbatasan fasilitas dan akses. Purwono harus menghubungi rekan sejawat di luar Aceh Tamiang, berharap ada rumah sakit yang bersedia menerima pasien dalam kondisi darurat.
Harapan mulai tumbuh, ketika bantuan berdatangan. Alat-alat kesehatan dikirim oleh berbagai pihak. Kehadiran relawan, termasuk konten kreator Ferry Irwandi dan Agam Rinjani yang menjadikan area sekitar puskesmas sebagai posko, menjadi titik balik.
Mereka, bahkan menginap di rumah Purwono. Bersih-bersih puskesmas dibantu oleh relawan, Wanadri, prajurit TNI, dan pemadam kebakaran. Prosesnya hampir tiga hari.
Empat Hari Bertahan di Atap Rumah
Jika Purwono berjuang menjaga sistem tetap hidup, Vika (30), seorang tenaga kesehatan, berjuang mempertahankan hidup keluarganya sendiri. Bersama 37 orang lainnya, ia bertahan di atas atap rumah selama empat hari, tanpa makanan yang layak. Delapan bayi berada di antara mereka.
Untuk kebutuhan makan dilempar, nasi dibungkus dengan plastik, dibagi-bagi. Orang-orang yang dewasa tidak makan karena mementingkan anal-anak, khususnya bayi yang harus mendapat asupan.
Air bersih tak tersedia. Bayi-bayi mulai lemah dan menangis, tanpa henti. Dalam kondisi itu, Vika mengaku sudah pasrah.
Dia berpikir, kalau memang tidak bisa bertahan, nyawanya siap diambil oleh Allah.
Sebagai ibu menyusui, Vika juga mengalami luka di puting payudaranya karena bayinya yang berusia lima bulan terus menggigit, tanpa asupan makanan lain. Luka itu, bahkan tak sempat ia rasakan, tertutup rasa panik dan kelelahan.
Ancaman ISPA
Ancaman pascabanjir pun mengintai. Penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), luka terbuka, dan penyakit menular mulai bermunculan. Pahala Sinaga (43) adalah salah satunya. Kaki kanannya tertusuk paku, saat membersihkan lumpur di rumahnya. Paku itu tersembunyi di balik endapan banjir, sedangkan kaki kirinya sudah cacat sejak lama.
Dia sempat datang ke puskesmas, namun perban belum tersedia. “Waktu itu cuma dikasih obat,” katanya.
Beban Pahala tak berhenti di situ. Kontrakan miliknya di tepi sungai hanyut terbawa banjir. Penyewa meminta ganti rugi setengah tahun sewa yang sudah dibayarkan.
Sementara itu, Sartini (45) datang membawa dua anaknya, yakni Abrina (3) dan Yusuf (5) yang mengalami batuk tak kunjung sembuh selama dua pekan. Ia sendiri merasakan kebas di kedua tangannya. Gejala-gejala pascabanjir seperti ini terus berdatangan, sementara bantuan dana tunggu hunian rumah dari pemerintah masih dalam tahap pendataan di tingkat desa.
Di tengah semua keterbatasan itu, tenaga kesehatan di Aceh Tamiang tetap berdiri. Dengan tubuh lelah, rumah rusak, dan trauma yang belum pulih, mereka menjalani peran ganda: sebagai korban, sekaligus penolong.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang dr Mustakim mengatakan sebanyak 1.253 tenaga kesehatan tetap memberikan pelayanan dengan dukungan Kemenkes, TNI-Polri, lembaga swadaya masyarakat (LSM), serta organisasi profesi, seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) hingga BUMN/BUMD.
Bencana memang tak pernah menyisakan apa-apa, selain luka dan trauma berkepanjangan. Resiliensi dari tangan-tangan kecil para tenaga kesehatan yang setiap hari berjuang menyembuhkan warga Aceh Tamiang menjadi bukti bahwa setiap pengorbanan akan selalu menjadi obat yang menyembuhkan.

2 days ago
11
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5475998/original/040892300_1768704938-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5476142/original/031022700_1768713983-WhatsApp_Image_2026-01-18_at_12.09.03.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5475935/original/081315100_1768698227-115771.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5197520/original/095088500_1745476635-IMG-20250424-WA0038.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5475789/original/083728200_1768652285-113192.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5475854/original/014289600_1768664377-114456.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5475808/original/013591300_1768655186-1001517114.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5475712/original/031976200_1768643673-WhatsApp_Image_2026-01-17_at_4.47.01_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5475396/original/026212900_1768612429-penanganan_tunawisma_oleh_Pemkot_Bandung.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5475393/original/032929300_1768609976-longsoran_di_jalur_pendakian_Gunung_Papandayan_Garut.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5475382/original/082208500_1768606012-IMG_1814_Buaya_Karang_Anyar_Menyisakan_Duka_Nuriman_Tak_Pulang_Pencarian_Dihentikan.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2982506/original/051530500_1575123274-BORGOL-Ridlo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5475249/original/075022200_1768559374-Jenazah_warga_Pati_dibawa_menggunakan_perahu_menuju_pemakaman.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5475190/original/073855700_1768554990-TPA_Benowo_mengubah_sampah_menjadi_energi_listrik.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5474932/original/001941000_1768544185-1000922422.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5475032/original/094385000_1768548144-Pemuda_meninggal_saat_balap_liar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5475071/original/079119100_1768549321-WhatsApp_Image_2026-01-16_at_14.36.03.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5474935/original/085265600_1768544421-106043.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5449331/original/009128300_1766054298-1000846788.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5418052/original/003419900_1763573564-longsor_di_sukabumi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5406943/original/047368300_1762652163-DISHUB_PERIKSA_KONDISI_TRUK.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5413852/original/010084600_1763203332-IMG_8060__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5405402/original/021689900_1762479257-pegiat_lingkungan.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5409124/original/090705800_1762847004-1001169628.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5426036/original/098950800_1764250071-Mendagri.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5365736/original/041722900_1759205212-IMG-20250930-WA0037.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2913252/original/006053400_1568693352-WhatsApp_Image_2019-09-17_at_10.57.35_AM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5276590/original/081825200_1751957181-20250708-Banjir-ANg_11.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448059/original/065762900_1765978898-Bengkel_motor_Fausul_di_Pulau_Mandangin.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5447862/original/001021800_1765966130-Batu_Nusuk.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448567/original/067225600_1766033308-1000630000.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3977999/original/017889900_1648530540-PMI.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448872/original/089550000_1766041751-IMG_20251218_112507_767.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448993/original/011330600_1766044717-IMG-20251217-WA0381.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5418155/original/099953500_1763607580-Tangkapan_Layar_Video_Pelajar_Jatuh.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5449346/original/079160500_1766055185-Kepala_Bulog_Kalteng_Budi_Sultika.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5449480/original/029142300_1766063506-Ayah_Prada_Lucky_Namo__Pelda_Chrestian_Namo.png)