Kasus Korupsi Berjemaah, Ketua DPRD NTB Mengaku Diteror Foto Deepfake

3 hours ago 2

Liputan6.com, Mataram - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) NTB, Baiq Isvie Rupaeda mengaku kerap mendapat ancaman dan teror perihal dana siluman berjumlah Rp59,8 miliar.

Hal itu diungkapkan Isvie saat diperiksa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Mataram, Kamis 16 April 2026. Dia mengatakan, sejak kasus dugaan korupsi ini mencuat, dia sering mendapat ancaman dan teror dari orang yang tak dikenal.

"Saya sering dapat ancaman. Sedangkan saya tidak tau apa-apa soal pembagian uang ini," kata Isvie di hadapan Hakim Dewi Santini.

Dalam persidangan tersebut, Isvie yang juga politisi partai Golkar ini mengatakan bahwa ia mengetahui ada pergeseran uang dari salah seorang anggota DPRD, Partai Nasdem, Lalu Arif Rahman Hakim.

Yang mana, kata dia, sesaat setelah salah seorang terdakwa yaitu Indra Jaya Usman (IJU) menyerahkan uang sejumlah Rp200 juta, lalu Arif pergi ke kediaman Isvie untuk mengembalikan uang tersebut.

"Lalu Arif bilang ke saya kalau dia dikasi uang oleh IJU. Dan dia bilang akan kembalikan uang itu, tetapi nomornya IJU tidak aktif atau tidak bisa dihubungi," kata Isvie.

Dari situlah Isvie mengaku mengetahui tentang adanya pergeseran uang ke dari program desa berdaya. Sementara terkait belasan anggota dewan yang menerima uang, Isvie mengaku mendapat informasi itu dari media.

"Saya tahu dari media bahwa belasan anggota dewan mengembalikan uang ke kejaksaan," kata Isvie.

Dihubungi terpisah, Isvie mengaku mengalami tekanan psikologis berupa teror mental yang diduga diterimanya melalui perangkat telepon seluler.

Isvie menyebut bentuk teror tersebut bukan ancaman fisik, melainkan gangguan yang menyerang secara mental. Ia bahkan mengaku sempat mematikan ponselnya sebagai respons atas gangguan yang diterima.

“Ya dari hape, makanya saya matikan,” ujarnya singkat.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa bentuk teror yang dialaminya berupa manipulasi visual terhadap wajahnya yang diubah menjadi berbagai bentuk. Praktik ini diduga menyerupai teknologi rekayasa digital atau deepfake yang belakangan marak digunakan untuk menyerang individu secara personal.

Meski demikian, Isvie tidak merinci siapa pelaku di balik teror tersebut. Ia juga memastikan tidak ada ancaman fisik maupun indikasi pemerasan yang menyertainya.

Terkait motif, Isvie mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab dirinya menjadi sasaran. Namun, ia menduga hal tersebut kemungkinan berkaitan dengan isu “dana siluman” yang sempat ramai diperbincangkan sebelumnya.

“Ya saya tidak tahu, mungkin terkait dana siluman. Saat ramai-ramai dulu,” ungkapnya.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner