Tradisi Ma'bello Jemaah Haji Asal Sidrap Tahun Ini Berbeda

6 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Kepulangan jemaah haji asal Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan tahun ini kembali diwarnai tradisi Ma'bello, yakni berhias dan mengenakan pakaian terbaik dan perhiasan emas sebelum bertemu keluarga di kampung halaman.

Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif mengatakan, para jemaah yang tiba dari Tanah Suci tidak langsung pulang ke daerah. Setelah menjalani proses kedatangan di Asrama Haji Debarkasi Makassar, mereka singgah terlebih dahulu di Kabupaten Maros untuk mempersiapkan diri mengikuti tradisi khas masyarakat Bugis.

"Biasanya di pesawat mereka ma'bello atau merias sendiri. Tapi kali ini kebijakannya supaya seragam dulu semuanya menggunakan pakaian haji. Nanti singgah di Maros untuk ma'bello atau merias menggunakan pakaian ala orang Sidrap," kata Syaharuddin, Selasa (2/6/2026).

Menurutnya, tradisi ma'bello menjadi momen yang selalu dinantikan para jemaah haji. Mereka mengenakan busana terbaik lengkap dengan berbagai aksesori dan perhiasan emas sebelum bertemu keluarga yang telah menunggu kepulangan mereka.

"Pakaian dandan yang bagus karena sudah ditunggu seluruh keluarganya di Sidrap. Biasanya khasnya emasnya yang banyak," ujarnya.

Setelah menjalani prosesi tersebut, para jemaah dijadwalkan mengikuti penyambutan resmi di Rumah Jabatan Bupati Sidrap sekira pukul 16.00 Wita sebelum kembali ke rumah masing-masing.

Pada pemulangan gelombang pertama ini, sebanyak 387 jemaah haji Sidrap tiba dengan satu pesawat dan satu kloter yang seluruh penumpangnya berasal dari Sidrap. Namun masih ada satu kloter lagi yang akan menyusul pulang ke Tanah Air.

"Alhamdulillah ini full satu pesawat, satu kloter semuanya Sidrap. Masih ada lagi satu kloter berikutnya karena Sidrap tahun ini memberangkatkan 786 jemaah haji," ungkap Syaharuddin.

Dia menyebut, peningkatan jumlah jemaah haji yang berangkat tahun ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang berdampak pada bertambahnya kuota keberangkatan. Sidrap yang selama ini dikenal memiliki masa tunggu haji hingga 49 tahun kini berkurang menjadi sekitar 26 tahun.

"Sidrap dikenal sebagai daerah yang paling panjang antrean hajinya, sampai 49 tahun. Tapi karena kebijakan yang sangat bagus ini akhirnya kami bisa memberangkatkan hampir 800 jemaah. Mudah-mudahan tahun 2027 lebih banyak lagi," katanya.

Selain menyoroti tradisi ma'bello, Syaharuddin juga mengapresiasi pelayanan haji tahun 2026 yang dinilai jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Menurut informasi yang diterimanya dari para jemaah, pelayanan selama berada di Makkah, Madinah, hingga Jeddah berlangsung lancar tanpa keluhan berarti.

"Proses pelayanan tahun ini sangat berbeda, sangat bagus. Baik saat pelaksanaan haji di Makkah, Madinah maupun Jeddah. Tidak ada sama sekali keluhan. Tiba di bandara dan Asrama Haji Debarkasi Makassar juga cepat, taktis dan semuanya merasa puas," tuturnya.

Dari total jemaah yang pulang pada kloter pertama, satu orang lanjut usia harus mendapatkan penanganan medis setelah tiba di Makassar. Jemaah tersebut langsung dirujuk ke Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo untuk menjalani observasi lebih lanjut.

"Ada satu orang yang sakit karena faktor usia lanjut. Begitu turun dari pesawat langsung ditangani dan dibawa untuk observasi di Rumah Sakit Wahidin," jelasnya.

Sementara itu, satu jemaah asal Sidrap masih menjalani perawatan di Makkah dan akan dipulangkan setelah kondisi kesehatannya memungkinkan.

Tingginya minat masyarakat Sidrap untuk menunaikan ibadah haji juga terus terlihat. Syaharuddin mengungkapkan, berdasarkan data yang diterimanya, hanya dalam kurun Januari hingga Mei 2026, sekitar 1.600 warga telah mendaftar haji melalui satu bank daerah. Angka tersebut belum termasuk pendaftar melalui bank lain.

"Animo masyarakat Sidrap untuk mendaftar haji sangat tinggi. Masih ada kurang lebih 10 ribu orang dalam daftar tunggu yang belum berangkat," katanya.

Menurut Syaharuddin, tingginya minat berhaji tersebut sejalan dengan meningkatnya produktivitas sektor pertanian dan pertumbuhan ekonomi daerah yang mencapai 7,7 persen.

"Alhamdulillah produktivitas pertanian meningkat, pertumbuhan ekonomi juga naik. Itu membuat kemampuan masyarakat untuk mendaftar dan berangkat haji semakin tinggi," pungkasnya.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner