Puluhan Siswa di Penajam Paser Kaltim Alami Mual dan Muntah-Muntah Usai Santap MBG

23 hours ago 3

Teka-teki penyebab tumbangnya puluhan siswa SDN 008 Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur usai menyantap paket Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menemui titik terang. Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) PPU menemukan fakta bahwa ada makanan dari luar dapur dalam menu hari itu, yakni puding yang diambil dari pihak luar, bukan diolah sendiri oleh dapur resmi.

Kepala Disdikpora PPU, Andi Singkerru, tidak menyembunyikan kekecewaannya saat mengungkap temuan ini. Ia menyebut kecerobohan dalam menjaga sterilitas makanan menjadi pemicu utama anak-anak mengalami gejala keracunan.

"Ternyata SPPG kita ini ada yang ambil menu dari luar, itu tadi puding. Padahal aturannya jelas, kalau mau ambil dari luar itu harus yang kemasan pabrik, steril, dan ada tanggal kedaluwarsanya. Contohnya kayak susu atau air mineral yang memang tertutup rapat," kata Andi, Rabu (11/2/2026).

Celakanya, puding yang dibagikan tersebut diduga kuat tidak memenuhi standar keamanan pangan. Kondisi fisik makanan yang tidak terjamin kesterilannya disinyalir menjadi pemicu mual dan muntah yang menyerang pencernaan siswa secara mendadak.

"Begitu anak-anak konsumsi, langsung kejadian (keracunan). Ini kemungkinan besar karena kurang steril. Harusnya bahan-bahan itu diolah sendiri, dimasak sendiri di dapur SPPG, baru dibagikan," tambahnya.

Geram dengan temuan tersebut, Andi mengaku langsung mendatangi kantor SPPG wilayah Waru sesaat setelah menjenguk para siswa di puskesmas. Di hadapan Kadisdik, pengelola SPPG mengakui bahwa mereka memang membeli puding siap saji dari masyarakat untuk melengkapi menu MBG.

"Mereka sudah membenarkan. Saya sampaikan, ini evaluasi besar. Jangan main-main dengan urusan perut anak sekolah," tegasnya lagi.

Menariknya, meski seluruh siswa mengonsumsi menu yang sama, tidak semua anak tumbang. Andi menjelaskan bahwa faktor daya tahan tubuh masing-masing anak memegang peranan penting dalam insiden ini. Hal inilah yang menjelaskan mengapa di jenjang SMA hanya satu orang yang terdampak, sementara di tingkat SD mencapai 25 anak.

"Kondisi fisik anak-anak kita kan beda-beda, tidak sama daya tahannya. Semuanya makan, tapi ada yang kuat, ada yang langsung bereaksi. Apalagi anak SD, mereka lebih rentan kalau kena makanan yang tidak steril sedikit saja," tutup Andi.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner