Liputan6.com, Jakarta - Angin laut berembus bersama gelombang Laut Arafura ketika Hamzah memeriksa layar monitor kecil di ruang operator PLTS Terpadu di Desa Ujir. Meski awalnya tidak tahu pasti apa arti Desa Ujir, namun pemuda 32 tahun asal Jakarta ini bisa melihat besarnya harapan dan potensi dari sebuah pulau kecil di ujung Maluku ini.
Di Desa Ujir hanya ada 1 sekolah dasar, 1 PAUD, 1 puskesmas kecil, dan 1 rumah ibadah berupa masjid. Akses untuk ke tempat ini pun juga bisa dibilang sulit. Namun pada akhirnya, keputusan Hamzah meninggalkan Jakarta ke pulau kecil di bagian Timur Indonesia ini tidak sia-sia.
Desa Ujir terletak di Pulau Ujir, sebuah pulau kecil di Laut Arafura. Untuk menuju desa tersebut, dari Kota Ambon, perlu melewati Dobo, ibu kota Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku, dengan pesawat atau kapal lagi. Baru setelah itu harus naik speedboat selama kurang lebih 3 jam untuk menembus Laut Arafura dengan gelombang ombak yang tidak mudah untuk diarungi.
Tidak setiap hari ada speedboat yang bersedia mengantar dari Dobo sampai ke Desa Ujir, apalagi jika kondisi gelombang sedang tinggi. Tidak ada jalur darat. Bahkan ketika sampai di lokasi, tidak akan ditemukan jaringan PLN.
Selama puluhan tahun, setiap malam warga Ujir tidak memiliki banyak pilihan sebagai sumber penerangan. Mereka hanya memiliki lampu yang perlu dinyalakan dengan genset atau lampu pelita yang yang terbuat dari botol dengan bahan bakar minyak dan sumbu kapas. Sampai Februari 2026, harapan kembali menyala.
Penasaran dengan Kampung Asal Neneknya
Hamzah tumbuh di Jakarta. Sejak kecil ia hanya tahu satu fakta tentang asal-usul keluarganya, yakni bahwa neneknya dari suatu tempat bernama Ujir. Di mana itu? Ia pernah mencarinya di Google. Namun yang muncul justru Ujire, sebuah desa di India.
“Motivasinya pertamanya penasaran kampung nenek ini gimana? Cuma dengarnya aja kalau dulu enggak tahu Maluku malah. Tahunya Ambon. Kampung Nenek di Ambon. Di mana? Di Ujir. Ujir itu mana? Sampai cari di map enggak nemu. Karena kecil kan,” ungkap Hamzah, saat ditemui Liputan6.com di desa Ujir, Jumat (13/3/2026).
Nenek Hamzah meninggalkan Ujir menuju Jakarta sekitar tahun 1950-an, dan wafat di sana tanpa pernah kembali. Namun tautan darah itu tak putus. Pada 2023, Hamzah akhirnya ikut kakak sepupunya yang sudah menikah dan menetap di Ujir sejak 2014. Pada saat itu untuk pertama kali, Hamzah menjejakkan kaki di kampung leluhurnya.
Semula ia datang hanya untuk menemani. Tapi suasana desa pesisir yang tenang, jauh dari hiruk pikuk ibu kota, membuatnya betah. Dalam hitungan bulan, Hamzah memutuskan untuk pindah dan mendaftarkan diri sebagai warga Desa Ujir.
Selama tiga tahun pertama di Ujir, Hamzah menjalani kehidupan sebagai warga biasa. Ia ikut kakak iparnya melaut, memasang rawai (longline fishing) untuk menangkap ikan di dasar laut. Ia juga mencoba bertani cabai.
Nama Hamzah masuk ke radar Kepala Desa Abu Walay ketika tim survei dari Kementerian ESDM tiba di Ujir. Hamzah sebelumnya sekolah di SMK jurusan otomotif, pernah bekerja jadi teknisi AC di Jakarta. Bagi kepala desa, Hamzah adalah pilihan yang paling tepat untuk dijadikan kandidat operator PLTS.
“Jadi memang saya sangat bersyukur bahwa Pak Hamzah ini kan artinya ada wawasan yang sedikit di situ. Jadi kalau menurut saya itu kan yang terbaik lah. Kalau warga desa ini kan kalau mau hadapi barang-barang begini kayaknya enggak bisa,” kata Kepala Desa Ujir Abu Walay pada Liputan6.com.
Pada 3 Desember 2025, Hamzah dikirim ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan dan sertifikasi dari Kementerian ESDM sebagai operator PLTS terpadu. Inilah awal mula perjalanan Hamzah hingga pada akhirnya menjadi operator PLTS di Desa Ujir.
26 Tahun Mengharapkan Pembangkir Listrik Layak
Permintaan masyarakat Ujir akan listrik yang layak sudah bergaung sejak tahun 2000. Dua puluh enam tahun sebelum PLTS terpadu ini akhirnya berdiri. Dua kali sebelumnya pemerintah mencoba pada 2017 dan 2019, panel surya kecil dipasang di masing-masing rumah.
“Iya, tenaga surya yang pertama dulu kan seperti ini yang kecil. Dibagi itu per orang di rumah. Kan lewat aki, terus ada bantuan lewat aki lagi, kayak senter kan,” kata Pegy Baubesy, warga Desa Ujir pada Liputan6.com, Jumat (13/3/2026).
Pegy Baubesy, seorang ibu rumah tangga, masih ingat betul bagaimana ia menyalakan lampu pelita yang terbuat dari botol dan sumbu kapas, sebelum PLTS terpadu ini hadir. Bagi anak-anaknya, belajar di malam hari sama artinya dengan memelototi buku di bawah nyala api kecil yang bisa padam kapan saja ketika tertiup angin. Namun, upaya menghadirkan listrik lewat panel surya padam bersama rusaknya peralatan.
Pada Februari 2026, PLTS Terpadu Desa Ujir beroperasi dengan kapasitas 64,35 kilowatt-peak (kWp). Sistem ini menjangkau sekitar 150 rumah ditambah fasilitas umum, termasuk sekolah dasar, PAUD, puskesmas, masjid, rumah bidan, dan rumah adat.
PLTS Terpadu Desa Ujir ini merupakan program pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM. Survei sudah mulai dilakukan sejak 2022–2023 sebelum akhirnya dikerjakan pada awal 2026. Per 6 Februari 2026, instalasi masih dalam tahap penyelesaian dan dalam fase uji coba selama enam bulan. Dalam fase uji coba ini saat ini listrik beroperasi selama 12 jam, dari pukul 17.00 hingga 05.00. Nantinya setelah dase uji coba selesai, listrik akan menyala selama 24 jam penuh.
Rasa Syukur dan Harapan di Masa Depan
Dengan hadirnya PLTS Terpadu di Desa Ujir, setiap rumah mendapat daya 600 watt. Ini cukup untuk menyalakan beberapa perangkat elektronik ringan secara bersamaan, misalnya 4 lampu LED, sebuah kipas angin, televisi, laptop, dan 2 charger ponsel. Daya sebesar itu pasti tidak kuat jika ada perangkat berdaya besar seperti rice cooker atau setrika yang ikut dinyalakan.
Aril, seorang siswa sekolah dasar di Desa Ujir, menyambut kehadiran PLTS dengan kegembiraan anak-anak pada umumnya.
“Senang karena akhirnya di kampung ada PLTS, listriknya jadi nyala bisa belajar, main game, nonton TikTok,” kata Aril, siswa SD Desa Ujir.
Sementara itu, fasilitas publik seperti masjid, puskesmas, dan kantor desa masing-masing mendapat 2.000 watt. Sebelum ada PLTS, puskesmas dua lantai di desa tersebut beroperasi tanpa listrik stabil, hanya mengandalkan genset yang dinyalakan di waktu-waktu tertentu. Dampaknya, masyarakat yang datang ke Puskesmas hanya mendapatkan penanganan medis yang sangat terbatas.
Mereka hanya ditangani dengan diperiksa berdasarkan gejalanya kemudian diberi obat. Warga Desa Ujir bahkan harus mengarungi laut Arafura dengan speedboat untuk bisa mendapatkan penanganan medis yang lebih layak di rumah sakit yang ada Dobo ketika terjangkit penyakit atau kondisi medis yang butuh penanganan serius.
Rumah dokter saja baru pertama kali mendapat aliran listrik bersama proyek ini. Masjid yang membutuhkan daya listrik untuk menyalakan lampu dan sound system, selama ini membeli dua drum minyak per bulan untuk mesin genset.
Kepala Desa Abu Walay menceritakan, dengan PLTS ini, datang pula dua unit freezer dari pemerintah, yang diharapkan dapat meningkatkan ekonomi warga. Satu freezer ditempatkan di ruang PLTS. Namun karena keterbatasan ruang, satu lainnya diletakkan di rumah kepala desa.
Es batu yang dihasilkan nantinya dijual ke warga dengan harga Rp4.000. Harga itu sengaja dipatok lebih murah dari harga pasar Rp5.000, dan hasil penjualannya dibagi dua antara pengelola PLTS dan pemilik freezer.
Ini bukan bisnis besar. Tapi ini adalah benih. Ahet Selayar, seorang nelayan yang juga aktif dalam proses pembangunan PLTS, mencatat bahwa para nelayan pun sudah merasakan manfaat awalnya. Mereka bisa mengisi daya senter yang biasa mereka gunakan sebagai penerangan ketika melaut mencari ikan.
“Lumayan membantu, nelayan juga ikut terbantu. Kebutuhan mau ke laut, senter bisa diaktifkan karena bisa charge,” ungkapnya.
Potensi yang lebih besar menunggu di depan mata. Karena masih masa uji coba enam bulan, kapasitas sistem yang dipakai hanya sekitar 15–20 persen dari total produksi harian.
Kelak akan ada instalasi tambahan yang dipasang untuk membatasi penggunaan daya listrik, supaya tetap ada cadangan daya ketika terjadi cuaca buruk dan panel surya tidak dapat mengisi daya secara optimal. Selain itu, langkah ini juga diharapkan dapat memperpanjang usia baterai.
“Kayaknya kalau semisal setelah 6 bulan berlalu dan memang dayanya cukup akan membantu ekonomi masyarakat,” kata Pegy Baubesy.
'Harap-Harap Tuhan dan Alam yang Menjaga'
Desa Ujir merupakan salah satu desa di Kepulauan Aru yang baru saja merasakan sumber listrik yang layak. Tidak jauh dari sana, terdapat Desa Samang, yang telah merasakan PLTS terpadu lebih dulu.
Bupati Kepulauan Aru Timotius Kaidel, dalam wawancara di kantor bupati pada Selasa (10/3/2026), mengakui bahwa ada 7–8 lokasi di wilayahnya yang pernah mendapat instalasi PLTS dari pemerintah pusat, dan sebagian besar hanya bertahan sekitar dua bulan sebelum terbengkalai.
“Bangun selesai ya, target 2 bulan sudah tidak ada lagi itu. Jadi vendor yang mengerjakan mungkin ESDM itu mengerjakan. Pembangkit sudah pasang, dokumentasi, cek lapangan. Sudah, dokumentasi selesai clear. Harap-harap Tuhan dan alam yang menjaga,” ungkapnya pada Liputan6.com.
Pola yang terulang itu memiliki akar masalah yang sama, yakni tidak ada SDM lokal yang terlatih, tidak ada anggaran pemeliharaan, dan tidak ada sistem operasional yang berkelanjutan. Setelah serah terima, proyek menjadi tanggung jawab pemerintah desa, yang rata-rata tidak punya kapasitas teknis maupun finansial untuk merawatnya.
BAPPEDA Kabupaten Kepulauan Aru sempat kami hubungi untuk dimintai keterangan terkait perencanaan pembangunan PLTS terpadu di Desa Ujir. Namun mereka menolak wawancara lebih lanjut dan hanya menerangkan bahwa itu adalah program pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM.
Penantian warga Desa Ujir akan pembangkit listrik yang layak akhirnya menjumpai titik terang. Pada 2022-2023, tim survei dari Dinas ESDM Provinsi turun langsung ke lapangan untuk memahami kebutuhan warga. Ini merupakan bagian dari program elektrifikasi nasional yang menargetkan rasio elektrifikasi 100 persen pada 2029–2030, dengan wilayah 3T seperti Kepulauan Aru sebagai prioritas utama.
Kisah Desa Ujir adalah satu dari sekian cerita yang dihimpun dalam Low Carbon Development Initiative (LCDI) Programme, sebuah program kerja sama antara Pemerintah Indonesia (Bappenas) dan Pemerintah Inggris. Program ini menjadi bukti bahwa transisi energi bersih bukan sekadar agenda, melainkah langkah nyata, dan ia menyala di pulau-pulau kecil yang selama ini luput dari perhatian.
Sementara itu, untuk mengatasi masalah pengelolaan, dipersiapkan SDM lokal sebagai operator PLTS terpadu ini. Pada 3 Desember 2025, Hamzah dikirim ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan dan sertifikasi dari Kementerian ESDM selama kurang lebih satu minggu.
“Nah, untuk pelatihan ini semua dari ESDM. Tiap desa itu dua operator berangkat sama-sama,” kenang Hamzah tentang perjalanannya ke Jakarta.
Hamzah tidak berangkat ke Jakarta sendirian. Dia ditemani oleh Ardin yang dikenal sebagai orang yang sangat aktif dalam setiap kegiatan warga, karakter yang dianggap cocok untuk tugas operator yang menuntut kesiagaan. Selain itu, ia memiliki kemampuan yang cepat mempelajari hal baru secara otodidak, meski latar belakang pendidikannya SMA.
Mereka berbagi tugas, Hamzah fokus di power house dan sistem elektronik, sementara Ardin menangani jaringan distribusi dan penarikan kabel. Perlu diketahui bahwa sistem PLTS yang terpasang di Ujir menggunakan merek Sunny 3 Power dengan empat cluster, berbeda dari perangkat yang digunakan selama pelatihan. Materi pelatihan lebih banyak membahas sistem lama merek Growth, sehingga Hamzah harus beradaptasi mandiri.
“Ngulik sendiri tiap malam kira-kira di sistem ini kendala apa aja? Ya biasa pakai AI aja cari-cari,” ungkapnya.
Setiap malam, di pulau yang baru saja mendapat akses listrik, Hamzah memanfaatkan koneksi internet yang sudah masuk ke desa untuk mempelajari sistem yang ia operasikan. Tugas hariannya antara lain memeriksa kondisi pengisian baterai, memastikan tidak ada koneksi yang longgar atau terbakar, dan memantau grafik produksi harian melalui platform monitoring berbasis web.
Sejauh ini, belum ada gangguan besar yang terjadi. Satu-satunya kendala adalah koneksi internet yang sesekali lambat untuk mengirim data ke server monitoring, namun operasional listrik untuk warga tetap berjalan aman.
Hamzah dan Ardin adalah wujud nyata dari pelajaran pahit sebelumnya, bahwa pembangkit listrik tanpa manusia yang merawatnya hanyalah bangkai besi. Kepala Desa Abu Walay bahkan sudah meminta seorang warga lain untuk belajar dari Hamzah, sebagai cadangan jika operator utama berhalangan.
Kekhawatiran yang Perlu Didengar
Warga Desa Ujir tampak sangat menyambut baik pembangunan PLTS terpadu ini. Bahkan mereka turut bergotong royong untuk membantu pembangunan ruang operator, pondasi tiang listrik, hingga mengulur kabel untuk mengalirkan listrik ke rumah-rumah.
Namun di balik antusiasme itu, warga tetap menyimpan kegelisahan. Beberapa warga mengungkapkan kegelisahan tersebut saat ditemui pada Jumat (13/3/2026).
Ahet Selayar, nelayan yang ikut terlibat dalam proses pembangunan, mengungkapkan kekhawatiran soal konstruksi tiang panel yang dinilai kurang kokoh untuk menghadapi cuaca ekstrem khas kepulauan seperti angin kencang, hujan deras, dan ancaman banjir.
“Khawatirnya masih ada kabel ada tanam di dalam kan? Saya lihat begitu, khawatir konstruksinya tidak terlalu bagus,” ia mengeluhkan.
Pegy Baubesy menambahkan kekhawatiran soal pondasi tiang yang mungkin tidak cukup dalam, sehingga berpotensi miring atau roboh jika ada aliran air dari hujan deras. Warga perempuan juga menyoroti minimnya pelibatan mereka dalam proses sosialisasi, sebuah catatan penting mengingat merekalah yang paling banyak berada di rumah dan langsung merasakan dampak kehadiran listrik.
Misi Remlein, seorang petani, menyuarakan apa yang mungkin ada di benak banyak orang di sana.
“Cuma pasang habis langsung pulang, jadi, kami ini memang buta. Kalau bisa dipermanenkan lagi artinya pondasinya ini. Supaya apa kelihatannya itu bagus, berarti barang kan berumur artinya tahan lama,” usulnya.
Harapan yang Tidak Boleh Padam Lagi
Kalsum Tupan, seorang ibu rumah tangga di Desa Ujir merangkum mimpi sederhana yang dimiliki hampir semua warga Desa Ujir dalam satu kalimat yang mengena.
“Harapan ke depan cuma ingin ini terus menyala sampai 10 tahun, 20 tahun kemudian. Supaya bisa terang karena kampung sudah lama gelap,” dia berharap.
Bupati Timotius Kaidel menargetkan elektrifikasi 80 persen di wilayahnya dalam periode lima tahun ini, dengan 11 titik yang sudah diusulkan ke Kementerian ESDM untuk mendapat instalasi serupa. Pemerintah pusat menargetkan seluruh Indonesia bebas dari kegelapan pada 2029.
Namun target nasional itu hanya akan bermakna jika setelah fasilitas selesai dibangun jika dipersiapkan sistem operasional yang berkelanjutan. Bupati sendiri mengakui bahwa solusi jangka panjang bukan ada di pundak pemerintah desa, melainkan di tangan BUMN atau swasta yang bersedia masuk dan mengelola pembangkit ini secara profesional. Keberadaan PLTS Ujir seharusnya bisa menjadi daya tarik bagi investor industri perikanan yang selama ini belum menjangkau kepulauan kecil seperti ini.
Hamzah, yang kini berencana membangun rumah lalu membawa ibunya dari Jakarta untuk tinggal di Desa Ujir, punya pandangan sederhana tentang semua ini. Ia datang karena penasaran dengan tempat neneknya berasal. Dan ia tinggal karena menemukan sesuatu yang tidak ia temukan di kota besar manapun.
“Lihat di sini enak suasananya enak, apanya semuanya enak. Emang gimana ya, kalau fasilitas jauh sama Jakarta. Tapi buat suasana tenang. Jauh dari hiruk pikuk,” katanya menjelaskan pilihannya.
Di ruang operator yang sederhana, dengan monitor kecil, empat cluster baterai, dan suara mesin inverter yang berdengung pelan, pemuda asal Jakarta itu setiap hari menjaga nyala cahaya bagi warga Desa Ujir yang sudah menunggu lebih dari seperempat abad. Kampung nenek yang dulu ia cari di peta dan tidak ketemu, sekarang ia menjadi bagian yang menjaganya agar tidak pernah gelap lagi.

4 hours ago
1
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537841/original/020270100_1774468938-IMG_20260313_113512_559.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537845/original/084391400_1774479606-1001117906.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537811/original/081707600_1774445737-Sampah_berserakan_di_Kota_Semarang.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537792/original/025502000_1774443089-14_rumah_di_Manado_terbakar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537788/original/009134900_1774442764-Foto-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4405183/original/060918700_1682326798-IMG_20230424_121639.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537770/original/027309500_1774439553-Hendrik_Irawan_MBG.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537663/original/094989700_1774432200-279365.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537634/original/073757100_1774429995-Komisaris_PT_Pertamina_Hasan_Nasbi_mengunjungi_kediaman_Presiden_ke-7_RI_Joko_Widodo..jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537605/original/044126500_1774428572-Orang_utan_di_pusat_rehabilitasi.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537597/original/063023000_1774428170-Polisi_membantu_pemudik_yang_kehabisan_BBM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537442/original/073907600_1774423968-Ratusan_pelayat_dari_berbagai_kalangan_memadati_halaman_GOR_Djarum_Jati_Kudus.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5150575/original/008266800_1741078241-20250220_161308.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537389/original/048593000_1774421998-Kurir_angkut_50_kg_sabu_dan_20_ribu_ekstasi.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537330/original/010483800_1774420484-1001114660.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537188/original/092888700_1774413512-Permukiman_Baru_Kawasi_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5536298/original/091330800_1774319060-IMG_20260323_213958.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522592/original/086641300_1772769941-1001716059.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535954/original/045396000_1774177401-IMG-20260322-WA0071.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5449331/original/009128300_1766054298-1000846788.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448872/original/089550000_1766041751-IMG_20251218_112507_767.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5426036/original/098950800_1764250071-Mendagri.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2913252/original/006053400_1568693352-WhatsApp_Image_2019-09-17_at_10.57.35_AM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5365736/original/041722900_1759205212-IMG-20250930-WA0037.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5449480/original/029142300_1766063506-Ayah_Prada_Lucky_Namo__Pelda_Chrestian_Namo.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5276590/original/081825200_1751957181-20250708-Banjir-ANg_11.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448059/original/065762900_1765978898-Bengkel_motor_Fausul_di_Pulau_Mandangin.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5447862/original/001021800_1765966130-Batu_Nusuk.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448567/original/067225600_1766033308-1000630000.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5449346/original/079160500_1766055185-Kepala_Bulog_Kalteng_Budi_Sultika.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3977999/original/017889900_1648530540-PMI.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448993/original/011330600_1766044717-IMG-20251217-WA0381.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5436709/original/045635800_1765183427-380f79ba-6a45-41f0-bc7a-194e2d36b504.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5366533/original/005216900_1759234960-1000640193.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5428146/original/092095300_1764480695-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5451861/original/087288700_1766375997-Bus_kecelakaan_di_exit_Tol_Semarang.jpg)