Kala JK Terbius Keindahan Pontianak: Kota Hijau Religius

2 days ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Pontianak menyambut pagi dengan kanopi pepohonan rindang. Jalan utama terasa sejuk. Kota ini tidak sekadar tumbuh melalui beton serta aspal. Kota ini bernafas melalui ruang hijau. Jusuf Kalla alias JK langsung terkesan dengan lanskap kota tropis di tepi Sungai Kapuas. Bahkan Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia itu menyebut Pontianak sebagai kota hijau tertata rapi.

Sejauh mata memandang, katanya, ruang hijau terjaga. Tata kota terlihat berkesadaran. Bagi Jusuf Kalla, fakta tersebut berkaitan erat dengan nilai keagamaan hidup di tengah masyarakat. Agama tidak berhenti pada ritual. Agama menjelma laku keseharian.

Kota Hijau Religius

Jusuf Kalla menautkan lingkungan dengan ajaran agama. Menurutnya, menjaga alam bukan tren baru. Prinsip tersebut telah lama hidup dalam nilai keimanan.

Menurutnya, mewujudkan kota hijau bukan hasil kebijakan semata. Kota hijau lahir dari kesadaran batin warga.

“Sepanjang jalan kita lihat, hutan hutan kotanya terjaga. Ini mencerminkan kepedulian terhadap lingkungan, dan itu bagian dari ajaran agama,” ujar Jusuf Kalla Kamis (15/1/2026).

Kota Pontianak menjadi contoh konkret. Kota khatulistiwa tumbuh seiring nilai religius masyarakat. Masjid hadir bukan sekadar bangunan ibadah. Masjid menjadi simpul etika sosial. Dari masjid lahir kesadaran menjaga kebersihan ketertiban keseimbangan alam.

Bagi Jusuf Kalla, agama selalu mengajarkan keseimbangan. Manusia berperan sebagai khalifah. Tugas itu mencakup perlindungan alam. Kerusakan lingkungan berarti pengingkaran amanah. Pesan ini disampaikan lugas tanpa retorika panjang.

Ia berharap pengurus DMI Kalimantan Barat menginternalisasi prinsip tersebut. Organisasi masjid perlu bergerak melampaui ritual formal. Kepedulian sosial serta lingkungan menjadi bagian agenda dakwah. Masjid memimpin teladan.

Pandangan ini relevan dengan tantangan perkotaan masa kini. Urbanisasi sering menekan ruang hijau. Pertumbuhan ekonomi kerap mengorbankan ekologi. Pontianak menghadirkan narasi berbeda. Kota berkembang tanpa melepaskan akar nilai.

Masjid Pusat Peradaban

Masjid Pusat Peradaban

Prinsip DMI kembali ditegaskan. Memakmurkan masjid serta dimakmurkan oleh masjid. Frasa klasik ini diberi konteks kekinian. Masjid hidup melalui aktivitas bermanfaat. Dari sanalah nilai kebaikan mengalir ke lingkungan sekitar.

“Masjid harus hidup dengan kegiatan bermanfaat bagi umat, dan dari masjid pula lahir nilai nilai kebaikan, termasuk kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan sosial,” jelas Jusuf Kalla.

Kutipan tersebut menegaskan peran strategis masjid. Bukan sekadar ruang shalat. Masjid berfungsi sebagai pusat edukasi sosial. Kesadaran ekologis dapat tumbuh melalui khutbah kajian gerakan komunitas.

Masjid memiliki daya jangkau luas. Jamaah hadir lintas usia latar sosial profesi. Pesan lingkungan mudah disemai. Aksi sederhana menanam pohon menjaga kebersihan sungai mengurangi sampah plastik dapat dimulai dari halaman masjid.

Pelantikan pengurus DMI Kalbar periode 2025 hingga 2030 menandai babak baru. Gubernur Kalbar Ria Norsan kembali dipercaya memimpin organisasi. Kepercayaan ini membawa tanggung jawab moral. DMI diharapkan menjadi motor penggerak kesalehan sosial.

Dalam konteks Kalimantan Barat, isu lingkungan memiliki urgensi tinggi. Wilayah ini kaya hutan sungai lahan basah. Tekanan eksploitasi kerap muncul. Peran masjid menjadi krusial sebagai penjaga kesadaran kolektif.

Jusuf Kalla mendorong sinergi. Nilai agama perlu menyatu dengan kebijakan publik. Pembangunan berkelanjutan memerlukan fondasi etika. Tanpa nilai, pembangunan kehilangan arah.

Pontianak Tata Kota

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menyambut pujian tersebut dengan rendah hati. Ia menegaskan keberhasilan tata kota tidak lahir dari pemerintah semata. Partisipasi warga menjadi kunci. Nilai keagamaan berperan memperkuat partisipasi itu.

“Penataan kota hijau berkelanjutan tidak terlepas dari peran serta masyarakat dan penguatan nilai nilai keagamaan,” ucap Edi Rusdi Kamtono.

Kota Pontianak terus mendorong keseimbangan. Pembangunan fisik berjalan seiring pelestarian alam. Pemerintah kota mengintegrasikan ruang hijau dalam perencanaan. Taman kota jalur hijau kawasan resapan air dijaga konsisten.

Edi Rusdi Kamtono memandang lingkungan sebagai amanah. Kebersihan kerap dihubungkan dengan iman. Konsep tersebut diterjemahkan ke dalam kebijakan praktis. Program penghijauan berbasis komunitas terus digalakkan.

Bagi Edi Rusdi Kamtono, menjaga lingkungan merupakan bentuk ibadah. Perspektif ini mengubah cara pandang warga. Lingkungan bersih bukan sekadar estetika. Lingkungan bersih mencerminkan ketaatan.

“Lingkungan bersih hijau tertata merupakan bagian dari ibadah. Ini menjadi komitmen kami bersama masyarakat, termasuk melalui peran masjid,” kata Edi Rusdi Kamtono.

Kutipan ini memperkuat narasi utama. Agama menjadi energi sosial. Masjid menjadi pusat penyadaran. Dari masjid, jamaah diajak menjaga kebersihan menanam pohon merawat sungai.

Sebagai Ketua DMI Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono menekankan teladan. Masjid harus bersih hijau tertib. Halaman masjid dapat menjadi ruang edukasi lingkungan. Gerakan kecil berdampak luas.

Masjid Teladan Komunitas

Masjid memiliki legitimasi moral. Seruan dari mimbar didengar jamaah. Aksi nyata memperkuat pesan. Penanaman pohon pengelolaan sampah bank sampah masjid dapat menjadi model komunitas.

“Masjid harus menjadi teladan. Dari masjid kita ajak jamaah peduli lingkungan, menjaga kebersihan, menanam pohon, membangun kebersamaan sosial. Inilah makna memakmurkan masjid dan dimakmurkan oleh masjid,” ucap Edi Rusdi Kamtono.

Ucapan ini menggambarkan visi praksis. Dakwah tidak berhenti pada kata. Dakwah bergerak melalui tindakan. Pontianak telah memulai langkah itu.

Pujian Jusuf Kalla bukan peristiwa tunggal. Pujian tersebut memotret hubungan agama kota lingkungan. Dalam konteks urban Indonesia, narasi ini relevan. Banyak kota menghadapi krisis ruang hijau. Kesadaran publik sering terfragmentasi.

Pontianak menawarkan pendekatan berbasis nilai. Agama menjadi perekat sosial. Masjid menjadi simpul gerakan. Pendekatan ini efektif karena berangkat dari budaya lokal.

Secara sosiologis, agama memiliki daya mobilisasi tinggi. Pesan lingkungan lebih mudah diterima saat dibingkai sebagai kewajiban iman. Pendekatan ini mengurangi resistensi. Kesadaran tumbuh organik.

Dari perspektif kebijakan publik, sinergi pemerintah serta institusi keagamaan memperkuat implementasi. Program lingkungan tidak berhenti pada dokumen. Program hidup melalui komunitas.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Urbanisasi berlanjut. Tekanan ekonomi meningkat. Konsistensi menjadi kunci. Masjid perlu terus berinovasi. Dakwah lingkungan harus adaptif.

Pengurus DMI Kalbar periode baru memikul harapan besar. Mereka perlu merumuskan program konkret. Pelatihan imam khatib bertema lingkungan dapat dilakukan. Kurikulum dakwah hijau perlu diperluas.

Kolaborasi lintas sektor penting. Pemerintah komunitas akademisi organisasi lingkungan dapat bersinergi. Masjid menjadi titik temu.

Pontianak hari ini bukan sekadar kota. Pontianak menjadi cermin. Cermin hubungan manusia iman alam.

Pujian Jusuf Kalla mengingatkan satu hal. Kota hijau lahir dari kesadaran batin. Beton tanpa nilai mudah rapuh. Nilai tanpa aksi kehilangan makna.

Masjid berdiri di tengah kota. Dari sana doa dipanjatkan. Dari sana pula tanggung jawab sosial digerakkan. Pontianak menapaki jalan itu. Jalan hijau bernafaskan iman.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner