Harga Plastik dan Kedelai Kompak Melonjak, Pengusaha Tempe Putar Otak

8 hours ago 5

Liputan6.com, Semarang - Kenaikan harga kedelai mulai membuat was-was pengusaha tempe di Kota Semarang. Apalagi kenaikan itu dibarengi dengan kenaikan harga plastik yang naik gila-gilaan.

Dariyo, perajin tempe saat ditemui Liputan6.com, Selasa (14/4/2026), di kawasan Lamper Tengah, Semarang, tidak menampik hal itu. Bahkan ia mengaku sebenarnya harga kedelai sudah naik jauh setelah Lebaran kemarin.

"Tapi untuk harga terbaru ini saya belum biasa mengkalkulasi pengaruh terhadap produksi tempe. Sebelum Lebaran kan saya siapkan stok kedelai 2 ton. Jadi belum tahu nanti apakah akan ada perubahan harga tempe," sebutnya.

Lebih lanjut, Dariyo mengaku khawatir mengingat harga kedelai naik, kompak dengan kenaikan harga plastik yang hampir 200 persen.

"Ya insyaallah pengaruhnya belum terasa untuk produksi tempe. Satu gendel (pack) plastik paling habis seminggu. Semoga harga kedelai stabil, tapi kan memang harga kedelai selalu naik turun. Dulu pernah Rp15 ribu bisa turun ke Rp9 ribu naik lagi," katanya menjelaskan.

Setiap harinya, Dariyo menghasilkan  produksi tempe 50-75 kilogram, sementara produksi tahu mencapai 50 kilogram. Produksi ini belum termasuk pesanan untuk MBG empat hari sekali 1.500-2.200 potong.

"Lumayan kalo MBG bisa dapat untung, kalau dengan bakul kan cuma harga pokok," tambahnya lagi.

Menanggapi kekhawatiran lonjakan harga kedelai dan plastik secara bersamaan ini, Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan dan Stabilisasi Harga Dinas Perdagangan Kota Semarang, Edi Subeno memastikan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng telah memerintahkan untuk melakukan pemantauan kondisi pasar. Pantauan harga dilakukan untuk meminimalisir potensi kenaikan harga. 

"Pemantauan secara harian akan kami lakukan sampai kenaikan harga kedelai sudah diluar kewajaran, baru akan kami ambil tindakan operasi pasar," jelas pihaknya.

Dinas Perdagangan Kota Semarang melihat sampai saat ini kenaikan harga kedelai masih dalam kategori wajar dimana kenaikan tidak sampai 100 persen. Naik diatas kisaran 12.000-13.000 per kilogramnya.

"Memang keduanya terjadi kenaikan sebagai imbas geopolitik di Timur Tengah yang masih memanas. Dimana rantai distribusinya ikut terganggu," jelasnya.

Permasalahan terbangnya harga plastik juga berdampak pada pedang warung. Mak Suripah, pedagang warung makan, mengaku kenaikan harga plastik juga terasa di perbatasan Kota Semarang dengan Kabupaten Demak. Harga Plastik terus naik cukup tinggi.

"Plastik hargane naik tinggi banget. Pedagang bingung, gak diberi plastik kok kadang pembeli enggak bawa kantong. Akhirnya pedagang kumpulkan plastik bekas agak kumal tapi masih bersih," ungkapnya.

Memanfaatkan plastik bekas, dilakukan dengan mengumpulkan plastik yang didapat saat belanja sayur di pasar.

"Plastik bekas hanya untuk bungkus nasi bungkus. Sedang untuk gorengan tetap menggunakan plastik baru dan pasti plastik bening," tambahnya.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner