Cerita Terciptanya Lagu Darah Juang, ketika Kata-Kata Menjadi Senjata Perlawanan

20 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Di sini negeri kami

Tempat padi terhampar

Samuderanya kaya raya

Tanah kami subur tuan

Di negeri permai ini

Berjuta rakyat bersimbah luka

Anak buruh tak sekolah

Pemuda desa tak kerja

Mereka dirampas haknya

Tergusur dan lapar

Bunda relakan darah juang kami

Padamu kami mengabdi

Lagu ini selalu menggema manakala mahasiswa maupun rakyat turun ke jalan, menyuarakan segala keresahan dan kritik pada kondisi negeri.

Kata-katanya sederhana namun penuh makna. Mengungkapkan fakta yang tidak terbantahkan mengenai penderitaan rakyat di atas kekayaan alam yang luar biasa besar.

Johnsony Maharsak Lumban Tobing atau akrab disapa John Tobing, adalah pencipta lagu masyhur ini. Dia merupakan mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM). Selama menjadi mahasiswa, pria kelahiran Binjai, Sumatera Utara tanggal 1 Desember 1965 ini bertaut erat dengan sejarah perlawanan mahasiswa terhadap rezim Orde Baru.

"Lirik dalam Darah Juang bukan sekadar barisan kata, melainkan potret nyata penderitaan rakyat. Saat John menuliskan baris 'Bunda relakan darah juang kami...', ia sedang menyuarakan jeritan hati ribuan mahasiswa yang siap turun ke jalan, meninggalkan zona nyaman demi melawan penindasan," kata Wartawan senior yang juga sahabat John, Yudah Prakoso kepada wartawan, Kamis (26/2/2026).

Lagu itu lahir dari kegelisahan kolektif atas ketidakadilan, penggusuran, kekerasan negara dan pembungkaman kebebasan sipil pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an.

Sejak pertama kali dinyanyikan dalam forum-forum mahasiswa, Darah Juang menyebar cepat dari kampus ke kampus, dari kota ke kota. Lagu itu dinyanyikan dengan tangan saling bertaut, dalam lingkaran solidaritas, di tengah barisan demonstrasi yang berhadapan dengan barikade aparat.

"Liriknya sederhana namun menggugah, tapi menegaskan bahwa perjuangan adalah soal keberanian, kebersamaan, dan kesediaan berkorban," lanjutnya.

Sebagai mahasiswa, John dikenal aktif dalam gerakan kampus dan jejaring mahasiswa lintas kota. Ia pernah terlibat dalam kepengurusan organisasi mahasiswa, menjadi bagian dari konsolidasi aksi-aksi besar, dan berdiri di barisan depan saat gelombang kritik terhadap kekuasaan semakin ditekan.

Di tengah suasana represi, penangkapan aktivis, pembredelan pers, hingga kekerasan aparat terhadap demonstran, John memilih satu jalan. Melawan dengan suara dan lagu. Kini John Tobing telah tiada, namun spirit perjuangan dan perlawanan terhadap segala bentuk penindasan serta ketidakadilan di negeri ini akan terus menyala.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner