Warga Bongkar Gapura Pesantren Milik Dai Nasional Terduga Pelaku Pelecehan 6 Santriwati di Sukabumi

3 hours ago 1

Liputan6.com, Sukabumi- Warga Kampung Cikondang, wilayah Cicantayan, Kabupaten Sukabumi membongkar gapura pondok pesantren milik seorang dai kondang nasional. Mereka kecewa lantaran sang dai diduga melakukan pelecehan seksual terhadap sedikitnya enam santriwati di bawah umur.

Aksi pelecehan tersebut diduga dilakukan dengan modus pengobatan dan pemberian "ijazah ilmu". Praktik ini disinyalir telah berlangsung sejak tahun 2021 dan baru terungkap pada awal tahun 2026.

Ketua RT setempat, Iwan Setiawan (48), menjelaskan bahwa pembongkaran gapura dilakukan untuk menjaga kondusivitas lingkungan dan mencegah aksi anarkis dari pihak luar.

"Kami dari semua pihak dan tokoh di Kampung Cikondang ini sebetulnya bukan anarkis. Justru kita mencegah dari oknum-oknum luar, takutnya kalau plang masih terpampang ada kejadian hal yang tidak diinginkan," ujar Iwan saat ditemui di lokasi, Jumat (13/3/2026).

Selain alasan keamanan, lahan bekas gapura tersebut rencananya akan dialihfungsikan sebagai akses jalan menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU).

Merasa Terpukul dan Kecewa

Iwan mengungkapkan bahwa warga merasa sangat terpukul atas kejadian ini. Mengingat sosok terduga pelaku adalah seorang dai yang cukup dikenal, tindakan tersebut dianggap telah mencoreng nama baik kampung mereka.

"Bukannya rasa malu lagi, justru kita merasa dikotori muka saya dan tokoh-tokoh warga di sini. Sangat kecewa lah, kok seorang Ustaz, dai kondang sampai melakukan hal yang tidak senonoh," tambahnya dengan nada kecewa.

Menurut Iwan, perubahan sikap terduga pelaku mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Meski awalnya dikenal baik bahkan sempat memberangkatkan warga umrah, belakangan sosok tersebut dinilai menunjukkan sikap arogan dan kurang bersosialisasi dengan warga sekitar.

"Sebelumnya memang pernah terjadi (hal serupa), tapi waktu itu bisa didamaikan secara kekeluargaan," ungkap Iwan.

Keberadaan Pelaku Masih Misterius

Hingga saat ini, keberadaan dai tersebut belum diketahui. Iwan menyebutkan terakhir kali melihat terduga pelaku satu hari sebelum bulan puasa saat hendak berangkat umroh.

Saat ini, pondok pesantren tersebut sudah dalam keadaan kosong tanpa penghuni maupun santri. Warga berharap aparat penegak hukum dapat segera menangkap pelaku dan memberikan hukuman yang seadil-adilnya.

"Tolong semua aparat pemerintah bergerak, jangan tinggal diam. Ini kasus besar, sudah tidak ada maaf lagi bagi warga," tegasnya.

Meski demikian, Iwan mengapresiasi langkah cepat kepolisian yang terus memonitor perkembangan kasus ini di lapangan.

"Alhamdulillah pihak kepolisian cepat tanggap, selalu siaga dan memonitor terus kasus ini," sambung dia.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner