Ujung Cerita Fendi, Bocah Gunungkidul yang Berhenti Sekolah Demi Merawat Kedua Orangtuanya

5 hours ago 2

Liputan6.com, Gunungkidul - Kisah haru datang dari seorang bocah di Kabupaten Gunungkidul, Ahmad Tri Efendi (10) atau yang akrab disebut Fendi. Dirinya kini kembali melanjutkan pendidikan setelah sempat berhenti sekolah selama tiga tahun demi merawat kedua orang tuanya yang sakit.

Fendi, warga Padukuhan Jeruken, Kalurahan Girisekar, Kapanewon Panggang, sebelumnya menjadi perhatian publik setelah kisahnya viral. Ia memilih meninggalkan bangku sekolah sejak beberapa tahun lalu karena kondisi keluarganya yang memprihatinkan.

Ibunya diketahui menderita stroke hingga mengalami gangguan penglihatan, sementara sang ayah juga mengalami kondisi serupa. Dalam situasi tersebut, Fendi berbeda dengan kebanyakan anak di usianya, dia mengambil peran besar di rumah, merawat kedua orang tuanya di usia yang masih belia.

Tak hanya itu, beban keluarga juga ditanggung bersama oleh saudara-saudaranya. Kakak pertamanya, Wahyu Adi Saputra, harus bekerja menjadi tulang punggung keluarga, sementara kakak lainnya tetap melanjutkan pendidikan.

"Waktu itu memang kondisi keluarga sangat sulit. Saya harus kerja supaya kebutuhan sehari-hari terpenuhi, sementara Fendi memilih di rumah untuk merawat bapak dan ibu," ujar Wahyu saat ditemui di kediamannya, baru-baru ini.

Ia mengaku terharu sekaligus bersyukur karena kini adiknya bisa kembali bersekolah. Menurutnya, pendidikan menjadi harapan besar bagi masa depan Fendi.

"Sekarang kami sangat bersyukur, karena Fendi bisa sekolah lagi. Harapannya dia bisa fokus belajar dan meraih cita-citanya," tambahnya.

Setelah berbagai bantuan datang, baik dari pemerintah maupun masyarakat, kehidupan keluarga Fendi perlahan membaik. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul memastikan biaya pendidikan Fendi dan saudaranya ditanggung sepenuhnya, termasuk bantuan layanan kesehatan bagi kedua orang tuanya.

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menegaskan bahwa pemerintah hadir untuk memastikan anak-anak seperti Fendi tetap mendapatkan hak pendidikan.

"Kami memastikan Fendi dan keluarganya mendapatkan pendampingan, baik dari sisi pendidikan maupun kesehatan. Tidak boleh ada anak di Gunungkidul yang putus sekolah karena keterbatasan ekonomi," tegas Endah.

Ia juga mengapresiasi peran masyarakat dan berbagai pihak yang turut membantu keluarga Fendi, termasuk donatur dan jajaran kepolisian.

"Ini menjadi bukti bahwa gotong royong masyarakat masih sangat kuat. Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu," imbuhnya.

Kini, setelah tiga tahun meninggalkan bangku sekolah, Fendi kembali belajar di Madrasah Ibtidaiyah Girisekar dan duduk di kelas tiga sekolah dasar. Semangatnya untuk menuntut ilmu terlihat jelas setiap harinya.

"Saya senang sekali bisa sekolah lagi. Dulu kangen belajar, sekarang ingin rajin supaya bisa jadi polisi," kata Fendi saat ditemui di rumahnya, Senin (6/4/2026).

Meski telah kembali ke sekolah, tanggung jawab Fendi di rumah tak lantas berkurang. Sepulang sekolah, ia tetap membantu merawat ibunya bersama sang kakak dan neneknya.

Aktivitas tersebut menjadi rutinitas harian yang dijalani dengan penuh ketulusan. Ia menyiapkan makanan, membantu memberi minum, hingga menemani ibunya yang masih dalam masa pemulihan.

Wahyu menuturkan, meski kondisi keluarga belum sepenuhnya pulih, namun saat ini situasi sudah jauh lebih baik dibanding sebelumnya.

"Sekarang sudah ada bantuan, jadi kami tidak sendiri. Saya juga diberi kelonggaran kerja supaya bisa bantu di rumah," ungkapnya.

Berbagai bantuan dari pemerintah dan masyarakat terus berdatangan, mulai dari kebutuhan pokok hingga dukungan pengobatan bagi kedua orang tuanya.

Dengan semangat dan dukungan banyak pihak, Fendi kini kembali menata mimpi melanjutkan pendidikan dan suatu hari nanti mewujudkan cita-citanya menjadi seorang polisi.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner