Lewat KUR BRI, Nalara Coffee Sukses Pasarkan Kopi Ramah Lingkungan dan Laris hingga Luar Pulau Jawa

13 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Berawal dari sebuah rumah hangat yang menggratiskan kelas keterampilan bagi remaja putus sekolah di masa pandemi, sebuah pergerakan ekonomi hijau kini tumbuh subur di sudut Sleman, Yogyakarta. Ryan Aryanto, sang peracik mimpi di balik Nalara Coffee yang sukses menyulap ruang komunitas yang sempat sunyi menjadi lini bisnis kopi berkelanjutan dengan jangkauan pasar nasional.

Bukan sekadar mengejar omzet, Nalara Coffee berdiri kokoh di atas komitmen menjaga kelestarian bumi dan memberdayakan petani lokal. Langkah nyata dari hulu ke hilir ini kian melesat kencang berkat sokongan permodalan Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta ekosistem digital dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Kopi yang dirawat dengan prinsip ramah lingkungan ini pun kini sukses melanglang buana, memikat hati para pencinta kafein hingga ke seberang pulau.

Kisah Nalara Coffee tidak bisa dipisahkan dari kepedulian sosial sang pemilik. Saat pandemi melanda dan menciptakan jeda waktu yang panjang, Ryan memutuskan untuk menjadikan rumahnya sebagai tempat belajar gratis.

"Awalnya Nalara itu Creative Hub berbasis komunitas. Semua bermula saat pandemi. Dulu saya memang sudah lama terjun di dunia kopi sejak 2015, tapi saat pandemi ada jeda waktu yang cukup panjang. Waktu itu, rumah ini saya jadikan tempat belajar gratis buat teman-teman yang baru lulus SMA tapi belum bisa lanjut kuliah. Kita ajarkan skill praktis seperti desain hingga penulisan konten," kenang Ryan saat menceritakan awal mula berdirinya usaha ini bersama Liputan6.com di rumah produksinya, di Sleman pada Kamis (11/6/2026) lalu.

Setelah badai pandemi mereda, ruangan belajar tersebut sempat menjadi sepi. Dari sanalah ide untuk membuka ruang diskusi santai sambil berniaga kopi muncul.

"Setelah pandemi selesai, ruangan ini sempat sepi. Kami terpikir, kenapa tidak dimanfaatkan lagi? Karena saya dan teman-teman punya hobi ngopi, akhirnya kami buka ruang diskusi yang santai sambil jualan biji kopi. Ternyata responnya bagus, banyak yang tanya soal roasted bean, jadi akhirnya kami serius mendalami itu sampai sekarang," lanjutnya.

Diambil dari Nama Buah Hati Tercinta dan Dibantu oleh Tim Skala Kecil

Nama "Nalara" sendiri memiliki arti personal yang sangat mendalam bagi Ryan, karena diambil dari nama kedua buah hatinya. Ryan mengatakan jika bisnis ini mulai resmi mengurus legalitas dan perizinan pada akhir tahun 2024.

"Kalau nama itu anak sebenarnya mas. Nama anak pertamanya Nala. Anak kedua Nara. Jadi kita namain Nalara itu. Itu sih," ungkap Ryan tersenyum.

"Kalau Nalaranya sendiri, maksudnya kita kemudian ngurus izin segala macam itu di 2024 Akhir ya. Itu di bulan November. Kalau yang mulai produksi roasted bean-nya itu ya di tahun 2025 mas," jelasnya mengenai lini masa usaha.

Dalam menjalankan operasional harian, Ryan dibantu oleh manajemen tim yang ramping namun efektif.

"Untuk operasional di sini, saya dibantu oleh satu rekan tetap dan satu teman lagi yang menangani konten. Dia mahasiswa, jadi kerjanya per project. Sementara untuk di kebun, ada tim inti beranggotakan empat orang. Tugas mereka fokus ke quality control dan sortir hasil panen. Nah, tim ini juga yang berkoordinasi langsung dengan teman-teman petani untuk urusan pemeliharaan kebun sampai proses panennya nanti," paparnya.

Berprinsip Pertanian Berkelanjutan dan Kendali Mutu Ketat

Nalara Coffee menerapkan kontrol kualitas yang sangat ketat, mulai dari pemetikan di kebun hingga proses akhir pascaproduksi. Kebun mereka melakukan panen dua kali dalam setahun dengan mengandalkan proses natural.

"Karena kita pakai proses natural, tahap awal yang paling krusial adalah sortasi. Meskipun kita sudah menerapkan sistem petik merah, terkadang masih ada biji yang kurang matang, jadi kita lakukan sortasi dengan metode perendaman air atau rimbang air untuk memisahkan biji yang kualitasnya kurang baik," kata Ryan mendetailkan proses produksinya.

Setelah proses sortasi selesai, biji kopi dikeringkan secara terpisah berdasarkan identitas kebun, varietas, hingga ukurannya. Setelah menjadi green bean, Nalara Coffee membagi distribusinya sesuai dengan kapasitas produksi mesin mereka.

"Dari total panen, misalnya dapat 1 ton, kita biasanya memproses 300 kg sendiri di sini untuk roasting, dan sisanya yang 700 kg kita jual dalam bentuk green bean ke roaster lain. Ini karena kita menyesuaikan dengan kapasitas mesin roaster kita yang saat ini maksimal bisa memproses sekitar 10 kg per hari untuk kopi specialty. Jadi, dalam setahun kita memang fokus memproduksi sekitar 600 hingga 700 kg kopi hasil kebun sendiri," tambahnya.

Menariknya, Ryan memilih untuk bersikap jujur dan realistis dalam melakukan branding produk. Alih-alih menggunakan label 'organik' tanpa sertifikasi yang valid, ia lebih memilih narasi pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture).

"Untuk urusan branding, kami memang tidak berani mengeklaim label 'organik' secara resmi. Alasannya karena kebun kami berada dalam satu kawasan dengan lahan lain yang mungkin masih menggunakan pestisida, sehingga risiko residu terbawa air hujan tetap ada. Sebagai gantinya, kami lebih memilih memasarkan produk ini dengan narasi 'pertanian berkelanjutan'. Kami memastikan kebun kami sendiri bebas dari penggunaan pupuk kimia maupun pestisida sintetis, sebagai bentuk komitmen kami terhadap praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan," jelasnya secara bijak.

Sudah Dipasarkan di Minimarket Sekitar Sleman

Untuk memenuhi selera pasar yang beragam, Nalara Coffee menghadirkan klasifikasi produk yang cukup detail, mulai dari kopi bubuk praktis hingga roasted bean dengan berbagai profil sangrai.

"Selain menjual dalam bentuk roasted bean, kami juga punya produk kopi bubuk untuk teman-teman yang ingin menikmati kopi murni secara praktis. Produk pertama kami namanya Tubruk 150, itu blend antara Robusta Wonosobo dengan Arabika yang sudah kami titip jual di minimarket sekitar Sleman. Kami juga punya varian bubuk lain dari Robusta Wonosobo dengan karakter rasa yang lebih pekat, jadi bisa disesuaikan dengan selera masing-masing," tutur Ryan.

Bagi pencinta kopi yang lebih spesifik, Nalara memisahkan produk berdasarkan ukuran biji kopi.

"Khusus Robusta Wonosobo, kami pisahkan berdasarkan ukuran biji yaitu biji besar dan biji kecil (yang orang sering sebut peaberry atau kopi lanang). Dari dua kategori ukuran itu, kami buat lagi beberapa pilihan roast profile, mulai dari medium sampai dark roast," urainya.

Keunggulan utama dari Nalara Coffee terletak pada kontrol penuh dari hulu ke hilir. Produk unggulan mereka adalah varian kopi Robusta yang berasal dari kebun sendiri di Wonosobo.

"Produk unggulan kami tentu kopi dari kebun sendiri di Wonosobo. Karena kami memprosesnya dari hulu hingga hilir gitu, kami bisa menjamin kualitas dan konsistensi rasanya dengan lebih percaya diri," tegas Ryan.

Varian Lainnya hingga Penjualan Tembus Pasar Digital

Tak hanya fokus pada Robusta dari kebun mandiri di Wonosobo, Nalara Coffee juga memperkaya koleksinya dengan pilihan Arabika Nusantara dari berbagai daerah penghasil kopi terbaik, seperti Gayo, Mandailing, Sumbing, Temanggung, hingga Solok.

Seluruh varian produk ini dipasarkan dalam berbagai ukuran kemasan mulai dari 100 gram, 250 gram, 500 gram, hingga 1 kilogram. Harganya pun sangat kompetitif dan ramah di kantong. Untuk varian Robusta dibanderol mulai dari Rp35.000 hingga Rp55.000 per 100 gram, sedangkan untuk varian Arabika berkisar antara Rp45.000 hingga Rp70.000 per 100 gram.

Berkat optimalisasi ekosistem digital, pasar Nalara Coffee kini telah menembus luar Pulau Jawa. Penjualan utamanya ditopang oleh platform e-commerce Shopee, persiapan live streaming di TikTok, aktivitas di Instagram, serta arus trafik yang kuat dari website pribadi yang dikelola langsung oleh Ryan.

"Untuk sebaran pelanggan khusus produk unggulannya yakni Robusta Wonosobo, sebenarnya yang paling banyak datang justru dari luar pulau, terutama melalui pemesanan via website. Data kami mencatat pelanggan tetap dari Sumatera sudah mencapai 15 orang lebih setiap bulannya, dengan titik sebaran yang beragam mulai dari Medan, Jambi, hingga Lampung. Selain Sumatera, pasar kami di Sulawesi dan Kalimantan juga cukup potensial, khususnya di Kalimantan Selatan itu kemungkinan besar karena adanya jejaring teman-teman di sana yang merekomendasikan produk kami. Untuk wilayah Indonesia Timur, NTB juga menjadi salah satu daerah dengan peminat yang cukup konsisten," ungkap Ryan mengenai peta pelanggannya.

Strategi Modal Bertahap

Membangun bisnis dengan rantai produksi yang panjang tentu membutuhkan strategi permodalan yang matang. Ryan menyiasatinya dengan melakukan investasi secara bertahap serta membangun kemitraan strategis, termasuk berkolaborasi dengan Perhutani untuk memanfaatkan lahan di bawah naungan pohon pinus.

"Soal modal, kami memang melakukannya secara bertahap. Untuk lahan, kami mengandalkan perpaduan antara aset peninggalan orang tua dan sistem sewa. Bahkan, kami juga bekerja sama dengan pengelola lahan Perhutani. Skemanya, kami menyewa lahan di bawah naungan pohon pinus mereka, lalu mengajak pengelolanya untuk menanam kopi bersama. Kami yang sediakan bibitnya, nanti hasil panennya bisa dikelola bersama," kata Ryan membagikan strategi bisnisnya.

Secara kumulatif, modal awal yang dikeluarkan oleh Nalara Coffe berada di angka sekitar Rp150 juta.

"Jika dihitung, modal awal untuk persiapan kebun, pengolahan lahan, bibit, hingga upah tenaga kerja waktu itu sekitar Rp50 juta. Sementara untuk operasional roasting, kami menginvestasikan sekitar Rp100 juta. Dana itu sudah mencakup pengadaan alat roaster dan operasional awal untuk pengadaan biji kopi di bulan pertama. Jadi, total keseluruhan untuk memulai bisnis ini ada di kisaran angka tersebut," tambahnya.

Pemberdayaan Finansial Bersama BRI

Dalam fase pengembangan usaha dan pengelolaan finansial harian, peran perbankan seperti BRI menjadi instrumen penting yang mengakselerasi bisnis Nalara Coffee. Kehadiran teknologi QRIS BRI mempermudah transaksi harian konsumen, sementara fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI menjadi solusi andalan saat bisnis membutuhkan injeksi modal ekspansi.

"Terkait urusan finansial, kami memang banyak terbantu dengan ekosistem perbankan dari BRI. Untuk transaksi harian, kami sudah menggunakan QRIS yang memudahkan operasional. Selain itu, untuk permodalan, kami sempat memanfaatkan fasilitas KUR dari BRI. Jujur saja, bagi kami KUR itu sangat membantu, terutama dari sisi bunga yang sangat kompetitif dan prosesnya yang cepat. Jadi, kalau ada kebutuhan modal yang sifatnya mendesak untuk pengembangan usaha, kami merasa lebih tenang karena sudah ada akses pendanaan yang terpercaya," akui Ryan jujur.

Melangkah ke depan, Ryan berharap Nalara Coffee bisa terus tumbuh secara berkelanjutan, memperluas jangkauan pasar digitalnya sekaligus memperkuat komitmennya untuk berdaya bersama komunitas mitra petani lokal.

"Harapannya ya semoga bisa memaksimalkan penjualan online dan memperkuat kapasitas produksi. Terkhusus bagaimana kami bisa konsisten memenuhi kebutuhan mitra-mitra kami, baik itu teman-teman petani maupun kedai kopi yang bekerja sama dengan kami. Jadi, langkah ke depan memang lebih ke peningkatan kualitas dan kapasitas," pungkas Ryan penuh optimisme.

Cita Rasa Konsisten dan Mudah Didapat, Varian Wonosobo Jadi Andalan Pagi Warga Lokal

Kualitas produk Nalara Coffee tak hanya diakui oleh pelanggan dari luar pulau, tetapi juga mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat sekitarnya. Haris, salah seorang warga lokal yang cukup sering membeli biji kopi (bean) langsung di Nalara, mengakui adanya keunikan rasa yang disajikan.

"Biji kopi di Nalara ini punya rasa yang unik dan aroma yang segar. Yang pastinya pas dan nikmat banget untuk dibawa ngopi di pagi hari sebelum memulai aktivitas," ujar Haris saat memberikan kesaksiannya sebagai salah satu pelanggan.

Dari berbagai pilihan varian yang ditawarkan, Haris mengaku paling sering memburu roasted bean asal Wonosobo yang menjadi produk unggulan Nalara. Konsistensi rasa menjadi alasan utama mengapa ia terus kembali membeli produk lokal Sleman ini.

"Saya sendiri paling sering membeli bean yang dari Wonosobo. Menurut saya, rasanya itu konsisten dan tidak berubah-ubah dari waktu ke waktu. Terlebih lagi, sekarang produk kopi bubuk mereka sudah dijual di minimarket sekitar rumah, jadi kita sebagai konsumen tidak perlu khawatir lagi soal standar kualitasnya," pungkas Haris.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner