Mentan Geram Ulah Importir Beras Nakal, Beri Label Pengkhianat Bangsa

1 week ago 16

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melontarkan pernyataan keras, merespons maraknya penyelundupan dan praktik impor ilegal di Kota Batam, Kepulauan Riau. Amran menegaskan tidak ada kompromi bagi pelaku penyelundupan dan importir nakal yang dinilainya sebagai pengkhianat bangsa.

“Tidak boleh kompromi. Itu adalah pengkhianat bangsa. Kita setengah mati berjuang untuk berdaulat pangan, untuk swasembada pangan, mereka justru mengkhianati perjuangan kita. Ini harus ditindak tegas,” kata Amran usai menghadiri Rakernas Asosiasi Pemerintahan Kabupaten se-Indonesia (APAKSI) di Aston Hotel Batam, Senin (19/1/2026).

Menurut Amran, pemerintah telah bekerja keras mewujudkan swasembada pangan nasional. Karena itu, segala bentuk impor beras ilegal maupun permainan distribusi yang merugikan petani dan rakyat kecil tidak bisa ditoleransi. Ia menegaskan, saat ini kebijakan impor beras sudah satu pintu dan Indonesia tidak lagi membuka keran impor karena stok nasional dalam kondisi melimpah.

“Stok kita banyak, melimpah. Jangan mempermainkan nasib rakyat. Ini bukan soal saya, ini soal 115 juta petani padi. Masa tega menzalimi rakyat kecil” ujarnya.

Mentan juga menyinggung soal harga beras di Batam yang kerap disebut mengalami kenaikan. Ia menegaskan, kenaikan tersebut bukan disebabkan oleh kekurangan stok, melainkan persoalan distribusi.

Bahkan, berdasarkan data pemerintah, beras (yang disalurkan pemerintah) bukan komoditas utama penyumbang inflasi.

“Saya ulangi, bukan beras penyumbang inflasi tertinggi. Silakan cek datanya. Kita harus gunakan data, bukan perasaan. Memang ada harga yang naik, iya, tapi stok kita banyak,” beber Amran.

Dalam kesempatan itu, Amran secara khusus menyoroti kasus penyelundupan beras yang belakangan terungkap di sejumlah pelabuhan di Kepri. Dia mengaku baru saja turun langsung ke lapangan dan telah memerintahkan aparat untuk bertindak tegas.

“Sudah ada tersangka, tapi saya minta bongkar sampai ke akar-akarnya. Ini mengkhianati bangsa yang kita cintai, mengkhianati 115 juta petani. Tidak boleh ada yang bermain-main,” tegasnya.

Amran juga mengungkap modus distribusi beras yang dinilainya janggal di wilayah Kepulauan Riau. Ia mencontohkan adanya pengiriman beras dari Tanjungpinang, daerah yang tidak memiliki lahan sawah, ke Palembang Sumatera Selatan, yang justru dikenal surplus beras lebih dari 1 juta ton.

“Ini yang menarik. Tanjungpinang tidak punya sawah, tapi berasnya mau dikirim ke Palembang, padahal Palembang surplus sekitar 1,1 sampai 1,7 juta ton. Ini masuk akal atau tidak?” ujarnya.

Mentan menegaskan, pemerintah sudah mendeklarasikan swasembada pangan. Karena itu, seluruh distributor dan pelaku usaha diminta patuh dan tidak mencari celah dengan dalih kualitas atau harga.

“Jangan bicara kualitas, itu beras dari dalam negeri. Kalau ada distributor nakal, tindak tegas. Ini soal cinta merah putih, ini soal kedaulatan pangan,” ucapnya.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner