Memetik Semangat Ratidjo Harjo Suwarno, Dulu Laden Tukang Kini Sukses Dirikan Resto Jamur di Jogja

2 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Meski usianya sudah 82 tahun, sosok Ratidjo Harjo Suwarno tak pernah lelah berbagi inspirasi. Ini berkat usahanya mendirikan restoran unik bernama Jejamuran yang berlokasi di Jalan Pandowoharjo, Niron, Pandowoharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kiranya, sifat pekerja keras cocok disematkan ke dirinya. Sebab, Ia benar-benar jatuh bangun saat merintis, hingga kini menjadi salah satu ikon kuliner di Jogja. Dalam satu hari, restoran ini mampu mendatangkan ratusan pengunjung, terutama di akhir pekan.

Kegigihannya dalam menekuni bisnis dari bawah, patut diteladani. Mental yang kuat, tak mudah patah semangat dan keberanian untuk mencoba menjadi kunci suksesnyanya menjadikan Jejamuran sebagai satu-satunya restoran yang dilengkapi pusat oleh-oleh khusus jamur di Indonesia.

“Sebenarnya saya itu dilahirkan dari orang tua yang tidak mampu, sampai saya sulit untuk sekolah. Jadi ketika selesai sekolah itu, saya membantu orang tua saya mencari uang, mulai dari jadi laden tukang, atau pembantu tukang yang tugasnya mengaduk semen,” kata Ratidjo saat ditemui Liputan6, Selasa (14/4).

Ingin Berkembang dan Mendalami Tumbuhan Jamur

Di tengah suasana Sleman yang baru diguyur hujan siang itu, dirinya mengenang masa-masa awal saat berjuang mendirikan Jejamuran. Ia sadar, di tengah keterbatasan ekonominya kala itu, maka dibutuhkan semangat untuk memperbaiki keadaan.

Dari sana, Ratidjo lantas menjajal pekerjaan di berbagai bidang, mulai dari berjualan bunga kantil, menjadi karyawan di perusahaan batik tahun 1965 sampai 1966, beralih ke industri makanan kemasan hingga akhirnya mendalami budidaya jamur.

“Dari laden tukang, terus saya juga pernah membantu jualan bunga kantil. Nah,waktu masuk ke perusahaan batik itu saya hanya berpikir, yang penting saya kerja dan dapat uang, nah tetapi ternyata saya tidak minat di sana,” tambah Ratidjo.  

Dari sana, hatinya mulai tertambat di industri jamur karena sesuai dengan latar belakang pendidikannya di salah satu STM dengan jurusan kimia. Lama berkutat hingga tahun 1990-an, semakin membuatnya jatuh cinta dengan komoditas tersebut. Meski tak paham secara teori, kemauan belajarnya yang kuat untuk mengelola jamur justru membuatnya bisa beradaptasi.

“Saya kemudian belajar banyak, oh mengelola tanaman jamur itu harus dengan hati, harus dengan perasaan. Dari situ saya kemudian memiliki rasa, lalu timbullah rasa suka sampai terus berkembang dan saya menguasai bidang jamur ini,” ucapnya.

Tak Pelit Ilmu dan Merangkul Petani Lokal

Setelah bertahun-tahun mendalami jamur, Ratidjo semakin paham bahwa tumbuhan yang termasuk Kingdom Fungi itu sebenarnya mudah dirawat. Hal ini dikarenakan sifatnya yang mudah tumbuh ketika musim hujan dan tidak sulit saat dipanen.

Ratidjo lantas membagi pengetahuan tentang jenis-jenis mana saja yang bisa ditanam di dataran rendah dan dataran tinggi, salah satunya jamur merang yang bisa tumbuh subur ketika ditanam di ketinggian 0 sampai 400 meter di atas permukaan laut.

“Maka saya bilang, banyak petani jamur itu tidak berhasil mungkin dari cara pengelolanya yang tidak pakai hati. Ini juga terkait jamur yang merupakan tanaman paling jujur, karena kalau dia sakit pasti menunjukkan tanda-tandanya, tidak tiba-tiba mati,” katanya.

Mendapat Banyak Penolakan saat Mengenalkan Jamur ke Masyarakat

Usai puluhan tahun bekerja dengan orang lain, Ratidjo lantas memutuskan pensiun. Pada 2006, Restoran Jejamuran didirikan. Meski sudah berpengalaman merawat berbagai jenis jamur mulai dari kancing, tiram sampai merang, tak lantas usahanya berjalan dengan mudah.

Lika-liku tetap ditemui, mengingat saat itu masyarakat masih menganggap jamur sebagai bahan makanan asing yang sulit diterima. Berbagai penolakan juga diterimanya, saat mengenalkan berbagai olahan jamur sebagai menu utama di restoran yang saat itu masih berbentuk rumah makan sederhana.

“Dari semua proses ini, salah satu yang saya ingat adalah proses mengenalkan jamur dari rumah ke rumah. Dan setiap orang yang saya temui itu tidak menerima karena takut keracunan. Ini diiringi juga dengan ngomongnya yang nggak enak. Di sini timbul kesadaran bahwa ini dibutuhkan kesabaran yang luar biasa,” sebut Ratidjo, sembari mengenang masa-masa sulit tersebut.

BRI Membantu Ratidjo Kembangkan Jejamuran

Berbagai kondisi pahit itu, tak lantas menjatuhkan mentalnya. Ia tipe yang gigih memperjuangkan apa yang sudah dijalani. Upaya mengenalkan jamur terus ia lakukan, bahkan sampai ke sekolah-sekolah dan kantor-kantor instansi di sekitar wilayah Sleman.

Di waktu yang bersamaan, Ratidjo beserta keluarganya merajut asa untuk mengembangkan rumah makan sederhana itu. Bahkan, ia menyisihkan uang untuk membeli peralatan seperti kursi pengunjung, meja hingga perkakas pendukung dari pasar loak barang bekas.

Pelan tapi pasti, menu jamur yang dibuatnya bersama sang istri mulai mendapatkan pasar. Sampai akhirnya tempat makan ini mulai ramai didatangi pengunjung. Dirinya bahkan sempat kewalahan melayani konsumen, sampai-sampai meminjam kursi tambahan dari pihak RT dan RW agar kebagian tempat.

Ingin usahanya terus berkembang, dirinya lantas mengajukan pinjaman ke Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebesar Rp25 juta. Ketika itu merupakan masa sulit, karena banyak banyak bank yang menolak dirinya. Namun, hanya BRI-lah yang kemudian menerima pengajuan Ratidjo.

“Setelah saya berkembang, saya coba datang ke Bank BRI. Kemudian, saya akhirnya dipercaya untuk dapat pinjaman sebesar Rp25 juta yang ketika itu sudah besar. Uang ini lantas saya pakai untuk membangun Restoran Jejamuran,” ungkapnya.

Ratidjo Jadi Bukti Pebisnis Sukses yang Memulai di Usia 50 Tahun

Ratidjo menambahkan bahwa dirinya tidak minder untuk memulai usaha setelah pensiun di usia lebih dari 50 tahun. Ini justru menjadi pembuktian bahwa sukses tidak memandang usia dan datang ketika mereka mau berusaha.

Ditekankan Ratidjo, bahwa jangan pernah takut gagal untuk memulai usaha di usia berapapun. Sebab, dalam dunia bisnis yang paling penting adalah kemauan untuk memulai terlebih dahulu, meski tanpa latar belakang yang mumpuni. Ia ingin agar anak-anak muda hingga siapapun yang saat ini sedang memulai karier bisnisnya agar tidak berhenti.

“Maka kalau dari saya, dalam berusaha itu tidak berpikir ke hasil tapi ke prosesnya. Kesulitan itu pasti dan tantangan itu ada, selama prosesnya baik pasti ada hasilnya yang ikut baik,” tutupnya.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner