Kata Dokter soal Video Viral Sejumlah Orang Minum Oli Demi Kesehatan

11 hours ago 5

Liputan6.com, Makassar - Fenomena viral sejumlah video yang memperlihatkan sejumlah pria meminum oli 2 tak demi alasan kesehatan menuai sorotan dari kalangan medis. Aksi tersebut dinilai sebagai bentuk misinformasi yang berpotensi membahayakan masyarakat.

Berdasarkan pantauan Liputan6.com, terdapat dua video yang memperlihatkan sejumlah pria tengah asyik menenggak oli. Salah satu video diduga direkam di dalam masjid, sementara video lainnya diduga direkam di depan rumah warga.

"Jadi kalau pegal linu minum saja ini (oli), langsung telan setelah itu minum air putih," kata salah seorang pria dalam video tersebut.

Berdasarkan keterangan dari sejumlah postingan di media sosial, peristiwa tersebut diduga terjadi di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Namun aksen dan bahasa daerah yang digunakan dalam video itu adalah bahasa Bugis-Makassar.

Dokter spesialis penyakit dalam, dr. M. Jabal Nur, Sp.PD, menegaskan bahwa praktik mengonsumsi oli tidak memiliki dasar medis. Menurut dia hal itu justru berisiko tinggi bagi kesehatan.

"Oke, begini. Itu kan di video yang beredar, dia jadikan sebagai terapi kesehatan. Secara medis ini sebenarnya misinformasi. Tidak ada itu mengonsumsi oli berdampak baik bagi kesehatan," kata Jabal saat dikonfirmasi Liputan6.com, Rabu (8/4/2026).

Menurutnya, oli merupakan bahan yang dirancang khusus untuk mesin, bukan untuk dikonsumsi manusia. Oleh karena itu, mengonsumsi oli secara rutin bisa berdampak buruk bagi kesehatan secara jangka panjang.

"Karena begini, oli itu kita tahu kandungannya bahan kimia berbahaya. Oli dirancang khusus untuk komponen logam yang bersuhu tinggi, untuk mesin, bukan untuk dicerna. Bahan dasarnya hidrokarbon, kemudian ada zat adiktif seperti logam berat dan bahan kimia pembersih. Apa yang bisa terjadi? Ini bisa memicu keracunan, bahkan menyebabkan kerusakan organ jangka panjang," paparnya.

Ia juga menjelaskan bahwa dampak dari konsumsi oli tidak selalu muncul secara langsung, sehingga kerap menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat. Menurut dia, kerusakan organ tubuh bisa terjadi secara perlahan.

"Selama ini kalau kita dengar orang minum oli, seolah-olah langsung kejang atau meninggal. Tapi sebenarnya ada yang namanya efek latensi, jadi gejalanya tertunda. Tidak semua efek muncul secara instan. Zat itu harus melalui proses metabolisme dulu. Tapi lama-kelamaan bisa menyebabkan kerusakan organ, terutama hati," ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa hati dan ginjal menjadi organ yang paling rentan terdampak akibat dari mengonsumsi zat kimia berbahaya seperti oli secara rutin.

"Karena semua zat yang masuk ke tubuh, racunnya akan diproses oleh hati, kemudian dibuang melalui ginjal. Kalau oli dikonsumsi terus-menerus, tentu akan memperberat kerja hati. Akibatnya bisa terjadi gagal hati hingga gangguan ginjal," katanya.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner