4 Jam Mencekam, 30 Mahasiswa Undip Siksa Arnendo Anak Penjual Nasgor Sampai Subuh

5 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Harapan Bagus (50), pedagang nasi goreng di Kabupaten Semarang, punya impian agar anaknya Arnendo, (20), bisa meraih sarjana antropologi sosial di Universitas Diponegoro (Undip) kemungkinan gagal di tengah jalan.

Arnendo kini terbaring lemas di ruang perawatan. Tulang hidungnya patah. Dia mengalami gegar otak, dan gangguan pada syaraf mata kiri akibat pengeroyokan 30 mahasiswa antropologi sosial Undip.

Zainal Petir dari LBH Petir Jateng meminta kampus Undip dan Polrestabes Semarang mengambil tindakan tegas atas kebrutalan yang menyebabkan Arnendo cacat fisik. Laporan polisi kemudian viral di sejumlah sosial media.

"Setelah keluarga korban minta pendampingan, per 2 Maret 2026, saat itu saya langsung datangi Polrestabes dan menemui AKBP Andika, Kasatreskrim agar perkara segera ditundaklanjuti mengingat orang tua korban sudah lama buat laporan, 16 November 2025 namun belum ada tindakan nyata terhadap para pelaku," ungkap Zainal Petir kepada Liputan6, Kamis (05/03/26).

Orang tua korban putus asa karena cita-cita anaknya menjadi anggota polisi melalui jalur sarjana bakal gagal karena cacat fisik yang diderita akibat penganiayaan.

Hari itu, 15 November 2025, pukul 10.57 WIB. Adyan, seorang mahasiswa antropologi sosial semester 4, bertemu Arnendo. Dia mengundang Arnendo untuk ngobrol di kos biru yang terletak di Jl. Bulusan Utara Raya, Bulusan, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Alasannya ingin membicarakan event collective (acara musik kampus).

Sekitar pukul 22.03 WIB, korban berangkat menuju tempat yang sebelumnya sudah disepakati, kos Biru. Sesampai di sana, Arnendo melihat banyak orang di halaman kos. Obrolan dimulai dan mereka mulai memaksa Arnendo untuk mengaku melakukan pelecehan terhadap adik tingkat Uca.

Arnendo sudah menjelaskan kronologi kejadian yang sebenarnya. Arnendo hanya bercanda dengan menarik tangan Uca dengan tujuan mengajak dia  menuju ke warung makan, dalam rangka mengumpulkan tim sukses pemilihan ketua himpunan program studi antropologi sosial.

"Jadi tidak ada pelecehan wong nggandeng tangan Uca di kampus kondisi cukup ramai. Korban tidak sendirian tapi bersama Wiryawan. Kejadian sebenarnya itu bukan pelecehan tapi diperkirakan salah satu pelaku suka dengan Uca," ungkap Zainal Petir.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner