Kondisinya Membengkak, Tim DVI Kesulitan Identifikasi Jenazah Pria Korban Pesawat ATR 42-500

6 days ago 21

Liputan6.com, Pangkep - Proses identifikasi jenazah pria korban kecelakaan pesawat Indonesia Air Transport (IAT) ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Sulawesi Selatan, masih berlangsung dan menghadapi sejumlah kendala teknis. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Biddokkes Polda Sulsel menyebut kondisi fisik jenazah menjadi faktor utama yang menyulitkan penentuan identitas secara cepat.

Kabiddokkes Polda Sulsel Kombes Pol dr. Muhammad Haris menjelaskan, jenazah pria tersebut ditemukan dalam kondisi telah mengalami pembengkakan meski secara umum masih utuh. Kondisi ini berdampak langsung pada proses pemeriksaan, terutama untuk metode identifikasi sidik jari.

"Dengan kondisi jenazah seperti ini, sidik jari bisa saja sudah sulit diperiksa. Apalagi jenazah juga mengalami perubahan akibat cuaca, waktu, dan kondisi medan," ujar Haris saat memberikan keterangan pers di Aula Biddokkes Polda Sulsel, Rabu (21/1/2026).

Ia mengungkapkan, meski dua jenazah korban ditemukan dalam rentang waktu yang relatif berdekatan, kondisi fisik keduanya sangat berbeda. Perbedaan tersebut dipengaruhi lokasi temuan jenazah. Salah satu jenazah ditemukan di kedalaman sekitar 400 meter, sementara jenazah lainnya berada di kedalaman sekitar 200 meter.

"Perbedaan kedalaman ini sangat berpengaruh terhadap kondisi jaringan tubuh," jelas Haris.

Tim DVI saat ini menerapkan prosedur identifikasi secara bertahap dengan mengedepankan ketelitian. Jika metode primer berupa sidik jari tidak memungkinkan, tim akan beralih ke metode primer lain seperti pemeriksaan profil gigi (odontologi), tulang (osteologi), hingga pemeriksaan DNA sebagai langkah terakhir.

"Kami masih berproses. Kami upayakan data primer lain dari gigi, tulang, dan DNA. Itu semua membutuhkan waktu," kata Haris.

Selain kondisi jenazah, tantangan lain dalam proses identifikasi adalah keterbatasan data antemortem dari keluarga. Haris menyebut, foto yang diserahkan keluarga umumnya merupakan foto lama saat korban masih berusia muda, sementara kondisi wajah jenazah telah mengalami perubahan signifikan.

"Foto lama tidak bisa dijadikan acuan utama. Wajah seseorang yang sudah meninggal, apalagi terkena cuaca dan kondisi ekstrem, akan berubah. Tidak bisa dipastikan kesamaannya dengan foto saat masih hidup," ujarnya.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner