Bencana Banjir Landa Sejumlah Wilayah Kalbar, Luka Ekologis Hulu Sungai Kapuas

15 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Air selalu tiba tanpa salam. Datang dini hari. Mengetuk lantai rumah. Menyentuh kaki ranjang. Lalu merambat naik tanpa permisi.

Rahmat Hidayat masih mengingat suara itu. Gemuruh lirih bercampur gelap. Ia tak pernah menyangka banjir kembali datang setinggi sepaha orang dewasa. Sekadau Hulu serta Nanga Taman berubah kubangan luas. Jalan desa lenyap. Dapur tenggelam. Sembako mendesak.

“Ketinggian sepaha orang tua. Kebutuhan mendesak sembako,” tutur warga Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat ini kepada Liputan6.com, Jumat (9/1/2026).

Bagi warga Sekadau, air bukan sekadar limpasan hujan. Air menjadi pesan keras alam. Pesan lama tersimpan rapat kini pecah. Hulu Kapuas menyimpan cerita panjang. Cerita kerusakan pelan namun pasti.

Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Sekadau Heri Handoko Susilo mencatat waktu kejadian sejak Kamis dini hari. Hujan deras turun lama. Sungai Sekadau tak sanggup menahan debit. Air meluap memasuki permukiman.

“Curah hujan lebat sampai sangat lebat berlangsung lama sejak Rabu malam,” kata Heri Handoko Susilo.

Wilayah terdampak mencakup Kecamatan Nanga Taman serta Nanga Mahap. Ratusan desa berubah kolam raksasa. Data hingga Kamis petang menunjukkan dampak massif.

Total terdampak mencapai 3.545 kepala keluarga. Jumlah jiwa mencapai 11.583 orang. Angka bukan sekadar statistik. Angka mewakili dapur terendam. Sekolah lumpuh. Aktivitas terhenti.

Di Nanga Taman tercatat 2.882 kepala keluarga terdampak. Desa Sungai Lawak, Nanga Mongko, Senangak, hingga Semerawai menjadi saksi luapan air tak terkendali. Nanga Mahap menambah daftar panjang melalui Desa Lembah Beringin.

“Kondisi terbaru sebagian desa alami penurunan. Desa lain justru meningkat akibat kiriman hulu,” kata Heri Handoko Susilo menjelaskan.

Ketinggian air bervariasi. Rentang setengah meter hingga dua meter. Arus kiriman memperpanjang genangan. Warga bertahan di rumah panggung. Sebagian memilih mengungsi ke kerabat.

Ekologi Hulu Sungai Kapuas

Aktivis lingkungan Kalbar Syamhudi menilai banjir tak berdiri sendiri. Peristiwa bencana ini bagian akumulasi panjang tata kelola hutan bermasalah.

“Ini akumulasi peristiwa tata kelola hutan berlangsung bertahun silam,” ucap Syamhudi mengingatkan.

Ungkapan lama kembali terdengar. Dulu bencana banjir tak separah kini. Kalimat sederhana memuat makna mendalam. Ada perubahan fungsi ekosistem. Hutan kehilangan daya serap. Air kehilangan jalur alami.

“Jika ditelisik lebih jauh, terjadi perubahan fungsi ekosistem hutan,” ucapnya kembali mengingatkan, menjaga lingkungan adalah kewajiban semua umat.

Syamhudi menekankan kearifan lokal sebagai kunci bertahan. Rumah panggung bukan sekadar tradisi. Rumah panggung hasil adaptasi ekologis panjang. Namun kearifan lokal tak cukup tanpa kebijakan struktural.

“Jika satu sistem alami rusak, langkah tanggap darurat wajib hadir,” ujarnya.

Dia juga menyoroti kesiapsiagaan wilayah rawan. Sampan serta pelampung mesti tersedia. Bencana ekologi tak boleh dianggap rutinitas musiman.

Dampak Sosial Ekonomi

Bencana banjir memukul aktivitas warga. Ribuan rumah terendam. Akses desa terputus. Jalan rusak. Jembatan terganggu. Fasilitas umum lumpuh.

Sebagian warga bertahan. Sebagian mengungsi. Pilihan sulit muncul kala air menutup pilihan hidup. Anak berhenti sekolah. Petani kehilangan kebun. Pedagang kehilangan lapak.

BPBD menurunkan personel. Evakuasi berlangsung. Monitoring dilakukan rutin. Patroli air dilakukan siang malam. Koordinasi lintas instansi diperkuat melibatkan Polri, TNI, DPKP, kecamatan, desa.

Langkah darurat disiapkan. Logistik ditambah. Personel lapangan diperkuat. Proses penetapan status darurat dipercepat.

Kalbar Terendam Luas

Pusdalops Provinsi Kalimantan Barat mencatat banjir meluas. Koordinator Harian, Daniel, menyebut laporan masuk dari berbagai kabupaten.

“Beberapa wilayah terdampak banjir rob serta hujan intensitas tinggi,” ujarnya.

Kabupaten Sambas melaporkan banjir sejak awal Januari. Desa Tempapan Hulu serta Sajingan terdampak 406 kepala keluarga. Sekadau mencatat dampak signifikan. Melawi mengalami banjir bandang disertai longsor.

Di Tanah Pinoh empat desa terdampak. Batu Luar, Maris Permai, Bina Jaya, Pelita Kenaya mencatat ratusan jiwa terimbas. Pendataan masih berlangsung.

Kota Singkawang serta Kabupaten Sintang turut masuk daftar wilayah terdampak. Data fasilitas umum masih dikaji cepat.

Daniel menegaskan pentingnya pembaruan data. Data menjadi dasar kebijakan. Tanpa data akurat penanganan berisiko meleset.

Ia mengingatkan potensi hujan masih tinggi. Prakiraan BMKG menunjukkan peluang hujan ringan hingga lebat beberapa hari ke depan.

“Lingkungan mesti siap menampung air hujan,” katanya.

Sungai dangkal. Drainase tersumbat. Parit kehilangan fungsi. Kombinasi ini mempercepat banjir.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner