Revolusi Hijau Warga Simbang Berawal dari Kandang Sapi

19 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Di balik barisan karst Maros yang kokoh bak tembok purba, kehidupan warga desa terus bergerak dalam ritme yang sederhana.

Udara pagi membawa aroma rumput basah, embun melekat di sisi-sisi kandang, dan suara sapi terdengar seperti salam awal hari.

Namun di Dusun Simbang, Desa Tana Bontoa, sebuah revolusi hijau tengah tumbuh pelan, senyap, namun mengubah cara hidup banyak keluarga.

Di sanalah Daeng Jusman (38), petani sekaligus peternak, memulai paginya. Dengan kain sarung yang dilipat hingga lutut dan sandal yang sudah aus, ia melangkah menuju kandang sapi di samping rumahnya.

Dulu, ini hanya rutinitas harian. Kini, kandang itu adalah pusat energi, pupuk dan harapan baru.

“Dulu kotoran sapi bikin masalah, bikin bau, bikin repot,” katanya sambil tersenyum tipis. “Sekarang justru jadi uang, jadi pupuk, jadi api di dapur.”

Perubahan itu datang lewat sebuah program yang perlahan mengubah cara pandang warga tentang limbah, yaitu Kampung Hijau Energi Merawat Bumi, diinisiasi oleh Yayasan Hadji Kalla. Dan di Simbang, Daeng Jusman menjadi salah satu yang paling merasakan dampaknya.

Api Biru dari Kandang Belakang

Di sisi kandang milik Jusman, terpasang sebuah instalasi biogas sederhana: reaktor beton yang dihubungkan dengan pipa menuju dapur.

Setiap pagi, kotoran sapi yang baru terkumpul didorong masuk ke dalam reaktor. Dari situlah gas metana terproduksi dan dialirkan ke kompor.

“Api biru dari biogas itu stabil sekali,” kata Jusman. “Mau masak air, goreng ikan, semuanya bisa. Dan yang paling terasa, saya tidak beli LPG lagi.”

Bagi banyak keluarga di Maros, biaya LPG bisa menggerus pendapatan bulanan. Peralihan ke biogas menjadi angin segar—lebih murah, lebih ramah lingkungan, dan lebih mudah dikontrol. Bahkan, api biru itu telah menjadi simbol kemandirian baru bagi warga desa.

Namun yang paling menarik bukan pada energi yang dihasilkan, tetapi pada limbah cair yang keluar dari proses biogas.

Biosluri, Ramuan Emas dari Kandang

Dalam botol plastik bekas air mineral, Jusman memperlihatkan cairan kecokelatan yang tampak biasa saja. Namun baginya, inilah “emas cair” biosluri, pupuk organik hasil samping biogas yang kini menyuburkan lahan sawahnya.

“Waktu pertama coba, saya sendiri kaget,” ujarnya sambil menunjuk ke hamparan padi yang menguning serempak. “Bunganya banyak, bulirnya sama besar, tanahnya juga jadi lebih empuk.”

Biosluri itu ia campur dengan ramuan tradisional fermentasi, resep turun-temurun petani Nusantara. Di mana air kelapa, bawang putih, dan daun-daunan pahit. Hasilnya: pupuk organik kaya nutrisi yang membuat sawahnya panen merata.

Di Dusun Simbang, cerita keberhasilan itu cepat menyebar. Petani lain yang awalnya ragu kini ikut mencoba. “Sekarang lebih dari 70 persen lahan di kampung ini sudah organik,” tutur Jusman bangga kepada Liputan6.com, Sabtu (7/2/2026).

Ekosistem mandiri yang menghubungkan warga dengan alam melalui Program Kampung Hijau Energi dirancang sebagai siklus tertutup. Di mana rumput dari sawah menjadi pakan ternak.

Kotoran sapi menjadi biogas dan biosluri dan biosluri kembali ke sawah sebagai pupuk. Sawah subur menghasilkan pakan kembali. Tidak ada limbah yang terbuang.

Menurut Sapril Akhmadi, Manager Program Lingkungan Yayasan Hadji Kalla, ini adalah bentuk nyata pertanian regeneratif.

“Limbah bukan lagi masalah, tapi sumber nilai tambah. Ini mengurangi ketergantungan warga pada pupuk kimia dan energi fosil, sekaligus melindungi lingkungan.”

Data internal program mencatat, setiap instalasi biogas mengurangi emisi karbon setara 130 pohon per tahun. Sementara secara ekonomi, warga bisa menghemat ratusan ribu rupiah tiap bulan dari biaya energi dan pupuk.

Teknisi dari Kampung Sendiri

Di banyak desa, program luar sering berakhir dengan ketergantungan pada teknisi dari kota. Namun tidak di Simbang. Warga dilatih menjadi teknisi biogas mandiri, mereka belajar memperbaiki keran gas, memeriksa tekanan, membersihkan reaktor, hingga merawat kandang sehat.

“Kalau ada masalah, warga sini bisa perbaiki sendiri,” ujar seorang fasilitator lapangan. “Mereka bukan penerima manfaat, mereka adalah pelakunya.”

Dengan pengetahuan itu, warga membuka Gerai Pupuk Mandiri, tempat produksi dan distribusi pupuk organik cair hasil olahan mereka sendiri. Gerai ini kini menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga petani di Simbang.

Mindset Baru, Masa Depan Baru

Namun perubahan paling sulit bukanlah membangun instalasi atau menghasilkan pupuk. Tantangan sejati ada di kepala dan hati warga.

“Di sini orang sudah puluhan tahun pakai pupuk kimia, pakai LPG. Mengubah kebiasaan itu yang paling lama,” ujar Jumadi, mentor program.

Pelan-pelan, lewat diskusi panjang, percontohan, dan hasil nyata di sawah Jusman, warga mulai membuka pikiran. Kemandirian energi dan pertanian bukan lagi konsep abstrak, tapi hal yang mereka lihat sendiri dari halaman rumah tetangga.

Simbang, Laboratorium Hidup Ketahanan Energi

Kini, Dusun Simbang dan desa-desa sekitarnya mulai dilirik sebagai percontohan Kampung Berdaulat Energi oleh Kementerian ESDM.

Ketua Forum Komunitas Hijau, Yusran, menegaskan bahwa perubahan paling solid adalah perubahan yang tumbuh dari akar rumput.

“Ketahanan lingkungan itu lahir dari komunitas,” katanya. “Program Kampung Hijau Energi membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari pola pikir dan praktik kecil masyarakat.”

Kedaulatan yang Tumbuh dari Halaman Belakang

Di senja hari, saat bayangan tebing karst memanjang di atas sawah, Daeng Jusman berjalan pelan menyusuri pematang. Di tangannya ia membawa jerigen biosluri yang akan ia gunakan untuk menyuburkan lahan esok hari.

Baginya, kotoran sapi bukan lagi sesuatu yang layak dihindari. Dari sanalah ia mendapatkan energi, pangan, dan sekaligus kesempatan untuk menjaga bumi. “Kalau kita rawat alam, alam juga rawat kita,” ujarnya lirih.

Di Maros, revolusi hijau itu tak datang dari laboratorium canggih atau gedung bertingkat. Ia tumbuh dari kandang sapi, dari dapur warga, dari sawah-sawah kecil yang dikelola tangan petani seperti Jusman.

Dan dari sana, masa depan yang lebih hijau sedang disemai—tetes demi tetes biosluri, nyala demi nyala api biru.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner