Caping Kalo Kudus, Warisan Nyaris Punah yang Dihidupkan Lewat Tari

18 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Kerajinan caping kalo atau penutup kepala tradisional khas Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, kini nyaris punah. Pemakaian topi besar tradisional yang dikenakan untuk perempuan ini jumlahnya bisa dihitung jari.

Prihatin dengan kondisi tersebut, sejumlah seniman berupaya 'nguri-nguri' atau melestarikan salah satu kearifan lokal khas Kudus ini.

Upaya kongkret yang dilakukan sejumlah seniman Kota Kretek, sebutan lain Kota Kudus, dengan menuangkanya dalam maha karya Tari Caping Kalo.

Dari sudut pandang kaca mata sejumlah seniman Kudus, mereka melihat bahwa caping kalo bukanlah sekadar properti visual biasa. Namun keberadaanya sarat makna filosofis.

"Anyaman bambu yang rapat dan halus melambangkan kehidupan masyarakat yang rukun dan guyub, " ujar koreografer tari caping kalo, Kinanti Sekar Rahina kepada wartawan, Minggu (8/2/2026).

Sedangkan kerangka bambu yang kokoh, lanjut Kinanti, merepresentasikan jiwa perempuan di kaki Pegunungan Muria Kudus yang kuat dan tabah.

"Selain itu, kehidupan perempuan Muria setia menjaga nurani serta tradisi, baik dalam peran sebagai individu, ibu rumah tangga maupun pekerja, " ucap Kinanti.

Terinspirasi kehidupan perempuan Muria dan caping kalo, Kinanti pun menuangkan idenya ke dalam karya seni tari caping kalo.

Tarian khas Kudus dipersembahkan Kinanti di hadapan publik melalui pagelaran tari caping kalo, di ballroom sebuah hotel di Kudus.

Dalam pagelaran malam itu, sejumlah penari wanita tampak anggun dan gemulai menarikan tari caping kalo.

“Ini (tari caping kalo) adalah karya tari tunggal yang merepresentasikan perempuan Muria yang luwes, pantes dan teguh memegang nilai kehidupan,” ungkap Kinanti.

Caping kalo yang dikenakan di kepala seperti halnya manusia yang menempatkan Tuhan di atas segalanya, tempat bersandar atas kegelisahan dan pengharapan.

Caping kalo sendiri merupakan penutup kepala tradisional berbentuk lingkaran yang terbuat dari anyaman bambu halus dan daun rembuyan.

Dahulu, caping kalo digunakan para petani pegunungan Muria sebagai pelindung dari terik matahari. Kini caping kalo telah berkembang, menjadi ikon budaya dan pelengkap busana adat perempuan Kudus.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner