Kisah Jack, Bayi Orang Utan dengan Kaki Bernanah Tertusuk Duri Sawit

8 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Tiga bayi orang utan dibawa ke arena bermain khusus di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam, Kampung Merasa, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Selasa (3/2/2026) pagi. Tempat ini memang dirancang untuk bayi orang utan bernasib malang, yang diselamatkan karena terpisah dari induknya.

Hannes, bayi orang utan paling tua, langsung loncat ke batang pohon dan terus naik hingga mencapai dahan. Sementara Lucas, asyik bergelantungan. Tapi tidak dengan Jack, bayi orang utan termuda yang belum satu tahun, masih memegang erat penjaganya, seorang animal keeper.

“Jack memang begini, masih ragu-ragu untuk turun ke tanah,” kata Saiful, sang animal keeper penjaga Jack.

Meski demikian, jemari kecilnya hanya sesekali menggapai ranting pohon, itu pun dilakukan dengan sangat hati-hati. Alih-alih memanjat tinggi mengikuti keriuhan dua temannya, Hannes dan Lukas, Jack lebih sering memilih kembali ke tempat amannya yaitu pelukan hangat seorang animal keeper.

Bagi Jack, dekapan manusia adalah satu-satunya kehangatan yang ia kenal setelah kehilangan dekapan induknya di belantara. Jack saat ini berada di bawah pengawasan ketat Conservation Action Network (CAN). Meski sudah mulai diperkenalkan dengan lingkungan luar, bayi orangutan yang belum genap berusia satu tahun ini masih membawa sisa-sisa trauma fisik.

“Jack memang sudah memasuki fase bermain di playground. Kadang ia terlihat menyendiri, dan itu normal bagi bayi yang baru kehilangan induknya,” ungkap Paulinus Kristanto, Founder dan Direktur CAN.

Kondisi Jack saat ini sudah jauh lebih baik dibanding saat pertama kali dievakuasi pada 30 November lalu. Kala itu, Jack datang dengan tubuh yang hanya tinggal tulang (BCS 1). Telapak kakinya bernanah akibat tusukan duri sawit yang tertinggal, tubuhnya demam tinggi, dan ia menderita dehidrasi.

"Dahulu ada nanah di telapak kakinya, sekarang sudah mulai sembuh. Hasil medical check up darah juga menunjukkan tidak ada kelainan. Dia mulai menyesuaikan diri dan tidak lagi takut pada manusia," tambah Paulinus.

Keberadaan Jack di PPS Long Sam bermula dari laporan warga di Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Kabupaten Kutai Timur. Jack ditemukan sendirian di bawah pohon kelapa sawit sebelum akhirnya dirawat sementara oleh sebuah keluarga selama tiga hari.

Mendengar informasi tersebut, BKSDA Kalimantan Timur segera bergerak cepat untuk melakukan evakuasi agar Jack mendapatkan perawatan medis yang layak.Kepala BKSDA Kaltim, M. Ari Wibawanto, menjelaskan bahwa langkah membawa Jack ke PPS Long Sam adalah bagian dari komitmen jangka panjang.

"Kami segera tindak lanjuti dan ambil dari masyarakat untuk direhabilitasi. Harapan kami, kedepannya Jack tidak hanya sehat secara fisik, tetapi sifat keliarannya juga muncul kembali," tuturnya.

Tugas para animal keeper di CAN saat ini adalah tugas yang dilematis yakni memberikan kasih sayang untuk memulihkan trauma. Namun perlahan harus "melepaskan" agar Jack bisa menjadi orang utan sejati.

Setiap tegukan susu dan buah yang dilahap Jack saat ini adalah modal baginya untuk tumbuh besar. BKSDA Kaltim menargetkan, jika proses rehabilitasi berjalan mulus, Jack akan dipulangkan ke rumah asalnya.

"Kami upayakan Jack dapat dilepasliarkan kembali di beberapa lokasi pelepasliaran kami yang terpantau," tutup Ari.

Untuk saat ini, Jack mungkin masih lebih suka memeluk erat perawatnya. Namun, setiap gesekan jemarinya pada ranting pohon di PPS Long Sam adalah janji bahwa suatu saat nanti, ia akan kembali menjadi raja di pucuk-pucuk pohon Kalimantan.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner