Wamen KKP Temui Keluarga Korban Pesawat ATR Jatuh, Bicara Soal Pendampingan

12 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Laksamana TNI (Purn) Didit Herdiawan menemui keluarga tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang menjadi korban kecelakaan pesawat IAT ATR 42-500 di Greeters Meeters Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Selasa (20/1/2026). Dalam pertemuan tersebut, Didit memastikan seluruh keluarga korban mendapatkan pendampingan penuh.

Sebagai informasi, tiga pegawai KKP yang berada dalam pesawat nahas tersebut yakni Ferry Irawan selaku Analis Kapal Pengawas, Deden Mulyana sebagai Pengelola Barang Milik Negara dan Yoga Naufal yang bertugas sebagai Operator Foto Udara.

Didit menegaskan bahwa pendampingan kepada keluarga korban dilakukan tanpa pengecualian. Menurutnya, seluruh keluarga akan terus didampingi selama proses pencarian dan evakuasi berlangsung.

"Untuk pelaksanaan kegiatan pendampingan, enggak ada yang lolos dari satu pun. Jadi setiap orang, setiap keluarga didampingi semua," ujar Didit kepada wartawan.

Selain pendampingan, Didit juga menyatakan dukungannya terhadap proses evakuasi korban yang saat ini masih dilakukan oleh tim SAR gabungan di lokasi jatuhnya pesawat yakni di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

"Terus untuk pelaksanaan kegiatan evakuasi dilaksanakan tetap," lanjutnya.

Dia mengungkapkan, seluruh keluarga ketiga pegawai KKP telah berada di Makassar. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan juga telah mengambil data ante mortem dari keluarga korban.

"Keluarga korban dari KKP sudah lengkap dan sudah diambil oleh DVI. Dan kita kawal semua itu," tuturnya.

Didit pun menyampaikan rasa prihatin atas musibah kecelakaan pesawat ATR 42-500 tersebut dan berharap proses pencarian serta evakuasi dapat segera membuahkan hasil. Dia menambahkan, pertemuan dengan keluarga korban dilakukan sebagai bentuk empati dan tanggung jawab pemerintah terhadap para korban dan keluarganya.

"Ya merasa prihatinlah untuk kejadian ini," ucapnya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sulsel Kombes Didik Supranoto menjelaskan bahwa setelah pengumpulan data ante mortem, tim DVI akan melanjutkan ke tahap post mortem setelah adanya penyerahan jenazah atau bagian tubuh korban dari Basarnas.

"Tes post mortem ini bisa kita lakukan setelah nanti adanya penyerahan dari tim pencari yang dipimpin Basarnas, baik itu berupa jasad korban, tubuh korban, atau barang-barang lainnya," jelas Didik.

Didik menambahkan, seluruh jenazah korban telah ditemukan, tim DVI akan melakukan pencocokan antara data ante mortem dan post mortem untuk memastikan identitas korban sesuai dengan manifes penumpang.

"Baru kita bisa menyimpulkan apakah korban yang kita temukan itu sesuai dengan manifes yang disampaikan oleh pihak perusahaan penerbangan atau Kementerian Perhubungan," tegasnya.

Ia menekankan bahwa proses identifikasi dilakukan secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum agar memberikan kepastian kepada keluarga dan masyarakat.

"Setelah itu baru kita bisa meyakinkan kepada semua masyarakat bahwa hasil identifikasi benar-benar sesuai dengan manifes," pungkasnya.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner