Veronica Tan Soroti Faktor Ekonomi Dalam Kasus Ibu di Makassar Jual Tiga Anak dan Satu Keponakan

11 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Dugaan kasus penjualan anak yang kembali mencuat di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, mendapat perhatian Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). Wakil Menteri PPPA Veronica Tan menilai kasus kekerasan terhadap anak, termasuk dugaan penjualan anak, merupakan fenomena kompleks yang memiliki banyak faktor penyebab. Dia menyebut kasus tersebut tidak bisa dilepaskan dari persoalan mendasar dalam keluarga, terutama tekanan ekonomi dan kondisi sosial.

"Kalau ada orang tua yang melukai anak sendiri, bahkan menjual anaknya sendiri, kita bisa melihat kita memang mungkin beban keluarga, beban kemiskinan, beban percekcokan, beban ekonomi yang jadi dasar, dan juga beban pendidikan," kata Veronica di Makassar, Kamis (26/3/2026).

Ia menambahkan, persoalan tersebut harus dilihat secara menyeluruh, tidak bisa ditangani secara parsial. Salah satu kunci utama adalah memperkuat ekonomi masyarakat dari tingkat paling bawah.

"Kalau kita melihat apa yang terjadi ini adalah kita harus kembali kepada bagaimana mengembalikan ekonomi itu ke desa," jelasnya.

Selain itu, Veronica juga menyoroti pentingnya penguatan sistem perlindungan perempuan dan anak yang sudah dibentuk pemerintah, termasuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia serta integrasi antarlembaga dari tingkat pusat hingga ke daerah.

"Tapi kapasitas building dan bagaimana mengintegrasikan antara UPTD PPA dengan SDM, itu yang perlu kita tingkatkan," katanya.

Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa upaya perlindungan anak tidak boleh hanya bersifat reaktif setelah kasus terjadi, tetapi harus dimulai dari tingkat desa melalui perencanaan pembangunan yang berpihak pada perempuan dan anak.

"Perlindungan terpadu terhadap anak itu harus dimulai dari desa. Kalau hanya menunggu kasus lalu baru ditangani, itu susah," tegasnya.

Dalam konteks tersebut, peran perempuan juga dinilai sangat penting, terutama dalam memperkuat ketahanan ekonomi keluarga. Apalagi saat ini ada banyak perempuan yang bahkan menjadi tulang punggung keluarga.

"Kita dorong bagaimana kepala desa itu punya perspektif bahwa perempuan harus diikutsertakan sebagai subjek, karena banyak yang jadi tulang punggung keluarga," tambahnya.

Ibu Di Makassar Dilaporkan Jual 3 Anak dan 1 Keponakan

Sebelumnya, dugaan kasus penjualan anak kembali mencuat di Kota Makassar. Seorang pria bernama Anto (40) melaporkan istrinya sendiri yang berinisial MT (38) ke Polda Sulawesi Selatan, usai diduga menjual tiga anaknya serta satu keponakan kepada orang lain.

Dalam keterangannya, Anto mengungkapkan bahwa ia memiliki lima anak, terdiri dari tiga anak kandung dari pernikahannya dengan MT dan dua anak sambung.

Kecurigaan Anto bermula saat ia menyadari beberapa anaknya tidak lagi berada di rumah. Salah satunya adalah bayi berinisial AZ yang masih berusia 3 bulan dan kini tidak diketahui keberadaannya.

Selain itu, salah satu anak sambungnya berinisial AI juga diduga telah dijual oleh istrinya bersama pihak keluarga.

"Saya dapat informasi dari istri saya kalau anak sambung saya, AI, itu sudah dijual dengan mertua saya," ujar Anto kepada wartawan, Rabu (25/3/2026).

Selain itu, Anto juga mengaku memperoleh informasi dari Ketua RT setempat terkait anak kandungnya berinisial AZ. Ia mengatakan, sejak masih dalam kandungan, bayi tersebut diduga sudah 'dipesan' oleh seseorang dengan uang panjar sebesar Rp 1,8 juta.

"Saya tahu dari Pak RT, katanya waktu anak saya masih dalam kandungan sudah ada yang panjar Rp 1,8 juta. Saya dengar dari Pak RT, yang sudah panjar datang (setelah bayinya lahir) dan cekcok karena bayi belum diberikan," katanya.

Kecurigaan lalu semakin menguat ketika anaknya yang lain, berinisial AS, tidak pernah ditemui selama sekitar dua bulan terakhir. Anto menduga anak tersebut juga mengalami hal serupa.

"AS ini menurut saya dia juga sudah dijual karena sudah tidak pernah datang lagi, ada dua bulan saya tidak pernah ketemu dengan anak saya," tambahnya.

Tak hanya itu, Anto juga mengungkap adanya dugaan serupa pada bayi dari keluarga iparnya. Ia menyebut bayi tersebut langsung diambil seseorang setelah dilahirkan dengan nilai transaksi sekitar Rp 8 juta.

"Istri saya bilang waktu melahirkan iparnya itu, bayinya juga langsung ada yang ambil dan sudah dibayar Rp 8 juta," ungkapnya.

Sebelum kejadian ini terungkap, MT sempat berpamitan untuk pergi ke rumah orang tuanya dengan alasan menghindari sakit saat musim hujan. Namun, setelah lebih dari sepekan, ia tidak kunjung kembali. Saat Anto mendatangi rumah mertuanya, ia mendapati istri dan anak-anaknya sudah tidak berada di sana.

"Saya sudah desak pulang, tapi tidak mau. Saya datang ke rumah mertua, tapi istri dan anak-anak saya sudah tidak ada," tuturnya.

Atas kejadian tersebut, Anto kemudian melaporkan istrinya ke Polda Sulawesi Selatan pada 2 Maret 2026 dengan nomor laporan LP/B/248/III/2026/SPKT/POLDA SULAWESI SELATAN. Hingga kini, ia berharap keberadaan anak-anaknya segera terungkap dan dapat kembali dengan selamat.

Terpisah Kasubdit II Direktorat Reserse PPA dan PPO Polda Sulsel, Kompol Zaki Sungkar membenarkan laporan yang dilayangkan oleh Anto. Dia menyebut saat ini pihaknya telah melakukan penyelidikan mendalam dan mendapatkan titik terang.

"Iya betul, kami belum bisa memberikan keterangan banyak, biarkan kami kerja maksimal dulu, kami tidak ingin pelaku menyembunyikan dan kabur," kata Zaki saat dikonfirmasi terpisah, Kamis (26/3/2026).

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner