QRIS BRI Jadi Persiapan Awal Jajan Pasar Sahitya Saat Mulai Usaha, Transaksi Lebih Praktis

23 hours ago 7
  • Kapan usaha jajanan pasar Denis mulai dirintis?
  • Mengapa lapak jajanan Denis di Jalan Mojo ramai pembeli?
  • Bagaimana Denis mendapatkan pasokan jajanan pasar untuk dijual?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Yogyakarta - Melewati Jalan Mojo Kelurahan Baciro Yogyakarta, ada yang menarik perhatian karena sebelumnya tak pernah terlihat. Lapak jajajan pasar yang baru buka satu bulan lalu ramai pembeli karena lokasinya yang strategis.

Bersebrangan dengan Mako Brimob Baciro, tak heran jika lapak jajanan pasar tersebut ramai saat jam berangkat kerja dan sekolah. Selain itu, jalan Mojo juga merupakan jalan alternatif untuk menghindari kemacetan di sekitar UIN Sunan Kalijaga.

Sembari menunggu pembeli, Denis (46), pemilik lapak jajanan pasar menceritakan tentang usahanya yang baru dirintisnya. Buka dari jam 06.00 pagi, Denis biasanya tutup pukul 10.00 atau sampai jajanannya habis.

Jika tidak habis, jajanan tersebut akan dititipkan pada penjual soto yang merupakan keponakannya. Soto tersebut buka pada pukul 10.00 di tempat yang sama. Kontrakan Denis juga tidak jauh, sehingga bisa memantau penjualan jajanannya yang dititipkan.

"Ini lumayan, mbak, dari soto ini. Bisa 10 sampai 15 pcs lah," jelas Denis saat ditemui pada (2/5/2026).

Jajanan pasar menjadi pilihan pengganjal perut untuk sarapan bagi anak kuliah hingga pekerja kantoran. Ada beragam variasi, tiga sampai lima jenis jajan cukup bikin kenyang sampai waktu makan siang tiba.

Perantau dari Solo Sejak 2019

Suara kereta api lewat terdengar di sela-sela Denis bercerita tentang keluarga dan usaha yang dijalaninya. Lapak jualan Denis memang hanya berjarak beberapa meter dari perlintasan rel kereta api.

Ibu satu anak ini merupakan perantau dari Solo sejak tahun 2019. Denis bercerita jika ia pindah ke Yogyakarta bersama sang anak setahun setelah sang suami lebih dulu pindah ke Kota Pelajar karena pekerjaan.

"Jadi suami saya duluan di sini. Selang setahun baru saya. Nunggu anak saya lulus SMP jadi mulai SMA di sini," kata Denis.

Ditemani suara lalu lalang kendaraan, Denis melanjutkan cerita tentang masa ketika sang anak menjalani sekolah di tengah pandemi Covid-19. Anak semata wayangnya, yang merupakan angkatan 2022, kini telah memasuki semester akhir di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Yogyakarta.

Denis mengungkapkan bahwa dirinya biasanya pulang ke Solo satu kali dalam sebulan. Selama tinggal di Yogyakarta, Denis menempati rumah kontrakan milik saudaranya.

Usaha Jajanan Pasar Baru Dirintis pada 15 April

Usaha jajanan pasar Denis baru dirintis pada 15 April 2026 lalu. Sepanjang jalan Mojo, hanya Denis yang berjualan jajan pasar. Selebihnya menjual soto, gorengan, hingga es teh. Tentu ini menjadi peluang untuk yang sudah dipikirkan sebelum memulai usaha.

"Cuma karena saya sebelum jualannya sudah survei-survei tempatnya yang kira-kira bisa satu tempat, tapi komplit gitu (jajanan pasarnya)," ungkap Denis.

Sembari mengingat beberapa minggu yang sudah terlewat, Denis ungkap jika ia membeli jajanan pasar secara kulakan atau grosir. Sebelum mulai menjajakan jajanannya di jalan Mojo, Denis menempuh perjalanan sekitar kurang lebih delapan kilometer.

"Kalau kulakan kan nggak bisa kembali. Saya ngambilnya di jalan Magelang pagi, subuh. Di jalan Magelang itu kan ada kayak pasar, tapi itu jalan besar kayak gini," kata Denis.

Tak hanya menjual jajanan setiap Senin hingga Sabtu, Denis juga menerima pesanan. Jajanan untuk pesanannya juga dibeli Denis di pasar pagi Jalan Magelang tersebut karena murah dan masih fresh.

Meski baru membangun usaha jajanan pasar, Denis cerita ia sudah menerima pesanan 60 kotak jajan untuk pengajian di masjid dekat kontrakannya. Satu kotak jajan biasanya terdiri dari dua atau tiga jenis jajanan pasar.

Pilih Ambil Untung Sewajarnya

Usai mengurus orang belanja, Denis kembali berbagi cerita bahwa ia tak banyak mengambil untuk dalam satu buah jajan pasar. Ia hanya mengambil untung sekitar 500-700 untuk satu buah jajan pasar.

Memasang harga murah mulai dari Rp2.000, harga tersebut ramah kantong mahasiswa dan pekerja kantoran. Jika pembeli beli 10 buah jajan pasar yang harga satuannya adalah Rp2.000, sudah bisa mendapatkan lima jenis jajan pasar.

"Saya ambil untung itu antara Rp700 sampai Rp500 sampai Rp700. Nggak ada mbak yang sebiji untungnya seribu, nanti kemahalan. Jadi biasanya kalau ambilnya Rp1.500, saya jual Rp2.000. Jadi yang Rp2.500 ini, kebanyakan harganya 2 ribu," jelas Denis.

Membeli jajanan pasar secara kulakan (grosir) di Jalan Magelang, Denis biasanya membeli 20 jenis jajanan pasar, dengan masing-masing jenis terdiri dari lima buah. Setiap harinya, Denis biasanya mengganti beberapa jenis jajanan agar pembeli tidak bosan.

"Bisa dua puluhan, mbak. Satu macemnya biasanya lima. Cuma saya enaknya kalau kulakan itu bisa ganti-ganti," cerita Denis.

"Jadi misalkan item tahu. Hari ini tahu bakso, besok tahu telur. Jadi orang nggak bohong," tambah Denis.

Pernah Bisnis Frozen Food Homemade saat Covid-19

Mengingat bisnis yang dijalaninya enam tahun lalu, Denis ungkap ia pernah berbisnis frozen food homemade saat pandemi Covid-19. Aktivitas di luar rumah dibatasi, frozen food menjadi pilihan karena praktis dan tahan lama jika disimpan dengan cara yang tepat.

Namun pada saat itu, pesanan frozen food hanya ditujukan untuk orang terdekat dan teman-teman. Pasalnya, pengiriman paket mengalami hambatan yang cukup signifikan akibat kebijakan pembatasan wilayah atau lockdown.

"Saya dulu waktu covid itu Frozen food. Ya, tapi hanya teman-teman yang kenal saja. Jadi waktu covid itu kan, frozen-frozen kan malah booming mbak. Kita kan nggak bisa kemana-mana. Mereka kan nyetok apa-apa di rumah yang frozen," jelas Denis.

Bukan kali pertama menjalani usaha, Denis tentunya mengetahui trik berbisnis untuk menarik pembeli dengan harga terjangkau, namun tetap untung. Baru sekitar dua bulan usaha jajanan pasarnya berjalan, ia sudah memiliki pelanggan tetap.

"Jadi sudah ada pelanggan tetap yang datang setiap hari. Terus ada yang kantoran situ (pelanggan)," cerita Denis.

QRIS BRI Jadi Daya Tarik

Buka Senin sampai Sabtu, lapak jualan jajanan pasar Sahitya kini jadi tempat baru untuk membeli sarapan. Jajanan pasar yang tertata rapi di atas meja lipat disertai dengan tulisan harga yang tertulis jelas pastinya dilirik pembeli.

Tak hanya jajanan yang tertata rapi, Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang tersedia juga menjadi daya tarik. Hal pertama yang dipikirkan Denis ketika memulai usaha jajanan pasar ini adalah menyediakan QRIS untuk pembayaran.

"Jadi QRIS itu kan daya tarik tersendiri. Kaya ada orang minggir, naik mobil, turun, nanya bayarnya dulu," cerita Denis.

Pengguna QRIS saat ini didominasi oleh Generasi Milenial dan Generasi Z, Denis juga mengakui hal tersebut. Meski belanja dengan nominal kecil Rp5.000 hingga Rp10.000, QRIS tetap menjadi pilihan.

QRIS menjadi hal yang pertama disiapkan dan dipikirkan sebelum memulai usaha jajanan pasar. Menurut Denis, QRIS saat ini sudah menjadi kebutuhan dan 90 persen masyarakat memilih untuk menggunakan QRIS.

"Jadi awal buka itu sudah langsung saya siapkan (QRIS BRI). Itu kebutuhan mbak. Kalau orang sekarang kan kayaknya 90% orang itu pakai QRIS," jelas Denis.

Tidak Selalu QRIS, Sebagian Pembeli Masih Memilih Tunai

Meski QRIS memudahkan, namun tak sedikit yang masih memilih tunai di beberapa kesempatan. Sama halnya seperti Nida (25) yang terkadang masih lebih memilih membayar dengan uang tunai ketika belanja di lapak jualan kecil.

"Gak sering juga, biasanya kalo jajan di mall atau cafe banyak yang udah prefer QRIS. Tapi kalo pinggir jalan atau tendaan masih pake cash," kata Nida.

Di beberapa kesempatan, penggunaan QRIS dinilai sangat memudahkan dan menguntungkan. Selain praktis, transaksi melalui QRIS juga tercatat dalam mutasi bank sehingga pengguna dapat lebih mudah mengetahui dan memantau pengeluaran mereka digunakan untuk apa saja.

"Gak perlu cari kembalian dan transaksi ada catatan nya di aplikasi kak," jelas Nida.

Transformasi Digital Bank BRI di Triwulan I 2026

Mengutip Instagram BRI yang diunggah pada (17/5/2026), sepanjang Triwulan I 2026, BRI terus memperkuat perannya dalam mendorong ekonomi Indonesia melalui pendekatan inklusif serta digital channel. Hingga Maret 2026, BRI berhasil catatkan laba bersih sebesar Rp15,5 triliun tumbuh 13,7% (yoy). 

Transformasi digital Bank Rakyat Indonesia (BRI) terus menunjukkan pertumbuhan yang kuat melalui berbagai layanan digitalnya. Pada kanal Super Apps BRImo, jumlah pengguna telah mencapai 47,8 juta user dengan pertumbuhan sebesar 18,6% secara tahunan (year on year/yoy). Sejalan dengan peningkatan pengguna, volume transaksi BRImo juga meningkat signifikan hingga mencapai Rp2.042,2 triliun atau tumbuh 29,4% (yoy).

Pada layanan korporasi digital, QLola by BRI mencatat kinerja positif dengan jumlah pengguna sebanyak 320,4 ribu user. Platform ini mengalami pertumbuhan pengguna sebesar 33,1% (yoy), sementara volume transaksinya mencapai Rp4.462 triliun atau tumbuh 53,5% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada sektor merchant, BRI telah memiliki 323,7 ribu merchant yang menggunakan layanan digitalnya. Dari aktivitas tersebut, volume transaksi tercatat mencapai Rp67,9 triliun dengan pertumbuhan sebesar 26,5% (yoy).

Sementara itu, layanan QRIS BRI juga menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Volume transaksi QRIS mencapai Rp30,5 triliun dengan pertumbuhan hingga 76,0% (yoy). Jumlah transaksi pun melampaui 253 miliar transaksi, meningkat 86,7% dibandingkan periode sebelumnya.

Secara keseluruhan, capaian ini mencerminkan semakin kuatnya ekosistem digital BRI dalam mendukung transaksi keuangan masyarakat, pelaku usaha, hingga korporasi di Indonesia.   

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner