Punya Dua Cabang Dekat Kampus, Bubur Ayam D'Sari Permudah Transaksi dengan QRIS BRI

21 hours ago 8

Liputan6.com, Yogyakarta - Terletak di jalan Timoho tepatnya di depan Ahass Honda, Bubur Ayam D'Sari selalu ramai pengunjung. Tak hanya menyajikan bubur ayam, tetapi juga menyedikan menu ketoprak yang harganya terjangkau.

Tempatnya strategis dan dekat dengan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, tak heran jika selalu dilirik apalagi dengan spanduk warna kuning yang menutup bagian depan gerobak. Jika berjalan dari arah utara, bubur ayam tersebut berada di sebalah kanan jalan di bawah pohon.

Bubur ayam D'Sari 2 merupakan cabang kedua yang baru dibuka belum lama ini. Cabang pertamanya terletak di daerah Babarsari sekitaran kampus ternama seperti UPN Veteran hingga Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Lapak jualan bubur ayam D'Sari ini juga dekat dengan perlintasan rel kereta api. Sehingga apabila antrean menunggu kereta lewat cukup panjang, pengendara tentu akan melirik bubur ayam tersebut.

Jika memilih dine in atau makan di tempat, n dapat menikmati bubur apembeli dapat menambah kuah kaldu kuning, kerupuk, hingga kecap sesuai selera. Salah satu bentuk pelayanan yang diberikan ini agar pelanggayam sesuai dengan cita rasa yang diinginkan.

Perjalanan Usaha yang Dimulai Sejak 2007

Ditemui pada (8/5/2026), Rusmiyati (50) menceritakan tentang perjalanan usaha bubur ayam dan ketopraknya. Ditemani suara kendaraaan yang lalu lalang, Rusmiati ungkap jika usahanya ini dibangun pada tahun 2007.

Mempunyai dua cabang, biasanya sang anak turut membantu menjaga lapak di sela-sela jadwal kuliahnya. Lantaran sang anak sudah memasuki semester akhir, Rusmiati berencana untuk mencari karyawan untuk menjaga lapak.

"Sementara tidak ada, belum dapet orang ya, nanti mau cari," kata Rusmiyati singkat ketika ditemui pada (8/5/2026).

Meski siang itu terasa sangat terik dengan asap kendaraan yang sesekali mengganggu penciuman, sepoi angin membuat suasana menjadi sedikit lebih sejuk. Apalagi, lapak bubur ayam milik Rusmiati berada tepat di bawah rindangnya pepohonan.

Tinggalkan Pemalang, Bangun Usaha di Yogyakarta

Rusmiyati merantau ke Kota Pelajar Yogyakarta sejak tahun 2007. Sejak awal kedatangannya, ia langsung membangun usaha Bubur Ayam D'Sari. Kini, hampir 20 tahun berlalu sejak Rusmiyati memulai usahanya saat berusia sekitar 30 tahun.

"Dari 2007. Ini baru pindahan kemarin, biasanya gak pernah buka cabang, yang di Babarsari cabang yang pertama," kata Rusmiyati

Rusmiyati kini tinggal di rumah kontrakan di kawasan Timoho, tidak jauh dari lapak jualannya yang menjadi cabang kedua. Cabang Timoho tersebut baru dibuka sebelum bulan puasa atau sekitar sebelum Februari lalu. Lokasi itu dipilih karena berada dekat area kampus dan ramai mahasiswa.

Tiga bulan berlalu sejak membuka cabang di kawasan Timoho, Bubur Ayam D'Sari milik Rusmiyati kini mulai menjadi pilihan tempat sarapan murah bagi masyarakat sekitar. Cabang Timoho masih tergolong baru, Rusmiyati pun terus memaksimalkan penjualannya agar semakin dikenal dan diminati pelanggan.

Rusmiyati biasanya memasak sekitar 5 kilogram beras dan 4 kilogram ayam untuk kebutuhan penjualan bubur ayam di dua cabangnya pada keesokan hari. Mulai dari bubur, suwiran ayam, kuah kaldu, hingga sate pelengkap seperti usus dan telur puyuh dibuat sendiri olehnya.

Lapak bubur ayam tersebut buka mulai pukul 06.00 WIB hingga 12.00 WIB, dengan waktu paling ramai pembeli biasanya terjadi pada pukul 07.00 WIB hingga 09.00 WIB. Rentang waktu tersebut bertepatan dengan jam sibuk mahasiswa dan pekerja kantoran untuk mencari sarapan, terutama pada hari kerja.

Pernah Jadi Anggota Nasabah BRI

Kepada Liputan6.com, Rusmiyati cerita bahwa ia pernah menjadi anggota nasabah Bank Rakyat Indonesia (BRI) sejak pertama kali membuka usaha. Mendapatkan banyak keuntungan, modal untuk memulai usaha bubur ayam merupakan pinjaman dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI.

"Pakai aku jadi anggota itu, nasabah BRI dari dulu, dari pertama buka usaha kayaknya," kata Rusmiyati.

Namun, kurang lebih selama satu tahun terakhir Rusmiyati sudah tidak lagi menjadi nasabah BRI. Sebagai warga asli Pemalang, ia sebelumnya mengajukan pinjaman KUR melalui BRI Pemalang sesuai domisili yang tertera pada Kartu Tanda Penduduk (KTP) milIKNya.

"Dulu kan waktu pertama pengambilan masih sedikit, terus jadi 50, 100," jelas Rusmiyati.

Berbeda dengan prosedur pinjaman yang mengharuskan nasabah mengurus sesuai domisili KTP, proses penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) BRI dinilai lebih mudah. Bahkan, QRIS BRI yang kini terpasang di gerobak jualan Rusmiyati ditawarkan langsung oleh pihak BRI.

"Ditawarin ada yang datang ke ibu," katanya.

Sembari menikmati sepoian angin di bawah pohon, Rusmiyati melanjutkan ceritanya bahwa pihak Bank BRI sangat kooperatif jika ada kendala dengan QRIS BRI. Dana yang tertunda masuk akibat gangguan merupakan masalah yang sering terjadi.

Tak hanya menerapkan sistem pembayaran digital, Bubur Ayam D’Sari juga melayani pemesanan online melalui GoFood hingga ShopeeFood. Layanan tersebut bahkan sudah diterapkan Rusmiyati sejak sebelum pandemi Covid-19 atau sekitar sebelum tahun 2020.

Sang Anak Ikut Bantu Jualan di Sela Kesibukan Kuliah

Dihubungi lewat pesan teks pada (15/5/2026), Nika (22), anak Rusmiyati yang saat ini menempuh pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta, kerap membantu berjualan di sela kesibukan kuliahnya. Ia sudah ikut membantu usaha tersebut sejak awal masa perkuliahan dan membagi waktunya antara menjaga lapak serta menjalani aktivitas kampus.

"Sejak awal kuliah, biasanya kalau libur atau kalau kelas siang paginya membantu dulu," cerita Nika.

Menemani perjalanan bisnis bubur ayam sang ibu sejak kecil, Nika punya keinginan untuk berbisnis seperti sang ibunda. Bahkan Nika dan sang ibu sering bergantian menjaga di lapak Babarsari atau Timoho.

"Ada kak (keinginan untuk berbisnis), kebetulan sekarang ini saya yang menjaga lapak jualan yang pertama (lapak Babarsari)," kata Nika.

Sebagai bagian dari Generasi Z, Nika menilai metode pembayaran digital seperti QRIS sangat memudahkan aktivitas transaksi. Ia tidak hanya menjadi pengguna QRIS dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga turut menerima pembayaran pelanggan melalui QRIS saat membantu berjualan.

"Cukup membantu untuk proses transaksi jadi lebih cepat karna tdk menyiapkan kembalian," jelas Nika.

Sementara itu, Rusmiati menilai pembayaran digital memudahkan karena dana dari transaksi dapat langsung masuk ke rekening sekaligus menjadi tabungan. Jika tidak ada kebutuhan mendesak, uang yang masuk melalui QRIS biasanya dibiarkan tetap tersimpan sebagai tabungan.

"Menurut ibu sih malah QRIS sekalian masuk ke rekening kita," jelasnya singkat.

BRImo Semakin Diminati

Mengutip laman resmi BRI yang diakses pada Sabtu (16/5/2026) dan diunggah pada Rabu (4/2/2026), Direktur Information Technology BRI, Saladin Dharma Nugraha Effendi, menyampaikan bahwa penguatan kinerja BRImo merupakan bagian dari strategi BRI dalam memperkuat infrastruktur teknologi informasi dan mengoptimalkan sistem transaksi secara terintegrasi.

Upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan berbagai layanan digital, mulai dari ATM, CRM, mesin EDC merchant, QRIS BRI, hingga BRILink Agen yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

"BRImo menjadi salah satu pilar penting dalam transformasi digital BRI. Kami terus memperkuat kapabilitas teknologi agar BRImo mampu memberikan pengalaman transaksi yang semakin andal, sekaligus mendukung aktivitas ekonomi nasabah di berbagai segmen," ujar Saladin.

Ia juga menambahkan bahwa transformasi digital BRI tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah transaksi, tetapi juga kualitas layanan dan keandalan sistem agar tetap stabil, aman, dan mampu mengikuti pertumbuhan transaksi digital yang terus meningkat.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner