Basarnas Serahkan Black Box Pesawat ATR ke KNKT, Penyebab Kecelakaan Segera Terungkap

5 days ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Basarnas menyerahkan dua perangkat black box yakni Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR), kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Kamis (22/1/2026).

Penyerahan berlangsung di Kantor Basarnas Kelas A Makassar dan ditandai dengan penandatanganan berita acara serah terima oleh Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohamad Syafii dan Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono.

Black box tersebut ditemukan tim SAR gabungan pada hari kelima operasi pencarian di medan Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohamad Syafii memastikan objek yang ditemukan di lokasi jatuhnya pesawat telah dipastikan sebagai black box milik pesawat ATR 42-500. Kepastian itu diperoleh setelah dilakukan konfirmasi langsung bersama KNKT.

"Pada hari kelima operasi, tim SAR gabungan menemukan part pesawat yang diduga black box. Hari ini, setelah dikonfirmasi bersama Bapak Kepala KNKT, dipastikan bahwa yang ada di hadapan kita ini benar adalah black box," ujar Syafii.

Ia juga menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh unsur SAR gabungan yang terlibat dalam proses pencarian. Menurutnya, keberhasilan menemukan black box tidak lepas dari kerja keras lintas instansi di tengah medan yang sangat menantang.

"Terima kasih, hormat, dan kebanggaan saya sampaikan kepada seluruh tim SAR gabungan, baik dari TNI, Polri, maupun potensi SAR lainnya. Bahkan Pangdam turun langsung memimpin pasukan TNI AD di lapangan," katanya.

KNKT Langsung Investigasi

Sementara itu, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menegaskan data yang tersimpan di dalam black box akan menjadi fondasi utama untuk mengungkap penyebab kecelakaan secara objektif dan ilmiah. Pihak KNKT pun memastikan akan langsung melakukan investigasi.

"Ditemukannya black box ini bertujuan untuk menjawab satu pertanyaan besar: apa yang menyebabkan terjadinya kecelakaan pesawat ini," kata Soerjanto.

Ia menjelaskan bahwa CVR merekam seluruh percakapan dan suara di kokpit melalui empat channel, mulai dari komunikasi dengan pengawas lalu lintas udara (ATC), percakapan antar pilot, hingga suara-suara lain yang terdengar selama penerbangan.

"Segala pembicaraan pilot dan suara di dalam kokpit terekam. Itu menjadi bahan penting dalam proses investigasi," ujarnya.

Sementara FDR merekam sekitar 88 parameter penerbangan, termasuk kecepatan, ketinggian, serta kondisi teknis pesawat sejak lepas landas hingga sebelum kecelakaan terjadi.

"Data ini akan kami analisis secara mendalam untuk merekonstruksi apa yang sebenarnya terjadi," tambah Soerjanto.

Black box Ditemukan di Medan Ekstrem

Black box pesawat ATR 42-500 ditemukan di kawasan Gunung Bulusaraung yang memiliki jurang terjal, tebing curam, serta cuaca yang kerap berubah secara ekstrem. Kondisi tersebut membuat proses pencarian membutuhkan strategi khusus, kehati-hatian tinggi, dan koordinasi lintas instansi.

Soerjanto mengakui bahwa pada awalnya, peluang menemukan black box di lokasi tersebut terbilang kecil. Namun, berkat kegigihan tim SAR, kedua perangkat vital itu akhirnya berhasil dievakuasi.

"Dengan kondisi medan seperti itu, awalnya saya memperkirakan kemampuan untuk menemukan black box sangat terbatas. Lokasinya sangat ekstrem. Alhamdulillah, dengan kerja keras dan doa bersama, black box berhasil ditemukan," katanya.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner