Hujan Tidak Kunjung Turun, Segini Biaya Tabur Garam di Langit Batam

16 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah ancaman menurunnya debit air waduk di Kota Batam, upaya 'memesan hujan' dari langit kini dilakukan lewat teknologi modifikasi cuaca. Selama 20 hari ke depan, pesawat penabur garam disiapkan untuk memancing hujan turun di wilayah tangkapan air Batam. 

Kepala BMKG Hang Nadim Batam Ramlan Djambak mengatakan, teknik modifikasi cuaca dilakukan dengan menaburkan garam atau Natrium Klorida (NaCL) ke awan-awan potensial agar bisa memicu hujan. Meski garam yang digunakan relatif murah, biaya operasi keseluruhan disebut sangat besar karena melibatkan penyewaan pesawat, pilot, hingga personel teknis.

“Kalau sekali penerbangan mungkin bisa habis sekitar Rp 200 jutaan. Yang mahal itu pesawat dan operasionalnya,” ujar Ramlan kepada Luputan6.com, Jumat (22/5/2026).

Dengan estimasi dua kali penerbangan per hari, biaya modifikasi cuaca diperkirakan bisa menyentuh sekitar Rp 400 juta per hari selama operasi berlangsung.

“Kalau ada pertumbuhan awan yang cukup memadai, baru dilakukan penaburan. Garam itu berfungsi sebagai inti kondensasi agar awan-awan yang terpencar bisa menyatu dan akhirnya menjadi hujan,” terangnya..

Menurutnya, modifikasi cuaca bukan berarti menciptakan hujan dari langit cerah. Teknologi itu hanya bekerja jika terdapat potensi awan hujan di atmosfer.

“Kalau tidak ada potensi awan, tidak bisa dilakukan. Jadi bukan sembarang menabur garam lalu langsung hujan,” kata Ramlan.

Langkah ini dilakukan menyusul mulai berkurangnya cadangan air di sejumlah waduk Batam akibat berkurangnya intensitas hujan beberapa waktu terakhir. Meski fenomena El Nino tidak berdampak sebesar di Pulau Jawa atau wilayah Indonesia bagian selatan, kondisi cuaca di Kepulauan Riau tetap ikut terpengaruh.

“Wilayah Kepri tipikalnya ekuatorial, jadi dampak El Nino tidak sekuat di Jawa atau NTT. Tapi tetap ada pengurangan curah hujan yang memengaruhi debit waduk,” jelasnya.

Program hujan buatan ini mulai berjalan sejak 15 Mei 2026. Dalam sehari, pesawat bisa terbang satu hingga dua kali, tergantung perkembangan awan di langit Batam.

“Sekali terbang itu membawa sekitar satu ton garam. Kalau dua kali penerbangan berarti dua ton dalam sehari,” ujarnya.

BMKG sendiri saat ini masih menunggu keputusan lanjutan dari BP Batam terkait keberlanjutan operasi modifikasi cuaca tersebut.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner