Duh, Kompensasi Sopir Angkot Puncak Diduga Disunat

20 hours ago 6

Bogor -

Larangan beroperasi selama libur Lebaran tak sepenuhnya dipatuhi para sopir angkutan kota (angkot) di jalur wisata Puncak Bogor selama Hari Raya Idulfitri 1446 H. Mereka tetap mengaspal karena merasa kompensasi yang dijanjikan pemerintah tidak sesuai dengan yang diterima.

Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bogor mengatakan memang menerima laporan bahwa ada sopir yang menerima kompensasi yang nominalnya tidak sesuai. Dia menyebut ada sopir yang mengaku menerima kompensasi sebesar Rp 800 ribu.

"Nah betul, banyak juga dan saya juga dapat informasi itu ada pemotongan, jadi (diterima sopir) Rp 800 ribu. Kita akan pantau siapa yang melakukan ini, yang jelas Rp 1,5 juta harus full ke sopir," kata Kabid Lalu Lintas Dishub Kabupaten Bogor, Dadang Kosasih, Rabu (3/4).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kompensasi itu sebesar Rp 1,5 juta dengan rincian duit Rp 1 juta, Rp 500 (ribu) sembako, ini dibagikan sebelum lebaran. Pascalebaran tidak ada," kata dia.

Dadang mengatakan sebanyak 653 sopir angkot dari tiga trayek Cisarua-Bogor, Bogor-Pasirmuncang, dan Bogor-Cibedug yang diberikan kompensasi.

Keluhan serupa juga muncul dalam kolom komentar postingan Instagram Dedi Mulyadi. Dalam video yang diunggah tentang kemarin, warganet melaporkan adanya dugaan pemotongan subsidi itu.

"Hati-hati pak ada pemotongan uang untuk sopir angkot oleh calo-calo yang tidak bertanggung jawab," kata DaXXX.

Angkot di Puncak Masih Beroperasi Saat Lebaran

Sejumlah angkot masih beroperasi di kawasan Puncak, Bogor, meski telah diminta untuk tidak beroperasi oleh Pemprov Jabar hingga H+7 Lebaran. Angkot-angkot tersebut datang dari arah Ciawi menuju Puncak.

Salah satu pengemudi angkot bernama Dadang mengatakan hendak mengarah ke Cisarua. Dadang mengaku disewa oleh tetangganya untuk mengantar ke Cisarua.

"Arah Cisarua, pasar, (mengantar) tetangga," kata Dadang kepada wartawan di simpang Gadog pada Selasa (1/4/2025).

Dadang mengatakan tengah mengantar rombongan untuk berziarah di belakang area Pasar Cisarua. Dadang mengaku tidak mendapatkan kompensasi dari pemerintah setelah sopir angkot diminta tidak beroperasi selama libur lebaran.

"Nggak (dapat), pengen dapat, tapi nggak tahu peraturannya," kata dia.

Dadang mengatakan, dari keterangan sopir angkot, mereka beralasan belum menerima kompensasi.

"Saya coba tanya ke beberapa angkot yang masih beroperasi, saya langsung eksekusi. Dalam artian begini, itu ada beberapa kendaraan yang tidak kena subsidi. Makanya dia mencoba untuk beroperasi," kata Dadang.

Ya, oleh Dedi angkot-angkot dilarang beroperasi selama lebaran. Dedi berpendapat angkot ngetem menjadi salah satu penyebab kemacetan parah di Puncak. Satu sebab lain adalah pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di bahu jalan.

Untuk mengatasinya, Dedi pun menghentikan operasional angkot di jalur wisata Puncak selama Hari Raya Idulfitri 1446 H selama sepekan penuh. Berkaca libur lebaran yang sudah-sudah, jalur Puncak menjadi salah satu titik paling padat di Jawa Barat akibat lonjakan kendaraan pribadi dari arah Jakarta menuju kawasan Puncak.

"Dengan kebijakan ini, diharapkan jalur Puncak lebih lancar dan nyaman bagi pemudik, dari mulai Jalan Raya Ciawi hingga ke Puncak," kata Dedi saat berkunjung ke Polres Bogor, Kamis (27/3).

Saat itu, dia juga menyatakan penghentian sementara operasional angkot itu juga bertujuan mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas akibat kepadatan kendaraan yang berpotensi meningkatkan risiko tabrakan. Angkot yang dihentikan sementara berasal dari tiga trayek utama, yakni Cisarua-Bogor, Bogor-Pasirmuncang, dan Bogor-Cibedug. Setidaknya sebanyak 715 akan diliburkan selama masa Lebaran di jalur Puncak Bogor.

Dedi menjanjikan kompensasi kepada sopir angkot selama angkot itu berhenti beroperasi. Kompensasi itu sebesar Rp 1,5 juta dengan rincian duit Rp 1 juta, Rp 500 (ribu) sembako.

Kebijakan Tuai Polemik

Kebijakan angkot setop beroperasi selama lebaran hingga H+7 itu didukung oleh sopir angkot saat disampaikan Dedi. Namun, setelah dilaksanakan aturan itu menuai pro dan kontra.

Merujuk postingan video dalam Instagram Dedi Mulyadi pengguna jalan menyatakan arus lalu lintas menjadi lebih lancar, namun ada pula yang menyampaikan masih terjebak macet di Puncak. Selain itu, ada pula yang menyampaikan kebijakan itu berimbas langsung kepada warga sekitar.

"Tetap saja macet, adik saya tadi mau ke Taman Safari balik arah pulang karena nggak kuat macetnya," kata YuXXX>

"Saya kerja jauh jadi jalan kaki, pak karena nggak ada angkot," kata mhmXXX.

"Ada pak... banyak penumpang terlantar. Mau naik ojek mahal, pesan Grab dicancel mulu karena kepengen harga di luar aplikasi," warganet lain menimpali.


(fem/fem)

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner