Jakarta -
Sebagai salah satu tujuan favorit pendaki dunia, traveler harus tahu nih bahwa Gunung Fuji masih berstatus gunung api aktif lho. Gunung ini terakhir kali meletus 3 abad yang lalu.
Walau belum ada tanda-tanda Gunung Fuji akan meletus, pemerintah Jepang tetap menyiapkan panduan untuk warganya dengan berkonsultasi kepada para ahli. Dikutip dari CNN, Senin (31/3/2025) salah satu panduan yang ditulis oleh pemerintah adalah berlindung di dalam rumah.
"Kami telah membahas langkah-langkah penanggulangan mengingat kemungkinan letusan eksplosif berskala besar, mirip dengan letusan Hoei sekitar 300 tahun lalu, dapat menyebabkan hujan abu vulkanik yang meluas di area yang luas, termasuk wilayah ibu kota, yang mengakibatkan dampak yang parah," kata Toshitsugu Fujii, seorang profesor di Universitas Tokyo, dalam konferensi pers pada tanggal 21 Maret lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pesona Gunung Fuji yang merupakan gunung tertinggi di Jepang tidak pernah kehilangan pesonanya. Foto: Getty Images
Studi para ahli mengatakan letusan berskala besar akan menghasilkan sekitar 1,7 miliar meter kubik abu vulkanik, yang sekitar 490 juta meter kubiknya diperkirakan akan terkumpul di jalan, gedung, dan area lahan lainnya, sehingga perlu dibuang. Langit akan tertutup abu vulkanik hitam, dan area perkotaan akan gelap gulita, bahkan di siang hari.
"Sebagai respons terhadap hujan abu yang meluas, panduan dasar adalah agar penduduk melanjutkan kehidupan sehari-hari mereka di rumah atau di tempat penampungan lainnya. Oleh karena itu, penting untuk menjaga persediaan yang cukup secara teratur," kata Fujii.
Dikutip dari Independent, para ahli mengkategorikan hujan abu menjadi empat tahap, dari Tahap 1 (di bawah tiga cm) hingga Tahap 4 (lebih dari 30 cm). Meskipun tiga tahap pertama kemungkinan tidak akan langsung membahayakan pekerja luar ruangan, paparan yang berkepanjangan dapat memengaruhi tenggorokan dan mata mereka.
Warga disarankan untuk tinggal di rumah, menghindari jalan-jalan yang tidak perlu, dan mengenakan kacamata dan masker jika keluar rumah. Mereka yang memiliki masalah pernapasan harus ekstra hati-hati.
Mengemudi juga tidak dianjurkan karena jarak pandang yang berkurang dalam skenario seperti itu. Warga disarankan untuk menyimpan persediaan darurat selama seminggu untuk gempa bumi, tetapi ahli menyarankan untuk menyimpan lebih banyak karena letusan Gunung Fuji bisa berlangsung lebih lama. Letusan terakhir pada tahun 1707 berlangsung selama dua minggu. Dalam hujan abu Tahap 4, layanan listrik, air, dan telepon mungkin terganggu.
Profesor Takeshi Sagiya dari Universitas Nagoya mengatakan kepada South China Morning Post bahwa abu vulkanik dapat menyebabkan banyak masalah yang tidak terduga. Abu vulkanik terbuat dari pecahan-pecahan kecil batuan yang meleleh, menyerupai bubuk kaca halus.
"Abu vulkanik bahkan lebih berbahaya bagi pesawat yang sedang terbang karena akan menghentikan mesin jika tersedot," katanya.
Para ahli telah merekomendasikan pemerintah untuk mencari tempat penyimpanan abu guna membantu upaya bantuan sementara. Mereka menyarankan untuk menggunakan abu dalam konstruksi, menaruhnya di tempat pembuangan sampah, atau membuangnya ke laut jika perlu.
Mereka juga menekankan perlunya mengedukasi warga tentang dampak letusan dan melatih lebih banyak ahli tanggap bencana gunung berapi.
(sym/sym)