Kisah Pria Asal Amerika Bangun 17 Sekolah di Pedalaman Papua, Kini Raih Gelar Honoris Causa

3 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Wallace Wiley bukan nama baru di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Dia sudah lama tinggal di sana. Pria berusia 78 tahun ini mengabadikan hidupnya untuk memajukan pendidikan anak-anak pedalaman Papua.

Perkenalan pria yang akrab disapa Wally ini dengan Papua dimulai dari pengalamannya di dunia penerbangan perintis melalui mission aviation fellowship (MAF).

Dia terdorong mendirikan sekolah setelah menyadari minimnya tenaga lokal asli Papua di bidang aviasi. Pada tahun 2019, pria kelahiran negara bagian Washington di Amerika Serikat ini bahkan memilih menjadi warga negara Indonesia (WNI) sebagai bentuk komitmen terhadap pelayanan pendidikan di Papua. Hingga saat ini, lebih dari 17 sekolah dari jenjang TK hingga SMA telah berdiri sebagai buah pengabdiannya.

Karena kontribusinya di dunia pendidikan Papua, Wally mendapat gelar doktor honoris causa dari Universitas Pelita Harapan (UPH). Gelar doktor diberikan oleh Rektor UPH Jonathan L Parapak bersama dengan presiden UPH sekaligus direktur eksekutif Pelita Harapan Group (PHG) Stephanie Riady.

"Saya sangat merasa terhormat menerima penghargaan ini dari UPH. Namun, ini bukan tentang apa yang telah saya lakukan, melainkan tentang kasih karunia Tuhan dan orang-orang yang Tuhan hadirkan dalam perjalanan hidup saya. Ketika Tuhan bertanya, 'Apa yang kamu miliki?' Apa pun itu baik pendidikan, kemampuan, maupun kesempatan, serahkanlah semuanya kepada-Nya dan biarkan Tuhan yang memimpin langkah kita,” kata Wally dalam keterangan tertulis UPH, Sabtu (9/5/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Stephanie juga membacakan naskah penghormatan akademik yang menjelaskan alasan dan pertimbangan UPH dalam menganugerahkan gelar kehormatan tersebut kepada Wally.

Menurutnya, perjalanan hidup Wally menjadi contoh nyata bahwa manajemen bukan hanya tentang mengelola organisasi, tetapi juga tentang melayani dan membawa dampak bagi sesama.

Stephanie menyampaikan, melalui dedikasi dan pelayanannya, Wally berhasil menggerakkan berbagai sumber daya, mulai dari tenaga manusia, dukungan finansial, hingga jaringan internasional, untuk memperluas akses pendidikan di Papua, termasuk di daerah terpencil. Upaya tersebut juga menghadirkan harapan baru bagi banyak generasi muda Papua.

“Hidup Anda adalah contoh nyata bahwa kepemimpinan yang lahir dari panggilan dan iman mampu membawa perubahan, bahkan di situasi yang paling sulit. Kiranya perjalanan hidup Anda terus menginspirasi kita untuk memimpin dengan berani, melayani dengan rendah hati, dan menggunakan setiap kepercayaan yang diberikan bagi kemuliaan Tuhan,” ucap Stephanie.

Pemberian gelar honoris causa itu berbarengan dengan wisuda semester ganjil tahun akademik 2025/2026, di Auditorium Grand Chapel, Kampus Utama UPH Lippo Village, Karawaci, Tangerang, Tanggal 7-8 Mei 2026. Sebanyak 4.469 wisudawan resmi dilantik.

Para lulusan berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari program doktor, magister, sarjana, hingga diploma tiga, sebagai generasi sumber daya manusia yang dipersiapkan untuk memasuki dunia profesional dengan kompetensi dan karakter yang kuat.

Mengusung tema ‘For I Know to Whom I Have Believed’, prosesi wisuda tahun ini menegaskan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur melalui capaian akademik, tetapi juga melalui pembentukan iman, integritas, dan ketangguhan dalam menghadapi perubahan zaman.

“Kami sungguh mengucap syukur kepada Allah atas seluruh pencapaian mahasiswa. Hari ini kami mengutus saudara-saudara untuk menjadi pemimpin dan membawa berkat di tengah masyarakat,” kata Jonathan L. Parapak.

Sementara itu, pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH) James T Riady berbicara mengenai arti kesuksesan, tujuan hidup dan tantangan generasi masa kini.

Dia mengingatkan bahwa setelah menerima gelar akademik, para lulusan akan memasuki dunia yang penuh ambisi dan tuntutan pencapaian. Dia menegaskan bahwa kehidupan tidak cukup dibangun hanya di atas intelektualitas dan pengetahuan, tetapi juga membutuhkan keyakinan yang kokoh terhadap kebenaran yang diyakini.

Dia juga menyoroti tantangan generasi muda di tengah perkembangan teknologi dan revolusi industri. Menurutnya, meski generasi saat ini semakin maju secara teknologi, banyak yang rentan menghadapi kebingungan secara spiritual. Karena itu, ia mendorong wisudawan untuk merespons perkembangan artificial intelligence (AI) secara bijak, seraya mengingatkan bahwa teknologi tidak dapat menggantikan hikmat dan karakter manusia.

“Saya berharap kalian membawa pulang dua hal ini, yaitu keyakinan yang kokoh dan kemampuan berpikir kritis. Sebab tanpa itu, kalian dapat dengan mudah dibentuk bukan oleh kebenaran. Jadilah pribadi yang mau berkontribusi dan memimpin, karena kesuksesan sejati adalah ketika seseorang mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat,” pesan James.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner