Keberanian UMKM Geisha Ratu Kenalkan Batik Lokal Sulawesi di Yogyakarta

2 hours ago 3
  • Apa itu Batik Mori dan siapa pemilik UMKM Geisha Ratu?
  • Bagaimana Geisha Ratu bisa menembus pasar batik di Jogja dan Solo yang kompetitif?
  • Produk apa saja yang ditawarkan oleh Geisha Ratu selain Batik Mori?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Yogyakarta telah lama dikenal sebagai penghasil batik yang otentik, salah satunya motif Larangan sebagai identitas Sri Sultan Hamengkubuono. Meski yang beredar selama ini didominasi model tradisional Jawa, hal ini justru tak membuat UMKM fashion bernama Geisha Ratu yang terbilang baru menciut untuk mendirikan usahanya.

Sang owner, Tin Dels Marce Ndawu yang merupakan perantau asal Kabupaten Morowali Utara, Provinsi Sulawesi Tengah itu justru percaya diri untuk mengenalkan busana tradisional dari tanah kelahirannya bernama Batik Mori.

Keberaniannya ini kemudian membuahkan hasil. Tin pun bahkan mampu berinovasi dengan menghadirkan produk fashion eco print yang ramah lingkungan. Dari sana, UMKM Geisha Ratu perlahan mampu menembus pasar batik di Jogja dan Solo yang dikenal sulit untuk disaingi.

Lantas seperti apa kisah perjalanan UMKM ini menembus kerasnya pasar batik setempat? Simak informasi selengkapnya, dirangkum Liputan6, Selasa (12/5).

Tidak Mudah Merebut Pasar

Diceritakan Tin kepada Liputan6, Senin, 27 April 2026 lalu, dirinya mengaku tidak mudah menjalankan usaha fashion dengan identitas lokal Sulawesi. Pangsa pasar setempat belakangan telah kuat dengan berbagai produk batik bermotif khas Jawa seperti Parang, Kawung, Truntum hingga Ceplok.

Meski begitu, dirinya kemudian melihat celah bahwa kekhasan dari daerahnya bisa masuk sebagai sebuah nilai baru yang bisa bersaing. Apalagi, Batik Mori kaya akan nilai dan filosofi tentang alam yang diberikan Tuhan.

“Dulu itu sempat ada yang bilang, apa sih Batik Mori itu, kain kafan ya? Bukan, kata saya. Ini adalah motif khas daerah saya, Morowali Utara, asalnya dari Suku Mori,” ucap Tin.

Produknya Dianggap “Beda” Hingga Ikut Pameran di Solo

Meski mulanya merasa sulit untuk merebut pasar saat awal berdiri di tahun 2018. Tin, optimis, bahwa Geisha Ratu bisa menjangkau pasar yang benar-benar menggemari produk batik dan eco print. Ini terbukti dari produknya yang kemudian berhasil tembus ke hotel hingga diburu konsumen nasional serta Mancanegara. 

“Produk eco print kami juga disukai orang-orang luar negeri. Nah, tapi mereka selektif dan akan tanya dulu, kainnya jenis katun, rayon, atau linen, karena mereka suka bahan yang adem. Biasanya, konsumen luar itu lebih tertarik ke warna natural, seperti krem, putih,” lanjut Tin.

Geisha Ratu sebelumnya memfokuskan diri ke produk Batik Mori yang mulai dijajakan di Yogyakarta pada 2020 akhir. Kemudian di 2023 sampai sekarang, usahanya berkembang menjadi eco print. Dari sana, busana yang diproduksi Tin juga digandeng sebagai sponsor untuk acara disabilitas, termasuk tampil di pagelaran fashion show di Kota Solo, Jawa Tengah.

“Mungkin unik kali ya dan beda dari batik yang banyak beredar, dari sini Batik Mori mulai dikenal akhirnya, apalagi setelah ikut Solo Batik Fashion selama dua tahun berturut-turut,” tambah Tin.

Jenis Batik dan Fashion Eco Print yang Dijual

Terkait produk, Geisha Ratu memiliki sejumlah motif yang dianggap unik dan berbeda. Tin menjelaskan bahwa, untuk Batik Mori saat ini pihaknya masih konsisten memproduksi jenis yang identik dengan Suku Mori mulai dari Sanggori, Apali hingga Meti. Sedangkan untuk produk eco print di antaranya, baju, kain, syal, kerudung sampai tas. Selain kain, terdapat juga varian dari kulit hewan seperti sepatu, dompet juga topi.

Keseluruhan produk berbahan alami ini dibuat dari tumbuhan sekitar, seperti daun jati muda, daun jarak kepyar, daun lanang dan tanaman liar di lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Kemudian, untuk penjualannya juga beragam mulai dari online, offline di toko sampai saat mengikuti pameran mal.

“Jadi memang orang yang memakai produk eco print ini unik dan tidak ada yang menyamai, walau dibuat serupa. Ini karena sifat daun dan tumbuhannya berbeda-beda, ini juga yang membuat para pemakai busana eco print itu bangga,” kata Tin.

Harganya Ramah di Kantong

Untuk harga, produk Batik Mori dan fashion eco print di Geisha Ratu terbilang ramah di kantong. Termurah ada di produk ikat pinggang sampai paling mahal ada di batik berbahan sutera yang ekslusif. Sementara itu, produk eco print juga berbeda-beda harganya.

Perbedaan harga ini biasanya terkait dengan metode pewarnaan dan pengerjaan modelnya yang rumit. Semakin unik bentuk serta teknik pemulasan dan pemberian motif, maka harganya semakin tinggi.

“Ikat pinggang perempuan itu mulai dari Rp100 ribu, syal dan kerudung harganya Rp150 ribu lalu tas dibanderol Rp300 ribu. Kemudian batik yang biasa itu sekitar Rp300 ribuan, sedangkan di jenis kain sutera itu bisa sampai Rp1,3 juta.” kata Tin.

Percaya Diri Kenalkan Motif Suku Mori

Sampai saat ini dirinya mengaku percaya diri bahwa produknya bisa bersaing dengan ragam hasil batik khas pulau Jawa yang telah beredar di sekelilingnya. Selain itu, produk eco printnya juga spesial karena memperhatikan detail proses, mulai dari menggunkan kain berkualitas, kemudian memasuhnya, dilanjut dengan kukan penjemuran di bawah terik matahari.

Setelahnya, dilakukan proses mordan atau memanfaatkan sejumlah bahan seperti tawas atau sodium asetat agar hasil pewarnaan daun maupun bunga bisa tercetak awet dan tidak mudah luntur. Terakhir, kain dikukus selama satu jam hingga siap dijual.

“Karena keunikannya ini produk batik kami itu sampai laku Rp1,450 ribu saat ikut pameran di Jogja, dan itu yang beli adalah kolektor. Dan saya, tidak mau mengerjakannya secara asal, agar konsumen bisa puas,” ucapnya. Geisha Ratu

Semakin Berkembang Usai Dibantu BRI

Salah satu resep sukses usahanya berkembang adalah karena Tin mengikutsertakan Geisha Ratu sebagai binaan inkubator dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Dari sana, dirinya mendapat banyak pembelajaran seperti manajemen keuangan, riset pasar, pemasaran digital sampai kemudahan transaksi melalui QRIS.

Karena dirinya turut menggunakan rekening BRI, maka Tin semakin gencar memasarkan produknya sampai luar daerah. Konsumen pun bisa langsung melakukan transfer sesuai harga batik yang dibeli, sehingga tidak perlu datang ke toko.

“Di Kalimantan saya punya langganan tetap, di Jakarta juga ada. Jadi biasanya kalau mau cari oleh-oleh pilihnya pada ke sini. Nah ini makanya saya harus selalu sedia stok ini, kalau tiba-tiba pelanggan nanya, itu saya siap,” katanya.

Sebagai bimbingan BRI inkubator lokal, Tin berharap agar ke depan bisa berkembang. Dirinya mengaku sudah merencanakan untuk mengembangkan usaha dengan membuka cabang lain di wilayah Yogyakarta, melalui pengajuan KUR.

Menurutnya, BRI sangat membantu Geisha Ratu untuk bisa berkembang besar seperti sekarang. Dan fitur BRIMO serta QRIS BRI turut memudahkan para konsumen luar daerah menjangkau produknya.

“Jadi Geisha Ratu ini berkembang karena ada pelatihan setelah saya gambung di Rumah BUMN BRI tahun 2021, nah saya belajar penjualan, media sosial, apalagi sekarang berkembang adanya AI. Sebelumnya saya sudah sangat terbantu dengan BRIMO untuk membayar-bayar kebutuhan pribadi, air PAM, kuliah anak saya,” ucap Tin.

“Saya juga ingin sekali membuat Geisha Ratu ini semakin berkembang, karena ini usaha saya yang saya rintis dari nol. Nah nantinya saya pingin buka gerai satu lagi, kan melalui KUR bisa semakin maju produk batik dan eco print ini,” tambah Tin.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner