Terungkap, Motif di Balik Polisi Sulsel Aniaya Junior hingga Tewas

20 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan akhirnya mengungkap alasan Bripda Pirman tega menganiaya polisi muda yang juga juniornya sendiri, Bripda Dirja Pratama (19), hingga meninggal dunia pada Minggu (22/2/2026). Alasan tersebut diduga berkaitan dengan modus pembinaan senior terhadap junior di lingkungan internal kepolisian.

Hal itu dibenarkan oleh Kabid Humas Polda Sulawesi Selatan, Kombes Pol Didik Supranoto. Ia menyebutkan, setelah menjalani pemeriksaan intensif, tersangka mengakui perbuatannya dilakukan dengan dalih pembinaan.

"Hasil pemeriksaan sampai dengan sekarang karena alasan pembinaan senior-junior," kata Didik saat dikonfirmasi, Selasa (24/2/2026).

Meski demikian, kepolisian menegaskan alasan pembinaan tidak dapat membenarkan tindakan kekerasan yang berujung pada kematian korban. Apalagi berdasarkan hasil pemeriksaan Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Bidokkes), ditemukan sejumlah luka lebam pada tubuh korban yang mengindikasikan adanya kekerasan fisik.

Tewas Usai Kepala Korban Dapat Benturan Hebat

Sebelumnya, Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro mengungkapkan bahwa laporan awal yang menyebut korban meninggal akibat membentur-benturkan kepala tidak sesuai dengan temuan ilmiah.

"Secara saintifik, apa yang disampaikan anggota bahwa korban membentur-benturkan kepala itu tidak benar. Setelah pemeriksaan Bidokkes, ditemukan beberapa bagian tubuh korban yang lebam dan itu diyakini sebagai penganiayaan," tegas Djuhandhani.

Dalam kasus ini, penyidik telah menetapkan Bripda Pirman sebagai tersangka utama. Ia merupakan senior korban di Direktorat Samapta Polda Sulsel dan kini telah diamankan untuk menjalani proses hukum.

"Satu orang sudah kami tetapkan sebagai tersangka dia adalah P, pangkat Bripda, senior korban," sebut Djuhandhani.

Buka Peluang Tersangka Baru

Meski sudah menetapkan satu tersangka, Polda Sulsel belum menutup kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain. Saat ini, Propam masih memeriksa lima anggota polisi lainnya yang diduga mengetahui atau terlibat dalam peristiwa tersebut.

"Kami tidak langsung percaya pada satu pengakuan. Saat ini lima anggota lainnya masih diperiksa secara intensif untuk melihat keterkaitannya," ujar Kapolda.

Kapolda Sulsel menegaskan institusinya berkomitmen menindak tegas setiap anggota yang terbukti melanggar hukum, tanpa pandang bulu. Selain proses pidana, para terduga pelaku juga akan menjalani sidang kode etik kepolisian.

"Kami tidak akan memberikan kompromi. Jika terbukti melanggar pidana maupun etika, akan diproses secara tegas dan transparan," ujar Kapolda.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner