Sejarah Masjid Mungsolkanas Bandung: Tradisi Selawatan dan Salinan Alquran

2 days ago 12

Saat awal didirikan lebih dari seabad lalu, bangunan masjid itu berupa rumah panggung sederhana berdinding anyaman bilik bambu hasil gotong-royong warga kala itu. Menurut cerita, sebelum berada di tengah gang seperti sekarang, tempat ibadah tersebut berada antara persawahan dan permukiman.

Masjid Mungsolkanas pertama kali direnovasi pada tahun 1933 atas inisiasi tokoh masyarakat saat itu bernama Mama Aden. Bertepatan dengan pembangunan masjid ikonik lainnya di kelurahan yang sama rancangan arsitek Belanda, Charles Proper Wolff Schoemaker.

"Kalau masjid kelurahan itu proyek Belanda, kalau ini memang swadaya masyarakat aja dari awal juga," tegas Utep.

Warga sekitar, Wahrisman (72) membagikan kenangan. Pada 1960-an silam, katanya, bangunan Masjid Mungsolkanas masih berbilik bambu dan kayu. Tapi lantainya berubah dari bentuk awal panggungan kayu menjadi tegel.

Di samping masjid, terdapat kolam ikan yang berada tak jauh dari tempat berwudu. Tak ada pengeras suara. Warga sangat mengandalkan bedug sebagai penanda waktu salat hingga perayaan keagamaan lainnya.

"Dari dulu juga sudah aktif pengajian di sini, untuk anak kecil juga sampai orang dewasa," katanya.

Proses renovasi besar-besaran kembali dilakukan pada 2007-2009. Wahrisman ditunjuk jadi kepala renovasi saat itu. Masjid diubah bertingkat dua lantai. Selain difungsikan sebagai area tempat shalat, sebagian ruangan di lantai dua kini difungsikan sebagai taman pendidikan Alquran (TPA).

Bentuk bangunan Masjid Mungsolkanas diakui memang berubah-ubah seiring zaman, tapi perubahan itu diaku tidak selalu berarti menggerus nilai sejarah, justru upaya merawat amanah dari generasi ke generasi.

Aman itu adalah tentang bagaimana memakmurkan masjid sebagai tempat ibadah serta menjadikannya tempat yang bermanfaat bagi umat sekitar. Selain itu, yang tetap dipertahankan adalah nilai gotong-royong.

"Masjid Mungsolkanas tidak menjadi museum, tetapi hidup sebagai masjid kampung yang aktif. Pengajian anak-anak, pengajian ibu-ibu, pendidikan usia dini, hingga kegiatan Ramadan masih berjalan rutin," sambung Utep Rahmat.

Selain itu, katanya, secara berkala diselenggarakan layanan kesehatan gratis bekerja sama dengan rumah sakit, sebuah tradisi kepedulian sosial yang dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat perkotaan.

"Meskipun masuk dalam gang kecil, tetapi seperti melangkah ke lorong waktu, kembali ke Bandung yang lebih pelan, lebih bersahaja," katanya.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner