Waspada dari Timur: Gempa Bitung M7,6 dan Jejak Tsunami yang Tak Boleh Diabaikan

7 hours ago 3

Liputan6.com, Bitung - Gempa Magnitudo 7,6 dengan pemutakhiran M7,3 mengguncang wilayah Bitung Sulut dan Maluku Utara, pagi ini,m Kamis (2/4/2026). Getaran gempa terasa di Manado yang menyebabkan seorang lansia tewas tertimpa reruntuhan. Sementara satu warga lainnya mengalmi patah kaki usai melompat saat merasakan getaran gempa.

Daryono, Anggota Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN) kepada wartawan, Kamis (2/4/2026) mengatakan, kawasan ini (perairan Sulut dan Malut) bukan sekadar perairan biasa, melainkan salah satu zona tektonik paling kompleks dan aktif di dunia.

"Di balik guncangan tersebut, tersimpan sejarah panjang aktivitas gempa dan tsunami yg membentuk wajah pesisir di utara Indonesia," katanya.

Daryono mengatakan, zona Laut Maluku dikenal unik krn berada dlm sistem subduksi ganda—lempeng yang 'terjepit' dari dua arah. Kondisi ini menciptakan tekanan luar biasa yg kerap dilepaskan dalam bentuk gempa bermekanisme sesar naik (thrust).

"Mekanisme inilah yg paling efektif dlm mengangkat dasar laut secara tiba-tiba, shgberpotensi memicu tsunami," ungkapnya.

Jika menengok ke belakang, catatan sejarah menunjukkan bahwa wilayah Sulut dan Malut telah berulang kali mengalami tsunami, meski umumnya dalam skala lokal hingga menengah. Pada 1845 di Kema, Minahasa Utara, gelombang laut tercatat dua kali menggenangi daratan dan tiga kali surut jauh hingga ke pemecah ombak. Peristiwa serupa berlanjut pada 1857 dan 1859, ketika tsunami bahkan mampu mengangkat material hingga mencapai atap bangunan di pesisir.

Memasuki akhir abad ke-19 hingga abad ke-20, kejadian tsunami masih terus berulang, seperti di kawasan Kepulauan Sangihe–Talaud (1871), Laut Maluku (1899), hingga Halmahera Utara (1927).

"Meski sebagian besar berdampak terbatas, pola kejadian ini menegaskan bahwa energi tektonik di kawasan ini tdk pernah benar-benar 'diam'," kata Daryono.

Dalam periode yang lebih modern, tsunami kecil tercatat mengikuti gempa-gempa signifikan, seperti pada 1965, 1996, hingga kejadian di sekitar Halmahera pada 2014 dan 2019. Bahkan peristiwa besar di kawasan regional seperti tsunami Mindanao 1976 turut memberikan dampak hingga wilayah utara Indonesia, menunjukkan keterkaitan dinamika tektonik di kawasan ini.

Dari rangkaian sejarah tersebut, terlihat pola yang konsisten, yakni tsunami di Laut Maluku umumnya berskala kecil hingga menengah dan bersifat lokal. Namun justru di situlah letak bahayanya.

"Banyak wilayah pesisir dan pulau kecil berada sangat dekat dengan sumber gempa, sehingga waktu tiba tsunami bisa hanya dalam hitungan menit, tanpa banyak kesempatan untuk peringatan dini. Gempa M7,3 pagi ini perlu dipahami dalam konteks tersebut," katanya.

Meski tidak selalu diikuti tsunami besar, kata Daryono, karakter mekanisme sumber yang dominan berupa thrust fault tetap menyimpan potensi deformasi vertikal dasar laut. Selain itu, kemungkinan pemicu tambahan sptlongsoran bawah laut juga tidak bisa diabaikan.

Kawasan Laut Maluku mungkin tidak sepopuler zona megathrust Sumatera dalam hal tsunami besar, tetapi sejarah telah menunjukkan bahwa wilayah ini tetap aktif dan berisiko. Kombinasi antara sumber gempa yg dekat, mekanisme yg mendukung pembangkitan tsunami, serta kondisi geografis pesisir menjadikannya wilayah yg memerlukan kewaspadaan tinggi.

"Gempa hari ini bukan hanya peristiwa sesaat, tetapi bagian dari dinamika panjang bumi yg terus berlangsung. Dan dari sejarah yg ada, satu pesan penting selalu berulang, waspada adalah kunci utama keselamatan di wilayah rawan gempa dan tsunami seperti Laut Maluku," katanya.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner