Liputan6.com, Jakarta - Kebudayaan Jawa yang kaya akan nilai luhur dan keindahan seni terus berdenyut di tengah masyarakat modern. Salah satu bukti nyatanya terlihat di Padukuhan Ngalangan, Kalurahan Sardonoharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui sinergi erat dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, padukuhan ini berhasil membangkitkan kembali geliat seni tradisi yang sempat terkendala keterbatasan alat musik gamelan.
Lewat program Corporate Social Responsibility (CSR) BRI Peduli, warga Padukuhan Ngalangan kini memiliki fasilitas gamelan yang memadai. Kehadiran instrumen musik tradisional ini tidak sekadar menjadi alat latihan, melainkan bertransformasi menjadi magnet pemersatu warga lintas generasi dan wilayah.
Denyut nadi kehidupan di Padukuhan Ngalangan tidak lepas dari peran pemimpin mudanya, Indra Gunawan (35 Tahun). Pria yang saat ini menjabat sebagai Kepala Dukuh Ngalangan sejak tahun 2020 itu menceritakan dinamika tugasnya sehari-hari yang berfokus penuh pada pengabdian warga.
"Ya, yang jelas tugas kepala dukuh itu pelayanan masyarakat. Terus kalau dukuh kan sebagai pembantu lurah di wilayah ya, ya tentang administrasi, sosial, termasuk menjaga kebudayaan juga. Ada banyak mas tugas fungsinya itu," ungkap Indra saat bertemu dengan Liputan6.com di rumah kediamnya di Ngalangan, RT 01 / RW 41, Sardonoharjo, Sleman pada Jumat (5/6/2026) kemarin.
Agenda Terdekat hingga Suka Duka Menjadi Kepala Dukuh Muda
Sebagai pemimpin di tingkat padukuhan, agenda kerja Indra selalu padat. Dalam waktu dekat, dirinya tengah mempersiapkan berbagai agenda penting untuk memajukan wilayahnya, baik dari segi infrastruktur fisik maupun kegiatan kemasyarakatan.
"Kalau di kampung, untuk acara terdekat paling kita persiapan 17-an aja ya. Kalau pembangunan-pembangunan fisik ya nanti kita ada pengaspalan, masangan penerangan. Di bulan Juni ada pengaspalan, mas" jelasnya mengenai rencana kerja terdekat.
Menjadi garda terdepan pelayanan masyarakat tentu menghadirkan dinamika tersendiri bagi Indra. Ada banyak cerita suka dan duka yang ia lalui selama mengemban amanah sebagai Kepala Dukuh Ngalangan. Namun, rasa lelah itu selalu terbayar oleh kebersamaan warga.
"Keluh kesannya ya susah, seneng. Ya susah tapi seneng lah mas. Kita bisa kontribusi ke masyarakat, bantu masyarakat, terus membawa nama padukuhan. Jadi banyak kegiatan, apalagi sekarang, kita banyak banget kegiatan. Kita satu tahun itu di RT, di RW, di padukuhan itu pasti banyak banget kegiatan. Jadi yang di luar kegiatan rutin kita, ada banyak kegiatan, mas," tutur Indra.
Indra kemudian mencontohkan salah satu agenda besar yang baru saja menguras energi namun membanggakan bagi wilayahnya. Meski harus mengorbankan waktu istirahat, Indra mengaku ada kepuasan batin yang luar biasa dari jabatan yang diembannya ini.
"Kemarin aja ada evaluasi Proklim dari Dinas Lingkungan Hidup. Itu kan persiapannya banyak kita harus menggerakkan warga, harus mengajak warga untuk gotong-royong, kita mengedukasi warga untuk itu. Sampai ya nggak bisa istirahat ya kita mikir administrasinya juga, mikir di lapangan juga."
"Kalau senangnya sekarang banyak saudara, banyak teman mas, di mana-mana banyak tempungan (sambungan/relasi), banyak kenalan, jadi kita bisa enak, jadi di sana kenal-kenal yang lain-lain. Kalau susahnya, sebenarnya nggak susah, cuma kalau pas kita bikin kegiatan capek itu memang karena kemauan kita bersama. Jadi ya dibikin enak semua," tambahnya tersenyum.
Mengenai gaya kepemimpinannya yang dinilai berhasil merangkul seluruh lapisan masyarakat, Indra mengaku tidak memiliki trik khusus. Ia memilih menempatkan diri sejajar dengan warganya.
"Kalau saya tuh nggak bisa menilai sendiri, kalau saya kan mengalir aja lah ikut masyarakat. Kita kan tetap berusaha terus, jadi bukan seakan-akan kehendak saya ikut harus gini-gini, tapi kita berdasarkan masyarakat pengennya gini, ayo kita gini," kata Indra filosofis.
Berawal dari Obrolan Hangat dengan Warga Ngalahan hingga Dapat Bantuan CSR BRI
Keberadaan seperangkat alat musik gamelan baru di Padukuhan Ngalangan saat ini merupakan buah manis dari perjuangan dan jalinan komunikasi yang baik. Indra menceritakan bahwa kerinduan warga untuk memiliki gamelan sendiri sebenarnya sudah terpendam sangat lama karena separuh napas warga Ngalangan adalah seni budaya.
"Kalo gamelan itu sebenernya kita sudah pengen tuh udah lama ya, udah lama banget. Karena memang background warga kita tuh banyak yang apa ya pegiat seni budaya. Kalau simbah dulu kan ada ketoprak, ada karawitan dan macem-macem. Tapi kemarin kita belum punya perlengkapan dan alat yang memadai," kenang Indra.
Peluang itu akhirnya datang berkat kehadiran salah satu warga setempat yang merupakan pensiunan dari BRI. Setelah dilakukan berbagai Upaya, gayung pun bersambut. Pihak desa langsung bergerak cepat menyusun segala keperluan administratif demi melancarkan proses pengajuan bantuan tersebut.
"Kebetulan di warga kami itu ada yang pensiunan BRI Jakarta dan dulu itu bagian CSR. Terus ngobrol-ngobrol, terus saya tanya, kalau buat kebudayaan itu bisa nggak kita punya gamelan, pak. Lalu, beliau tanyakan temen yang masih aktif dan alhamdulillah untuk CSR BRI untuk kebudayaan itu bisa diadakan," urai Indra menceritakan titik balik tersebut.
"Terus kita bikin lah proposalnya. Itu di tahun 2022 dan di acc proposalnya. Sebelum di acc, kita sebenarnya survey dulu ya alatnya. Kita cari spek kira-kira satu set gamelan Pelok Slendro Gagrak Yogyakarta itu dikisaran harga berapa. Karena kita waktu pengajuan kan kita harus ada RAB-nya. Buat itu kita tanya dulu ke pengrajin. Udah ketemu, terus kita ajukan ke sana. Dan itu pun kita juga nerima langsung berupa wujud gamelan yang pengadaan langsung dari BRI waktu itu, yang memberikan itu BRI Cik Ditiro itu," papar Indra secara mendalam.
Gamelan Jadi Pemersatu Lintas Dusun dan Lintas Generasi
Bantuan gamelan dari program CSR BRI Peduli ini membawa dampak perubahan yang sangat masif bagi kehidupan sosial kemasyarakatan di Padukuhan Ngalangan. Keberadaan instrumen musik tradisional ini mampu mengikis sekat-sekat geografis antar-wilayah dusun yang ada di bawah naungan Padukuhan Ngalangan.
"Pengaruhnya banyak banget mas. Bukan hanya di lingkup kebudayaannya, memang benar-benar adanya. Gamelan ini jadi pemersat warga sepadukuan, karena di Padukuhan Ngalangan ini kan ada 3 RW ya, ada Ngalangan, Baransari, Kujusari. Sekarang yang pakai gamelan pun ya dari tiga dusun ini semua ke sini. Setelah kita punya gamelan itu kita mulai rutin mengadakan acara adat Merti Dusun, yang sebelumnya nggak ada itu. Macam macam lah acaranya, ada wayangan ada ketoprak, dan pakai gamelan itu," ungkap Indra dengan nada bangga.
Kekayaan potensi sumber daya manusia di bidang seni di wilayah ini tergolong luar biasa. Padukuhan Ngalangan bahkan memiliki figur-figur sentral penopang kelestarian wayang dan karawitan.
"Kalau pelaku seninya banyak. Kita dalang punya dua. Ada Pak Purwoko, ada Pak Namprawoto. Kemudian kalau yang pengrawitnya, yang napuh (menabuh) ya Pak Purwoko juga ini, Pak Dalang itu ya. Kalau latihan, kita ngelatih. Latih teman-teman baru juga yang masih muda-muda, kemarin terakhir latihan ya buat persiapan itu, acara 17-an. Jadi, lintas generasi, dari yang sepuh, yang muda, yang masih sekolah, gabung," jelas Indra.
Demi menjaga keberlanjutan dan regenerasi pelaku seni, pihak sanggar dan padukuhan membuka pintu selebar-lebarnya tanpa menerapkan aturan yang kaku bagi siapa pun yang tertarik untuk belajar.
"Proses seleksinya tidak ada, mas. Kita malah seneng kalau yang ada yang mau gabung, malah seneng banget. Selain bisa melestarikan budaya. Kita bisa dekat juga kan dengan warga-warganya. Jadi ya senang lah mas," tutur Indra terbuka.
Hingga saat ini, jumlah warga yang aktif mengasah kemampuan seninya terus bertambah pesat, mendobrak batasan kelompok umur.
"Ada sekitar 50-an lebih tiap tempat seninya itu. Karena kan yang dari pengrawit, warga lokal semua, lintas dusun tadi. Jadi, enggak cuma di Ngalangan tok, tapi sudah gabung jadi satu padukuhan. Paling anak-anak muda itu banyak yang gabung di kuda lumping. Nanti mereka gabung latihan dengan sanggar buat penampilannya," tambah Indra.
Guna memfasilitasi antusiasme warga yang tinggi, skema latihan pun diatur sedemikian rupa agar berjalan teratur. Indra bahkan merelakan area pribadi di rumahnya demi kenyamanan latihan warga.
"Latihannya biasanya rutin malam Sabtu. Tapi kalau pas mau ada acara di kampung, mau ditampilkan, itu ya bisa seminggu dua kali. Latihannya itu, di belakang rumah saya, mas. Kebetulan saya mempunyai lahan yang cukup buat latihan. Jadi alat dan proses latihannya disini, di belakang rumah saya," papar pria berusia 35 tahun ini.
Padat Agenda hingga Harapan dari Kepala Dukuh untuk Warga Ngalangan
Kerja keras latihan rutin tersebut terwujud dalam rangkaian festival dan upacara adat yang meriah sepanjang satu tahun ke belakang. Padukuhan Ngalangan sukses menyatukan berbagai elemen kehidupan dalam satu rangkaian perayaan kebudayaan yang megah.
"Merti Dusun, Merti Saparan itu di bulan Sapar, Jawa Merti Dusun. Terakhir itu kemarin 2025, itu hampir satu bulan mas kegiatannya. Karena berbarengan dengan 17-an. Biasanya kita sambung dengan kegiatan selain kebudayaan juga. Sosial, terus kemudian lingkungan juga kita ada bersih kali, bersih dusun, kemudian hiburannya biasanya kemarin ada orkes wayang jadul, kemudian ada wayang kulit, ada jatilan, ada pengajian juga, jadi kolaborasi semua aspek kehidupan itu kita jadikan satu dalam momen itu," urai Indra mengenang kemeriahan acara tersebut.
Ke depan, Indra menaruh harapan besar agar api semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya luhur ini tidak padam, melainkan terus mengakar kuat di hati setiap warga Ngalangan.
"Harapan saya ke depan, ya, tetap guyup, rukun, tetap menjaga kebudayaan kita bareng-bareng. Karena budaya kita kan banyak, mas. Tidak hanya budaya dalam konteks kesenian, ya budaya musyawarah, budaya gotong royong, itu ya harapan kita tetap kita jaga, kita lesarikan bareng-bareng. Ya mudah-mudahan dengan itu kita bisa lebih berprestasi lebih baik lagi untuk kedua kalangan ini," pungkasnya penuh optimisme.
Merajut Keakraban dan Semangat Gotong Royong Lewat Gamelan BRI
Dampak positif dari bantuan CSR BRI Peduli ini tidak hanya dirasakan oleh para pemangku kebijakan desa, melainkan merasuk kuat hingga ke tingkat akar rumput. Manfaat nyata ini diakui langsung oleh Bambang Hartanto (49), salah seorang warga asli Padukuhan Ngalangan.
Bambang menceritakan bagaimana kehadiran alat musik tradisional tersebut membawa perubahan besar dalam interaksi sosial sehari-hari di kampungnya. Menurutnya, gamelan telah menjadi media pencair suasana yang sangat efektif.
"Dengan adanya gamelan yang diberikan oleh BRI ini membuat warga makin akrab dan dekat hubungannya," ujar Bambang dengan raut wajah bahagia.
Lebih lanjut, Bambang membeberkan bahwa efek domino dari kehadiran gamelan ini sangat luar biasa. Sejak intensitas pertemuan warga meningkat karena adanya latihan rutin, kepedulian sosial di antara mereka ikut terkerek naik. Warga kini menjadi jauh lebih ringan tangan dan kompak, tidak hanya saat menabuh gamelan, tetapi juga ketika ada kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya.
"Saya merasa betul sejak adanya gamelan itu warga jadi aktif dalam berbagai macam kegiatan yang tak hanya dari kesenian tapi juga agenda-agenda lainnya, kayak gotong royong dan lainnya," tambah pria berusia 49 tahun tersebut menekankan perubahan positif di lingkungannya.
Menutup perbincangan, Bambang mengaku sangat bersyukur atas kebaikan dan kepedulian yang ditunjukkan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Mewakili suara hati warga Ngalangan lainnya, ia menyampaikan apresiasi yang mendalam.
"Saya merasa senang dan mengucapkan terima kasih dengan bantuan BRI itu. Bantuan ini benar-benar membawa berkah dan menghidupkan kembali suasana kekeluargaan di padukuhan kami," pungkas Bambang menyudahi ceritanya.
Apresiasi Tinggi dan Pesan Mendalam dari Lurah Sardonoharjo
Langkah progresif Padukuhan Ngalangan dalam melestarikan tradisi lewat dukungan CSR BRI ini mendapatkan apresiasi tinggi dari jajaran pemerintah kelurahan setempat. Harjuno Wibowo (52), Kepala Kelurahan Sardonoharjo yang tinggal di Dusun Mrisen, RT 05 / RW 21 Rejosari, menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas kepedulian yang ditunjukkan oleh BRI.
"Selaku pemerintah kelurahan mas. Pertama mengucapkan terima kasih kepada BRI dari pusat karena sudah memberikan corporate social responsibility (CSR) kepada masyarakat kalangan berupa gamelan. Gamelan ini sangat penting kepada warga masyarakat karena sebagai infrastruktur, sebagai serana untuk memelihara atau menguri-uri budaya kita, budaya ada. Ada kerawitan, ada wayang, dan sebagainya," kata Harjuno penuh syukur saat berboncang dengan Liputan6.com di kantor kelurahan Sardonoharjo.
Harjuno membenarkan bahwa wilayah Ngalangan memiliki potensi dan bakat kesenian yang sangat langka dan komplet, bahkan memiliki perajin wayang kulit yang menguasai keahlian dari hulu hingga ke hilir.
"Kebetulan di Ngalangan itu ada beberapa kelompok kesenian, Mas. Ada mocopatan, kemudian ada dalang saja dua, Mas. Dalang wayang itu ada dua. Bahkan dia juga pengiat atau pengrajin wayang. Dia membuat wayang dari awal sampai dari kulit itu dibuat wayang, diukir, kemudian sampai kepada pengecatan wayang ini. Jadi dari A sampai Z," puji sang Lurah.
Lebih lanjut, Harjuno melihat stimulus yang diberikan oleh BRI berupa instrumen fisik ini telah berhasil membakar kembali gairah generasi muda untuk mencintai identitas budayanya sendiri di tengah gempuran modernisasi.
"Bantuan itu kan menstimulkan semangat dan rasa untuk nguriri dan memelihara budaya. Sekarang sudah rutin mas ada latihan, kemudian seminggu itu bahkan bisa dua kali, kemudian kita juga mendorong bahwa kaum yang termasuk pemuda itu juga didorong untuk tertarik pada kesenian kita sendiri. Mereka juga latihan. Ada mocopat, ada kerawitan, dan sebagainya. Termasuk didorong untuk saya senang dengan dunia wayang dunia ringgit karena wayang itu bahkan di seluruh dunia menyebut bahwa wayang itu salah satu budaya yang tertinggi di seluruh dunia satu kesan wayang ini punya kerumitan yang tidak ada dibandingkan," jabar Harjuno bersemangat.
Sebagai penutup, Lurah Sardonoharjo ini menitipkan pesan mendalam yang sangat menyentuh hati bagi seluruh warga Dusun Ngalangan agar senantiasa merawat akar budaya demi masa depan peradaban yang harmonis dan bermartabat.
"Saya berpesan kepada warga Dusun Ngalangan khususnya dan seluruh masyarakat pada umumnya, agar kita tetap teguh menjadi Orang Jawa yang memegang erat fadhilah (keutamaan) serta amanat dari Tuhan. Mari kita selalu menjaga budaya dan marwah. Selama kita merawat hal tersebut, kita akan menjadi manusia yang utuh, manusia yang sejati sesuai dengan kodrat yang dikonsepkan oleh Tuhan, sehingga kita layak di hadapan-Nya. Dengan begitu, kita akan tumbuh menjadi masyarakat yang 'cakep' atau dalam bahasa Arab disebut sebagai Masyarakat Madani, yaitu sebuah tatanan masyarakat yang harmonis dan berperadaban maju, seperti gambaran Kota Madinah pada zaman Rasulullah SAW," pesan Harjuno memungkasi perbincangan.

4 hours ago
2
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8081688/original/006856400_1780927950-IMG-20260608-WA0051.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8075634/original/021802400_1780921108-IMG_7557.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8071813/original/071239000_1780916988-355123.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5080103/original/047492500_1736158590-20250106-Dapur_MBG-MER_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8066303/original/049490300_1780910940-1001340088.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8064710/original/039868400_1780909336-Calon_pengantin_diduga_menjadi_korban_penipuan_WO.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8064049/original/088005900_1780908650-1000427925.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8062735/original/071141000_1780907069-IMG-20260607-WA0004.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8061345/original/057878100_1780905535-WhatsApp_Image_2026-06-08_at_00.13.10__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8060749/original/048772100_1780904897-1000835381.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7836138/original/024120000_1780656855-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8058093/original/052024600_1780901965-1001334881.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8038190/original/079747100_1780880372-Jepretan_Layar_2026-06-05_pukul_07.58.19.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8039324/original/088107600_1780881594-WhatsApp_Image_2026-06-08_at_08.14.34.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7988766/original/000874100_1780826527-Bule_Rusia_ditangkap_saat_selundupkan_narkoba_ke_Bali.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8003916/original/067474600_1780843010-Pengusaha_di_Sukabumi_rugi_karena_proyek_SPPG_mandek.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7991239/original/027718000_1780829112-25._BYD_Tech_Culture_Fest_Medan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7980079/original/096261700_1780817084-WhatsApp_Image_2026-06-07_at_13.27.52__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7973817/original/064778100_1780810584-851c2549-dee4-44b6-baa4-effd22f2f146.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5189923/original/005208500_1744810715-673_x_373_rev__8_.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5545819/original/058042400_1775210778-IMG_20260403_161322.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522592/original/086641300_1772769941-1001716059.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535954/original/045396000_1774177401-IMG-20260322-WA0071.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5542831/original/038641400_1774963974-Rumah_kepala_dukuh_Karyo_Utomo_pernah_jadi_markas_besar_militer_dalam_peristiwa_serangan_umum_1_Maret_1949.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517682/original/025033300_1772436678-1001759799.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5046528/original/067015500_1733919669-20241211-Ojek_Pangkalan-ANG_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5498617/original/080547900_1770712309-Polisi_bongkar_gudang_miras_di_Makassar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5197520/original/095088500_1745476635-IMG-20250424-WA0038.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5511854/original/021153700_1771918936-mbg8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537833/original/008774200_1774468315-IMG-20260315-WA0003.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5498961/original/042561400_1770731612-Rieke_di_acara_RTD_Samarinda.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515159/original/013988600_1772163544-Penemuan_potongan_tubuh_di_Gianyar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5513879/original/091814800_1772074967-Potongan_video_WN_Ukraina_diduga_diculik_di_Bali.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4009429/original/017937800_1651117586-20220428-Mudik-Gratis-Kementerian-Perhubungan-Dirjen-Perhubungan-Darat-fanani-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5513754/original/079309000_1772064124-John_Tobing.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500263/original/046163100_1770852465-keracunan_mbg_penajam_paser.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7100399/original/041417000_1779882669-685298.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4002342/original/071823600_1650541238-20220421_173113.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501191/original/029485900_1770889140-Kapolres_Bima_Kota_AKBP_Didik_Putra_Kuncoro.webp)