Semangat Arjuno Wiwoho Rintis Bisnis Kerajinan Kulit Djoen Leather, Mental Usahanya Patut Diacungi Jempol

13 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Arjuno Wiwoho (52) masih mengingat masa-masa ulit ketika dirinya merintis usaha kerajinan kulit bertahun-tahun silam. Ketika itu, dirinya membuka bisnis dari rumah tinggalnya yang kini menjadi galeri Djoen Leather di Bumiwetan, Baturetno, Banguntapan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Ia awalnya mencari bahan kulit sendiri, motong sendiri, menjahit sendiri, hingga merangkai produk dan melemparnya ke pasaran. Dirinya sadar bahwa menjalankan usaha ini tidak mudah. Kebangkrutan, kesulitan modal sampai pecah kongsi pernah dirasakannya hingga menjadi sebuah motivasi.

Dalam kondisi ekonomi dan bisnis yang belum stabil ketika itu, dirinya bersama sang istri memilih tetap bertahan dan memulai semuanya dari nol. Meski demikian, titik baliknya perlahan muncul terutama setelah ia mengusahakannya yang juga melalui ibadah.

Kini, usaha Djoen Leather memiliki galeri besar dengan berbagai produk unggulannya. Dengan dibantu puluhan karyawan, berbagai produk indah dari olahan kulit seperti tas, dompet, ikat pinggang, card holder hingga furnitur dihasilkan dan berhasil terjual sampai Eropa.

Memilih Kuliah di Teknologi Kulit karena Jatuh Cinta dengan Kerajinan

Ketika disambangi Liputan6 di galerinya, Sabtu, 16 Mei 2026, pengusaha yang karib disapa Juno ini mengatakan bahwa usahanya sekarang dijalankan bersama sang istri, Krisanti Aji. Menurutnya, ia merasa tertarik untuk mendalami bidang kulit sejak lulus sekolah dan melanjutkan kuliah di Akademi Teknologi Kulit yang kini bernama Politeknik ATK Yogyakarta pada 1995.

Keputusan tersebut diambil karena dirinya memang ingin belajar sesuatu yang sesuai minat dan bisa menjadi bekal usaha di kemudian hari. Selama kuliah, ia mulai mempelajari banyak hal tentang bahan kulit, mulai dari proses pengolahan, karakter bahan, teknik produksi, hingga proses finishing produk. Pengalaman itu kemudian menjadi modal penting ketika dirinya masuk ke dunia kerja setelah lulus pada 1999.

“Waktu itu saya memang ingin kuliah yang sesuai minat dan berbeda dari kakak saya yang mendalami bidang hukum. Akhirnya saya pilih Teknologi Kulit yang saya anggap tidak banyak belajar di kelas saat itu,” terang Juno.

Menimba Pengalaman Kerja di Industri Sepatu Setelah Lulus

Setelah menyelesaikan kuliah, dirinya sempat bekerja di sejumlah industri di Jawa Timur seperti Sidoarjo, Gresik, dan Mojokerto. Dari pekerjaan tersebut, ia mulai memahami proses produksi kulit secara lebih mendalam karena terlibat langsung di berbagai tahapan pekerjaan di sana.

Pengalaman bekerja di pabrik membuat dirinya memahami bagaimana cara menjaga kualitas bahan, mengatur produksi, hingga memahami kebutuhan pasar. Dari sana pula, ia mulai memiliki keinginan untuk membangun usaha sendiri suatu hari nanti.

Meski saat itu masih menjadi karyawan, ia mulai mencoba membuat relasi dengan berbagai pihak di dunia kulit seperti pemasok bahan, penjahit, hingga pemilik usaha lain. Relasi tersebut nyatanya sangat membantu dirinya di kemudian hari saat mulai merintis usaha sendiri.

“Setelah itu juga sempat bekerja di industri sepatu, terus saya belajar-belajar praktiknya di sini. Jadi pertama itu saya di Sidoarjo, terus setelahnya saya ke Gresik, di salah satu anak perusahaan sepatu besar. Lalu pindah ke Sidoarjo lagi, dan terakhir pindah ke Mojokerto sampai 2008 baru saya ke Jogja lagi, pulang,” kenangnya.

Sempat Bangkrut hingga Harus Pulang ke Yogyakarta

Setelah beberapa tahun bekerja, Juno mencoba membangun usaha sendiri dengan mengembangkan produk berbahan kulit yang dipadukan dengan serat alam seperti rotan, pandan, dan purun untuk kebutuhan pasar ekspor.

Usaha tersebut sempat berjalan dan menghasilkan pesanan. Namun kondisi usaha perlahan memburuk hingga akhirnya mengalami kegagalan. Kebangkrutan tersebut membuatnya putar otak, sembari mencoba mencari apa yang bisa dikerjakan untuk bertahan hidup.

Di masa sulit tersebut, ia mengaku pernah menjalani berbagai pekerjaan mulai dari memasok kayu, menerima proyek sampingan, hingga menjadi dosen tamu di kampus. Meski begitu, dirinya mengaku tidak pernah benar-benar meninggalkan dunia kulit karena merasa bidang tersebut sudah menjadi bagian dari hidupnya.

“Saya juga nyambi ngajar di kampus, sembari mengerjakan sambilan dengan membantu masok sandal ke salah satu brand terkenal di Jogja,” ujarnya.

Kemudian, dirinya kembali dimulai usaha bersama sejumlah rekan. Namun kerja sama tersebut ternyata tidak bertahan lama hingga akhirnya pecah kongsi pada 2015. Setelah berpisah usaha, Juno memutuskan memulai lagi semuanya dari nol bersama sang istri dari rumah kecil yang kini menjadi galeri Djoen Leather. Modal awal yang dimilikinya saat itu hanya sekitar Rp4,3 juta untuk membeli mesin jahit. Dengan peralatan seadanya, seluruh proses produksi dilakukan sendiri.

“Dulu jahitnya di sini, ngerangkai produk di sini juga, mesin jahitnya belum banyak. Masih kecil bangunannya waktu itu, belum sebesar sekarang,” kata Juno.

Mimpi setelah Salat Tahajud Membuatnya Semakin Yakin Membangun Djoen Leather

Di tengah kondisi usaha yang belum menentu, Juno memiliki kebiasaan bangun malam untuk salat Tahajud. Saat itu, ia biasanya tidur lebih awal setelah salat Isya lalu bangun sekitar pukul dua atau tiga dini hari untuk beribadah dan menenangkan pikiran.

Kebiasaan tersebut dilakukan rutin selama beberapa minggu ketika dirinya sedang berada di titik bingung menentukan arah usaha yang akan dijalani. Di masa itu pula, Juno mengaku mengalami mimpi yang sampai sekarang masih diingatnya.

Sejak saat itu, keyakinan untuk fokus menjalankan usaha kerajinan kulit semakin kuat. Ini terbukti juga, karena pesanan perlahan mulai datang dan usaha yang awalnya berjalan sangat kecil mulai berkembang sedikit demi sedikit.

“Nah waktu itu saya mimpi rumah ini penuh penjahit dan mesin. Dari situ saya merasa mungkin memang jalannya di usaha ini,” ujarnya.

Banyak Dibantu Rekan saat Menyelesaikan Pesanan

Masa sulit kembali dirasakan Juno ketika pesanan mulai berdatangan dalam jumlah besar sementara modal usaha yang dimilikinya masih sangat terbatas. Dalam beberapa kondisi, ia bahkan belum memiliki cukup uang untuk membeli bahan baku kulit.

Juno mengaku pernah menerima pesanan ribuan lembar kulit bulu dari Belanda dalam kondisi belum memiliki modal untuk membeli bahan. Namun berkat hubungan baik yang selama ini dibangunnya dengan para pemasok, ia akhirnya mendapat kepercayaan untuk mengambil bahan terlebih dahulu.

Pengepul kulit bahkan langsung mengirim bahan menggunakan truk ke tempatnya tanpa meminta pembayaran di awal. Menurutnya, hubungan pertemanan dan kepercayaan menjadi salah satu modal terbesar yang membuat usahanya perlahan bisa bertahan dan berkembang.

“Yang namanya rezeki itu dimudahkan kalau kita punya hubungan baik dengan orang. Intinya jangan mempersulit orang lain,” tegasnya.

Kini Miliki Tempat Produksi dengan Puluhan Karyawan 

Seiring berkembangnya usaha, Djoen Leather kini memiliki tempat produksi dengan beberapa divisi seperti divisi tas, dompet, furnitur kulit, hingga bagian finishing produk. Saat ini jumlah karyawannya mencapai lebih dari 20 orang yang sebagian besar berasal dari lingkungan sekitar tempat tinggalnya.

Proses produksi dimulai dari tahap desain, pembuatan pola, pemotongan bahan kulit, penjahitan, hingga finishing sebelum produk dipasarkan. Untuk memastikan kualitas tetap terjaga, Juno memilih bahan kulit secara teliti karena setiap lembar kulit memiliki karakter berbeda.

Produk yang dihasilkan juga cukup beragam mulai dompet, card holder, tas kerja, tas perempuan, jaket kulit, sandal, ikat pinggang, hingga furnitur berbahan kulit. Harga produknya bervariasi mulai Rp150 ribu untuk dompet, Rp300 ribu hingga Rp1,5 juta untuk tas. Sementara furnitur kulit dijual sesuai desain dan ukuran pesanan.

Terbantu KUR BRI hingga Pembayaran Digital yang Memudahkan Konsumen

Dalam mengembangkan usaha, Juno mengaku terbantu melalui program KUR BRI yang mulai diakses sejak awal merintis usaha secara mandiri. Tambahan modal tersebut digunakan untuk membeli mesin jahit dan meningkatkan kapasitas produksi ketika pesanan mulai bertambah.

Setelah usaha berkembang, ia kemudian melanjutkan pembiayaan menggunakan rekening koran BRI untuk mendukung kebutuhan operasional yang semakin besar. Menurutnya, sistem pembiayaan tersebut membantu Djoen Leather tetap berjalan tanpa terlalu membebani kondisi keuangan.

Selain pembiayaan modal usaha, Djoen Leather juga sudah menerapkan pembayaran digital menggunakan QRIS BRI untuk membantu konsumen saat bertransaksi di galeri. Kini banyak pelanggan memilih pembayaran non tunai karena lebih praktis dan cukup melakukan scan barcode saat berbelanja.

“Kalau di BRI sendiri, saya pinjam rekening koran waktu 2022. Sebelumnya, saya pinjam KUR juga untuk membesarkan usaha ini dan kayaknya saya pinjam di tahun 2017 awal-awal merintis kulit,” kata Juno.

Konsumen Merasa Puas dengan Produk Djoen Leather

Perkembangan Djoen Leather membuat galeri milik Juno kini banyak didatangi konsumen dari berbagai daerah, seperti halnya Angga (40). Pria asal Kabupaten Subang, Jawa Barat, ini mengaku sengaja mampir ke galeri saat sedang touring ke Pantai Parangtritis bersama rekan-rekan komunitas motornya.

“Jadi niatnya mau nyari oleh-oleh buat istri, terus lihat ini di Instagram dan mampir. Pas lihat-lihat produknya, bagus-bagus di sini,” katanya.

Angga menyebut jika kualitas bahan kulit dan detail pengerjaan produk di Djoen Leather terasa rapi dan modelnya bermacam-macam. Ia akhirnya membeli tas kulit untuk istrinya sebagai oleh-oleh dari Yogyakarta. Selain bisa memilih model secara langsung, ia juga sempat berdiskusi mengenai jenis kulit dan proses pembuatannya di sana. Transaksinya pun mudah, melalui digital tanpa harus mengeluarkan uang cash.

“Kalau datang langsung kan bisa lihat barangnya, pegang produknya juga. Menurut saya kualitasnya bagus dan cocok buat oleh-oleh,” kata Angga.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner