Sejarah Panjang Aktivitas Karangetang, Erupsi Pertama Tahun 1675

4 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Gunung Karangetang yang berada di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau-Tagulandang-Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara (Sulut), mengalami erupsi, Minggu (12/7/2026) pukul 19.14 Wita. Sejarah panjang erupsi Gunung Karangetang tercatat sudah terjadi sejak tahun 1675.

Berdasarkan keterangan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, erupsi ini diawali dengan erupsi bertipe strombolian (eksplosif lemah) setinggi sekira 100 meter diikuti suara dentuman, lontaran material pijar jatuh di sekitar kawah. Selanjutnya, diikuti erupsi efusif berupa aliran lava ke arah utara sejauh sekitar 1.000 meter dari kawah Utara, 400 meter ke barat-barat daya dan ke arah selatan sejauh sekitar 1.000 meter dari kawah Utara.

"Pantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sitaro semalam, menunjukkan material panas lemparan dari letusan menyebabkan alang-alang di sekitar puncak terbakar dan terpantul di atas awan kabut sehingga nampak seperti api besar," papar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Senin (13/7/2026).

Pada Senin (13/7/2026) pagi, BPBD Kabupaten Sitaro melaporkan kebakaran ilalang di puncak gunung sudah padam. Personel BPBD Kabupaten Sitaro tetap siaga memantau dinamika alam dan cuaca untuk meminimalkan potensi karhutla akibat kejadian erupsi gunungapi.

"Pemerintah daerah setempat juga telah mengeluarkan surat imbauan kepada warga agar tetap waspada dengan dinamika alam yang mungkin terjadi," ujarnya.

Kendati demikian, lanjut Abdul Muhari, aktivitas harian masyarakat pagi ini dilaporkan berjalan dengan normal.

Jejak Aktivitas Gunung Karangetang

Oleh warga sekitar, Gunung Karangetang juga dikenal dengan nama Gunungapi Siau. Gunung ini merupakan salah satu gunung api paling aktif di wilayah Sulawesi.

Letusan gunung ini tercatat pertama kali pada tahun 1675 dengan erupsi eksplosif dari kawah utama. Selanjutnya, catatan erupsi tercatat pada Oktober 1941, Desember 1962, April-Mei 1965, September 1976, Maret 1997, Maret-Oktober 2010, dan terakhir ada Februari 2019. Erupsi terakhir memicu luncuran lava pijar yang mengalir sejauh lebih dari 3 kilometer.

"Gunung yang memiliki ketinggian 1.784 meter di atas permukaan laut ini mengalami peningkatan aktivitas sejak awal bulan Juli 2026," ujarnya.

Pada periode 1-11 Juli 2026 kegempaan terekam 12 kali Gempa Guguran, 83 kali Gempa Hembusan, 7 kali Tremor Harmonik, 32 kali Tremor Non-Harmonik, 10 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak, 41 kali Gempa Vulkanik Dangkal, 21 kali Gempa Vulkanik Dalam, 3 kali Gempa Tektonik Lokal, 4 kali Gempa Terasa pada skala I – III MMI, dan 127 kali Gempa Tektonik Jauh.

Dengan catatan aktivitas tersebut PVMBG menyatakan tingkat aktivitas masih dalam Level II (Waspada). Status aktivitas gunung ini belum berubah sejak 11 Januari 2025.

Rekomendasi Kesiapsiagaan

Hal yang perlu diwaspadai dari Gunungapi Karangetang antara lain potensi bahaya berupa erupsi magmatik serta guguran awan panas yang meluncur mengarah ke lembah-lembah dari pusat erupsi kawah Utara atau Kawah Selatan.

"Gunung Karangetang juga memiliki potensi erupsi efusif dengan ciri khasnya yang perlu diwaspadai yaitu kubah lava/lava keluar dan meluncur ke lembah-lembah," ujarnya.

Abdul Muhari mengatakan, atas kejadian erupsi Gunung Karangetang, BNPB mengimbau masyarakat di sekitar wilayah Kawasan Rawan Bencana untuk mematuhi rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh otoritas terkait.

"Masyarakat dan pengunjung atau wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 1.5 km dari puncak Kawah Dua dan Kawah Utama serta area perluasan sektoral ke arah selatan barat daya sejauh 2.5 km," tuturnya.

Dia mengatakan, masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak Gunung Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

"Waspadai pula guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu dari penumpukan material lava sebelumnya karena kondisinya belum stabil dan mudah runtuh, terutama ke sektor selatan, tenggara, barat dan barat daya," tuturnya.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner