Dari Sedekah hingga Raup Puluhan Juta, Kisah Fitri Sukses Bangun TATAG by sandalwudhu.net

6 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Di sebuah gang kecil di Baciro, Yogyakarta, Fitri Ariani (46) membangun usahanya pelan-pelan dari nol. Tidak ada toko besar, tidak ada pabrik luas. Namun dari tempat sederhana itulah lahir TATAG by sandalwudhu.net, brand sandal yang kini produknya sudah masuk ke berbagai pusat oleh-oleh dan dikirim hingga luar Pulau Jawa. Siapa sangka, bisnis itu bermula dari kebiasaan sederhana bersedekah sandal. 

Perempuan asli Jogja itu bercerita, dulu ia gemar touring dan jalan-jalan bersama komunitasnya. Saat berhenti untuk salat, mereka sering kerepotan karena memakai sepatu. 

“Kalau lagi jalan-jalan terus mampir ke masjid itu kadang ribet ya. Mau wudu pakai sepatu juga tidak enak karena tidak ada sandal. Akhirnya setelah dipakai, sandalnya ditinggal untuk sedekah.” ujar Fitri saat ditemui Liputan6.com pada Minggu (17/5/2026).

Kebiasaan itu terus ia lakukan dari waktu ke waktu. Hingga suatu ketika, saat kembali ke masjid, seorang takmir memberi tahu bahwa sandal-sandal yang ditinggalkan sering hilang karena tidak memiliki identitas. 

Bermula dari Reseller dan Titipan Teman

Akhirnya Fitri pun mencari cara agar sandal sedekahnya tidak mudah hilang. Ia mulai memilih sandal wudu yang lebih tahan dan tidak mudah tertukar atau tercecer.

Awalnya, ia hanya membeli sandal polos untuk dirinya sendiri, lalu memberi tanda sederhana sebagai identitas. Namun saat hendak touring, teman-temannya mulai ikut menitip pesan. Saat itu, Fitri masih menjadi reseller sandal, tetapi perlahan ia melihat adanya peluang bisnis dari kebiasaan itu.

“Biasanya aku tanya teman-teman, ada yang mau titip beli sandal enggak? Eh, teman-teman pada pesan. Ternyata memang ada permintaan, padahal waktu itu aku masih reseller,” ujarnya sambil tertawa.  

Ia pun mulai membeli sandal polos, lalu memberi tanda identitas sederhana. Lama-lama, teman-temannya ikut menitip pesan dan permintaan pun mulai berdatangan. Namun, masalah muncul ketika ia menyadari tulisan pada sandal cepat pudar karena sering terkena air wudu. Wanita berhijab ini pun terus mencari solusi agar produknya lebih awet.

Setelah hampir satu tahun menjadi reseller, Fitri bersama rekannya akhirnya memutuskan untuk memproduksi sandal sendiri pada 2020. Ia memilih menggunakan teknik cutting agar tulisan pada sandal tidak mudah luntur meski sering digunakan dan terkena air.

“Produkku cutting, jadi dipakai wudu berkali-kali tulisannya enggak hilang,” ujarnya.

Lahirnya TATAG by sandalwudhu.net di Tengah Masa Paling Berat

Awalnya, usaha itu bernama sandalwudu.net. Produk yang dijual fokus pada sandal untuk kebutuhan wudu. Namun pandemi Covid-19 menjadi pukulan besar bagi bisnisnya. Kerja sama dengan komunitas, sekolah, dan kegiatan masjid mendadak berhenti. Produk menumpuk di rumah produksinya yang kecil di Baciro.

“Pas Covid itu barang banyak banget sampai aku sedekah-sedekahin, karena pusing lihatnya,” kenangnya.

Di tengah kondisi usaha yang sedang tidak menentu, Fitri juga harus menghadapi kehilangan besar dalam keluarganya. Sang kakak meninggal dunia, membuatnya sempat terpuruk dan kehilangan semangat. Pada masa itu, ia bahkan sempat mempertanyakan apakah usahanya masih perlu dilanjutkan.

“Aku galau, mau ikut jualan makanan kayak orang-orang atau tetap lanjut.” ujar Fitri. 

Di titik itulah Fitri memilih bangkit dan memberi lembaran baru bagi usahanya. Pada 2023, ia mengganti nama brand miliknya menjadi TATAG by sandalwudhu.net . Nama Tatag diambil dari filosofi Jawa “Tatag, Teteg, lan Tutug” yang memiliki makna  “Sapa sing tatag lan teteg bakal tutug,” yang berarti siapa pun yang teguh, tabah, dan kuat dalam pendirian, serta tidak mudah goyah oleh godaan, pada akhirnya akan mencapai tujuan yang diinginkan.

“Tatag diambil dari filosofi Jawa, ‘sapa sing tatag lan teteg bakal tutug’, yang berarti siapa yang kokoh pendiriannya dan istiqomah, nantinya akan sampai pada tujuannya. Akhirnya nama brand-nya diganti jadi Tatag,” katanya.

Menurut Fitri, filosofi itu terasa sangat pas, bukan hanya untuk dirinya pribadi, tetapi juga mewakili para pemakainya. Selain itu, nama tersebut dinilai lebih luas untuk menjangkau target pasar. Pergantian nama itu menjadi titik balik besar dalam bisnisnya. Tatag tak lagi hanya dikenal sebagai sandal untuk masjid, tetapi mulai berkembang menjadi produk custom dan oleh-oleh khas Jogja.

Dari Sandal Wudu sampai Oleh-Oleh Aksara Jawa

Kini Tatag berkembang dengan tiga lini produk utama, yaitu sandal wudu, sandal custom, dan sandal aksara Jawa. Ketiganya memiliki pasar dan musim penjualan yang berbeda. Untuk produknya sendiri, Tatag menyediakan dua tipe. Tipe standar menggunakan dua lapis bahan, sedangkan tipe premium dilengkapi lapisan karet sehingga lebih tebal dan nyaman digunakan.

 Sandal wudu menjadi produk yang paling ramai dicari saat Ramadan dan musim haji. Produk ini dijual mulai Rp17 ribu hingga Rp30 ribu per pasang, tergantung jenis dan ukuran. Selain itu, tersedia juga paket isi 10 pasang dengan harga sekitar Rp170 ribu, sudah termasuk paper bag.

Sementara itu, sandal custom banyak dipesan oleh sekolah Islam, perusahaan, hingga biro travel. Menurut Fitri, produk custom menjadi salah satu yang paling laris karena bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Pelanggan dapat memesan sesuai kebutuhan, mulai dari warna, ukuran, hingga nama.

Adapun sandal aksara Jawa lebih ramai saat musim liburan karena banyak diburu sebagai oleh-oleh khas Yogyakarta. Produk Tatag Aksara Jawa kini telah masuk ke berbagai pusat oleh-oleh di Yogyakarta, seperti Krisna Oleh-Oleh, Omah Oblong, Hamzah Batik, The House of Raminten, Yudhistira, Galeri Kotagede, hingga Bandara YIA.

“Kalau musimnya beda-beda. Haji dan Ramadan ramai sandal wudu, musim tahun ajaran baru ramai custom sekolah, musim liburan ramai sandal aksara,” ujar Fitri.

Salah satu pembeli, Dewi, seorang wisatawan lokal dari Kupang, mengaku tertarik dengan sandal aksara Jawa dari Tatag karena keunikan dan nilai budayanya. 

Menurut Dewi, sandal tersebut bukan hanya nyaman digunakan, tetapi juga menjadi daya tarik tersendiri yang memunculkan rasa ingin tahu orang-orang di sekitarnya.

“Sandal aksara Jawa dari TATAG sangat unik dan penuh makna budaya. Saya bangga mengenakannya, terutama saat bepergian. Desainnya menarik perhatian, dan banyak orang bertanya di mana saya mendapatkannya” ujarnya.

Terlepas dari itu, Fitri memulai usahanya pada 2020 dengan kondisi yang sangat sederhana. Ia hanya memiliki sekitar 20 pasang sandal saja. Semua itu ia jalani dengan modal nekat dan rasa percaya diri.

Memasuki 2021, saat usahanya masih berada di fase awal dan membutuhkan tambahan modal untuk perputaran bisnis, Fitri memutuskan untuk memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI. Pinjaman tersebut ia ambil dalam jumlah kecil dengan tenor dua tahun.

“Dulu aku pakai KUR BRI di 2021 di awal-awal usaha ini. Ambil KUR yang dua tahun karena aku sebenarnya takut utang,” ujarnya.

Menurut Fitri, keputusan mengambil pembiayaan itu dilakukan dengan penuh pertimbangan karena ia tidak terbiasa berutang. Selain itu, saat itu usahanya masih sangat kecil dan arus kas belum stabil, sehingga tambahan modal dibutuhkan untuk menjaga produksi tetap berjalan dan memenuhi pesanan yang mulai meningkat.

KUR yang ia ambil kemudian dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan operasional dasar, mulai dari produksi hingga pengembangan awal usaha Tatag. Meski begitu, ia tetap menjaga agar jumlah pinjaman tidak terlalu besar agar tetap sesuai dengan kemampuannya dalam membayar cicilan.

Seiring berjalannya waktu dan usaha mulai berkembang lebih stabil, Fitri memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan penggunaan KUR tersebut. Ia memilih menjalankan usaha dengan perputaran modal dari hasil penjualan yang sudah mulai meningkat.

Manfaatkan QRIS BRI

Selain memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI sebagai tambahan modal untuk menjaga perputaran usahanya, Fitri juga menggunakan QRIS BRI sebagai sistem pembayaran dalam bisnis sandalnya.

"Saya juga pakai QRIS BRI sejak ikut Pesta Rakyat BRI" ujar Fitri. 

Dengan adanya QRIS BRI, pelanggan dapat melakukan pembayaran secara non-tunai hanya dengan memindai kode QR melalui aplikasi perbankan di ponsel mereka. Hal ini membuat transaksi menjadi lebih cepat, praktis, dan aman.

Dengan kombinasi KUR BRI sebagai sumber modal usaha dan QRIS BRI sebagai sistem pembayaran, usaha Fitri dapat berjalan lebih stabil, tertata, dan mengikuti perkembangan sistem transaksi digital yang semakin umum digunakan.

Sedekah yang Diyakini Mengubah Hidup

Di balik perjalanan Tatag, ada satu hal yang selalu dipegang kuat oleh Fitri keyakinan tentang sedekah. Ia percaya, kebiasaan sedekah perlahan membuka banyak jalan dalam hidupnya.

“Sedekah itu aku buktiin sendiri, benar-benar mengubah semuanya,” ujarnya.

Kini, dengan empat karyawan dan omzet yang bisa mencapai Rp5 juta hingga Rp20 juta per bulan tergantung musim, Fitri memilih menjalankan bisnisnya tanpa target yang berlebihan. Ia lebih fokus pada proses dan pertumbuhan yang stabil.

Ke depan, ia berharap bisa memiliki galeri yang lebih layak, alat produksi yang lebih modern, serta ruang khusus untuk pelatihan. Menurutnya, belakangan ini semakin banyak pelaku UMKM dari luar daerah yang datang untuk belajar langsung ke tempat produksinya. Bahkan, pernah ada rombongan satu bus dari Padang yang datang untuk studitour. Namun karena tempat produksi masih terbatas, proses pembelajaran hanya bisa dilakukan secara sederhana.

“Aku pengennya kalau orang pulang dari sini, mereka benar-benar dapat ilmu dan manfaat,” kata Fitri.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner