Cerita Lita Membangun Batik Meyva Collection, Raih Omzet Tinggi hingga Berdayakan Single Parent

2 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Tidak banyak yang tahu bahwa di balik berkembangnya brand fashion batik Meyva di Kadipaten, ada perjalanan panjang seorang perempuan perantau yang memulai semuanya secara perlahan. Dari belajar memahami batik, menjajakan dagangan dari hotel ke hotel, hingga aktif mengikuti pelatihan UMKM demi memperluas wawasan bisnisnya.

Sri Ernawati (43) atau yang akrab disapa Lita, pemilik Meyva, percaya bahwa usaha tidak cukup hanya bermodal produk bagus. Menurutnya, pelaku UMKM juga harus terus belajar agar mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan.

Semangat itulah yang membuat perempuan asal Purwakarta, Jawa Barat tersebut aktif mengikuti berbagai pelatihan dan kompetisi UMKM, termasuk BRI Incubator.

Belajar Batik dari Nol Setelah Hijrah ke Yogyakarta

Meski tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang fesyen, Lita berhasil meniti kariernya dari bawah. Lulusan SMA ini sempat bekerja di perusahaan elektronik sebelum pindah ke Yogyakarta bersama suaminya. Di sana, ia mengawali perjalanan barunya dengan bekerja di sebuah toko batik

"Dulu aku benar-benar blank, enggak ngerti sama sekali soal batik. Dulu aku belajar dari proses sampai jualin."

Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan para desainer dan penjahit yang kemudian menjadi bekal berharga ketika memulai usaha sendiri. Ide bisnis batik ini  muncul secara tidak sengaja, saat ia sering membuat pakaian untuk kebutuhan pribadi dengan desain hasil kombinasinya sendiri.

Kala itu, wanita berhijab ini merasa desain baju di toko batik tempatnya bekerja cenderung monoton, sehingga mulai terdorong untuk menjahit sendiri pakaian dengan gaya yang lebih variatif dan sesuai seleranya. Tak disangka, pakaian buatannya kemudian menarik perhatian orang-orang di sekitarnya hingga akhirnya mendorongnya untuk mulai berbisnis. 

"Jadi aku jahitin baju pribadi, terus aku kombinasi-kombinasiin, aku pakai. Terus ada yang nanya, 'itu baju beli di mana, kok enggak ada di toko?' Aku bilang, 'enggak ada Bu, ini jahit sendiri.' Terus mereka bilang, 'wah mbok jual di sini'."

Pada 2019, ia memutuskan untuk berhenti bekerja dan fokus mengembangkan bisnisnya secara bertahap. Keputusan tersebut juga didukung oleh kondisi anaknya yang saat itu masih kecil.

Saat pandemi datang dan aktivitas masyarakat dibatasi, usaha yang baru dirintisnya sempat terhambat. Namun kondisi tersebut justru membuat Lita mencoba peluang baru dengan menjual tali masker. Keuntungan dari penjualan tali masker kemudian diputar kembali menjadi modal usaha fashion secara perlahan.

"Yaa bagi sebagian orang corona itu negatif ya, tapi alhamdulillah buat aku itu untung berlipat. Dari tali masker itu, aku jualan sistemnya PO. Satu minggu sekali aku bisa 'gajian' sekitar Rp1 juta sampai Rp3 juta," katanya.

Saat kondisi mulai membaik pada 2021, Mama Lita mulai menawarkan produknya secara langsung kepada jaringan pertemanan yang bekerja di berbagai instansi pemerintah. Karena banyak pelanggan potensial memiliki waktu terbatas untuk berbelanja, ia memilih mendatangi mereka langsung ke hotel tempat menginap.

"Biasanya kalau dinas gitu kan padat ya jadwalnya, jadi aku yang samperin ke hotel bawa daganganku. Berangkat bawa dua koper" tuturnya.

Strategi jemput bola tersebut ternyata sangat efektif. Awalnya ia hanya menemui satu orang teman, namun kemudian orang-orang di sekitarnya ikut tertarik melihat barang yang dibawanya hingga akhirnya ia seperti membuka lapak dadakan di tempat tersebut.

“Aku cuma ke temenku tapi orang-orang lainnya kayak, ‘itu apa sih, apa sih?’ Yaudah aku jadi kayak buka lapak itu,” katanya sambil tertawa.

Ia juga menjelaskan bahwa awal mula penjualan busana yang ia rintis hanya berjumlah lima potong saja. Dari situ ia mulai menambah stok secara bertahap dengan membeli bahan baku seperti kain dan memproduksi lebih banyak koleksi batik.

“Baju yang awal aku jual itu cuma 5 biji. Uangnya aku puterin dari hasil jualan tali masker. Terus aku nyicil beli bahan baku, kain. Nah, setelah corona selesai, koleksi batikku lumayan banyak. Jadi aku tinggal produksi dan masarin.”

Seiring berjalannya waktu, koleksi batiknya semakin beragam. Produk yang ditawarkan dibanderol mulai dari sekitar Rp200 ribu hingga Rp500 ribu per potong. Hingga kini, pemasaran produknya masih banyak mengandalkan jaringan pertemanan dan rekomendasi dari mulut ke mulut, tanpa bergantung pada marketplace. Cara tersebut justru membantu memperluas jangkauan pelanggan, tidak hanya di Yogyakarta, tetapi juga hingga berbagai daerah lain, termasuk Kalimantan.

Kekuatan Meyva Ada pada Produk yang Tidak Pasaran

Di tengah banyaknya pelaku usaha batik di Yogyakarta,  Lita memilih jalan berbeda. Ia tidak membeli kain jadi dari pemasok, melainkan memproduksi motif batiknya sendiri di wilayah Pajangan, Bantul. Menurutnya, kekuatan utama Meyva Collection terletak pada kombinasi desain yang eksklusif dan fleksibilitas menyesuaikan kebutuhan pelanggan.

Selain itu, ia juga memberikan ruang bagi pelanggan untuk menyesuaikan ukuran maupun model sesuai kebutuhan masing-masing. Pendekatan ini membuat hubungan dengan pelanggan menjadi lebih personal karena ia memahami selera dan gaya setiap orang, bahkan mencatat preferensi mereka untuk memudahkan proses pemesanan berikutnya.

“Pelanggan mungkin udah percaya kalau aku paham style dia, gimana kesukaannya dia. Makanya ada catatan pelanggan, dia sukanya apa, fashionnya gimana,” katanya.

Kepercayaan yang terbangun tersebut membuat banyak pelanggan melakukan pemesanan berulang tanpa harus melihat contoh desain terlebih dahulu.

“Bahkan sudah enggak request model, tapi request tanggal. ‘Mbak, aku tanggal sekian bikin baju ya.’ Kayak udah yakin aja sama hasil Meyva.”

Menimba Ilmu Lewat Rumah BUMN BRI Yogyakarta dan BRI Incubator

Semangat untuk terus belajar menjadi salah satu prinsip yang dipegang teguh Lita dalam mengembangkan Meyva Collection. Berawal dari keikutsertaannya dalam Pesta Rakyat BRI di Mandala Krida pada 2023, ia kemudian bergabung sebagai anggota Rumah BUMN BRI Yogyakarta (RuBy). Sejak saat itu, Lita aktif mengikuti berbagai pelatihan yang diselenggarakan RuBy untuk menambah wawasan dan meningkatkan kapasitas bisnisnya.

Kesempatan belajar tersebut membawanya mengikuti program BRI Incubator tingkat nasional. Dari ribuan peserta yang mendaftar, Lita berhasil melewati beberapa tahapan seleksi hingga masuk ke jajaran peserta terbaik.

“Kalau dari BRI Incubator aku sudah ikut yang nasional. Dari ribuan peserta, terus jadi 300, 50, 30, 10. Aku masuk, tapi enggak lolos yang 10 besar,” ujarnya.

Bagi Lita, nilai terbesar dari program BRI Incubator bukan semata-mata kompetisi, melainkan kesempatan untuk bertemu mentor dan pelaku usaha lain yang telah lebih dulu berkembang. Ia mengaku banyak mendapatkan wawasan baru melalui sesi diskusi dan berbagi pengalaman dengan para mentor yang sebagian besar merupakan pebisnis aktif.

“Dari BRI itu kebanyakan mentornya pelaku usaha langsung. Kadang ada yang baru satu tahun omzetnya sudah M-Man. Nah itu kan bisa aku tanya, sharing ilmu,” katanya.

Meski belum berhasil menembus 10 besar nasional, pengalaman tersebut justru menjadi motivasi bagi Lita untuk terus mengembangkan usahanya. Ia kembali mengikuti BRI Incubator tingkat lokal dan hingga kini masih aktif berjejaring dengan para mentor maupun sesama peserta melalui grup komunitas yang tetap berjalan.

“Masih aktif sampai sekarang grupnya. Saya juga masih sharing sama coach,” ujarnya.

Manfaat Menjadi UMKM Binaan Rumah BUMN BRI Yogyakarta

Menurut Lita, berbagai program yang dijalankan Rumah BUMN BRI Yogyakarta memberikan manfaat besar bagi pelaku UMKM. Selain memperoleh materi dan pendampingan usaha, peserta juga memiliki kesempatan belajar langsung dari para pelaku bisnis yang telah sukses mengembangkan usahanya.

“Makanya aku senang ikut pelatihan kalau ada yang relevan dengan usahaku. Kalau kita cuma diam, kadang bingung mau bertanya ke siapa. Di pelatihan RuBy misalnya, banyak mentor yang memang pelaku usaha langsung. Ada yang baru setahun menjalankan bisnis, tapi omzetnya sudah miliaran rupiah. Dari mereka aku bisa banyak belajar dan sharing pengalaman,” tambahnya.

Tak hanya mendapatkan pelatihan dan pendampingan, Meyva Collection juga memperoleh kesempatan untuk tampil di store RuBy di Jalan Sagan No.123 Gondokusuman tanpa ada tambahan biaya. Kesempatan tersebut tidak diberikan kepada seluruh anggota, melainkan melalui proses seleksi sehingga hanya produk-produk terpilih yang dapat dipamerkan.

Selain dipajang di store, produk Meyva Collection juga mendapatkan dukungan promosi dari tim RuBy melalui pembuatan konten video yang kemudian dipublikasikan di media sosial RuBy. Dukungan tersebut membantu memperluas jangkauan promosi sekaligus meningkatkan eksposur merek kepada masyarakat yang lebih luas.

Berdayakan Single Parent

Di balik berkembangnya Meyva Collection, Lita juga berupaya menghadirkan manfaat bagi orang lain. Saat ini, usahanya didukung oleh sekitar delapan penjahit yang sebagian besar merupakan perempuan kepala keluarga atau single parent. Lita menerapkan sistem kerja yang fleksibel dengan memungkinkan para penjahit bekerja dari rumah masing-masing.

“Sekitar delapan orang. Penjahit ini lebih banyak ke single parent, jadi mereka minta dibawa ke rumah masing-masing. Kainnya dari aku, terus sudah aku kasih desain dan pola,” ujarnya.

Menurut Lita, sistem tersebut sengaja diterapkan agar para penjahit tetap bisa memperoleh penghasilan tanpa harus meninggalkan tanggung jawab mengurus anak di rumah. Dengan bekerja dari rumah, mereka memiliki waktu yang lebih fleksibel untuk membagi peran sebagai pencari nafkah sekaligus orang tua.

Berkat jaringan produksi tersebut, usaha yang awalnya hanya dimulai dari lima potong baju kini berkembang pesat dan mampu melayani pelanggan dari berbagai daerah, bahkan hingga luar negeri. Lita menyebut bahwa dalam satu tahun, omzet usahanya bisa mencapai ratusan juta rupiah.

"Setahun bisa capai ratusan juta," kata Mama Lita.

Dari Pelatihan hingga Etalase Produk, Rumah BUMN BRI Dampingi UMKM Bertumbuh

Ditemui terpisah, Fiera Dwi Hapsari (26) selaku Koordinator Rumah BUMN BRI Yogyakarta menjelaskan bahwa pihaknya secara rutin menyelenggarakan berbagai program pembinaan untuk membantu UMKM berkembang. Program tersebut terdiri dari pelatihan reguler yang mencakup materi dasar bisnis, digitalisasi, hingga pelatihan tematik, serta program tahunan seperti BRI Incubator yang memberikan pendampingan lebih intensif bagi UMKM terpilih.

“Program reguler ada pelatihan dengan berbagai tema yang masih masuk dalam silabus pembinaan kami. Mulai dari pelatihan dasar, pelatihan bisnis, pelatihan digital, sampai pelatihan tematik,” ujar Fiera Dwi Hapsari pada Selasa (19/5/2026)

Selain peningkatan kapasitas usaha, Rumah BUMN BRI Yogyakarta juga membantu UMKM dalam aspek pemasaran. Produk-produk anggota binaan berkesempatan dipromosikan melalui media sosial Rumah BUMN BRI Yogyakarta, termasuk dibuatkan materi promosi dan iklan untuk memperluas jangkauan pasar.

Saat ini, jumlah anggota aktif Rumah BUMN BRI Yogyakarta pada 2025 mencapai sekitar 1.500 hingga 2.000 UMKM. Salah satu fasilitas yang menjadi daya tarik bagi anggota adalah RuBy Store, etalase produk UMKM binaan yang dapat dimanfaatkan secara gratis untuk memperluas pemasaran.

Setiap tiga bulan sekali, anggota memiliki kesempatan untuk mendaftarkan produknya agar dapat ditampilkan di RuBy Store melalui proses seleksi. Program ini dihadirkan sebagai bentuk dukungan nyata bagi UMKM yang ingin memperkenalkan produknya tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan seperti ketika menitipkan produk di toko oleh-oleh komersial.

“Kami ingin membantu UMKM memasarkan produknya. Kalau di toko oleh-oleh biasanya ada biaya tertentu, sedangkan di RuBy Store tidak ada biaya apa pun. Pelaku UMKM cukup mendaftar dan mengikuti proses seleksi yang ada,” pungkasnya.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner