Tarif Trump Mengancam, Menpar Widiyanti Pede Pariwisata Jadi Penyelamat Ekonomi

13 hours ago 8

Jakarta -

Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana menegaskan bahwa sektor pariwisata dapat menjadi alat pertahanan ekonomi nasional dalam menghadapi tekanan eksternal akibat kebijakan tarif Trump dari Amerika Serikat (AS). Disiapkan tiga strategi utama.

Pernyataan itu disampaikan Widi sebagai respons kebijakan tarif timbal balik yang diterapkan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap produk impor dari sejumlah negara, termasuk Indonesia. Indonesia dikenai tarif Trump sebesar 32 persen.

Widi mengatakan Indonesia mampu mengoptimalkan potensi besar yang dimiliki sektor pariwisata sebagai sumber devisa utama yang bebas dari hambatan perdagangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ketika ekspor barang terkena tarif tinggi, kita harus melihat sektor lain yang bisa menjadi penyeimbang. Pariwisata adalah bentuk ekspor jasa yang tidak terganggu oleh kebijakan tarif dagang. Dengan menarik lebih banyak wisatawan mancanegara, kita dapat menjaga stabilitas rupiah dan cadangan devisa," ujar Widi dalam rilis kepada detikTravel, Sabtu (5/4/2025).

Widi mengajak para pemangku kepentingan di sektor pariwisata untuk memperhatikan tiga strategi utama dalam menghadapi dinamika perdagangan global:

1. Pariwisata Sebagai Ekspor Jasa Penyeimbang

Dengan kekayaan alam, seni budaya, juga kreativitas masyarakat yang ada, Indonesia memiliki potensi inheren pariwisata yang sangat tinggi. Namun, persebaran 13,9 juta wisatawan mancanegara yang hadir di Indonesia saat ini masih sangat terpusat di destinasi tertentu.

Kemenpar mengajak pelaku usaha pariwisata di seluruh daerah untuk bersiap dan beraksi, memanfaatkan peluang dari perubahan dinamika global untuk menggiatkan Indonesia sebagai destinasi wisata dunia.

Kesiapan destinasi, produk wisata, usaha pariwisata, tenaga kerja, hingga promosi yang terarah perlu diupayakan secara terintegrasi. Didukung upaya promosi dan pengembangan yang Pemerintah lakukan, Kemenpar optimistis upaya ini akan menjadi sumber devisa yang tinggi, memitigasi dinamika global dan menjadi ekspor jasa penyeimbang.

2. Optimalisasi UMKM & Ekonomi Lokal Penyedia Jasa Pariwisata

Kemenpar mengingatkan seluruh pemangku kepentingan, potensi pariwisata Indonesia yang luas tidak hanya terbatas di destinasi tertentu saja, tetapi juga dimulai dari desa.

Kemenpar terus mengembangkan desa wisata dan mendorong aktivitas ekonomi berbasis pariwisata di seluruh Indonesia. Langkah ini bertujuan untuk mendistribusikan manfaat ekonomi secara merata dan mengurangi ketergantungan terhadap sektor ekspor manufaktur yang terkena dampak tarif.

3. Fokus pada Pengembangan High-Quality Tourism

Kemenpar mengajak pelaku usaha pariwisata di semua destinasi untuk tidak semata-mata mengejar jumlah kunjungan, namun juga mengusahakan pengalaman wisata berkualitas yang menarik pengeluaran berwisata lebih tinggi.

Data historis menunjukkan bahwa segmen wisatawan yang rela mengeluarkan biaya untuk pengalaman wisata berkualitas relatif memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap fluktuasi harga global.

Kemenpar mengidentifikasi ruang untuk pelaku usaha pariwisata Indonesia untuk mengembangkan hal ini masih terbuka luas dan Kemenpar mendukung penuh upaya ini. Inilah juga yang Kemenpar bawa dalam program unggulan "Pariwisata Naik Kelas", yang berfokus pada sektor maritim, gastronomi, dan wellness.

Dengan langkah-langkah ini, Menpar Widiyanti optimistis bahwa sektor pariwisata tidak hanya mampu menopang perekonomian nasional di tengah tekanan eksternal, tetapi juga menjadikan Indonesia sebagai destinasi unggulan di kancah global.

Menurut catatan detikTravel, sejauh ini pariwisata Indonesia masih kalah dibandingkan Singapura merujuk Travel and Tourism Development Index (TTDI) oleh World Economic Forum (WEF) 2024. Indonesia berada di peringkat ke-22 global dan ke-2 di ASEAN, lebih tinggi daripada Malaysia dan Thailand. Sementara itu Singapura sebagai yang tertinggi ASEAN, menempati peringkat ke-13 global.

Sementara itu, Indonesia bukan negara dengan jumlah kunjungan wisatawan terbanyak di akhir 2024. Adalah Thailand yang menjadi juara.

Thailand mendatangkan 35,5 juta wisatawan mancanegara tahun lalu. Di posisi runner up ditempati Malaysia dengan 25 juta kedatangan. Kemudian, Vietnam berada di posisi ketiga dengan 17,5 juta kunjungan wisatawan mancanegara, diikuti oleh Singapura dengan 16,5 juta dan Indonesia dengan 13,9 juta.

Sisanya termasuk Kamboja dengan 6,7 juta wisatawan, Filipina dengan 5,4 juta, Laos dengan 4,1 juta, dan Myanmar dengan 1,06 juta kunjungan wisatawan mancanegara.

Indonesia malah terganggu dengan tagar #kaburajadulu dan #indonesiagelap sebagai ungkapan kekecewaan warga terhadap kebijakan pemerintah. Situasi itu bahkan dilaporkan mempengaruhi pekerja remote dan freelance warga Indonesia untuk negara lain.


(fem/fem)

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner