Viral Video Kejurnas Karate di Lampung Berujung Ricuh

18 hours ago 7

Liputan6.com, Lampung - Video kericuhan dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Karate Piala Presiden RI Indonesia Open Championship 2026 di GOR Siger, Way Halim, Bandar Lampung, viral di media sosial. Insiden itu memicu sorotan terhadap penyelenggaraan ajang bergengsi yang diikuti sekitar 3.600 karateka dari 87 kontingen asal 18 provinsi.

Kejuaraan yang berlangsung pada 26-28 Juni 2026 tersebut semula diharapkan menjadi ajang pembinaan atlet menuju PON 2028. Namun, pelaksanaannya justru diwarnai protes dari sejumlah kontingen, kericuhan di arena pertandingan, hingga polemik terkait kategori festival dan perbedaan keterangan pada medali serta sertifikat peserta.

Salah seorang orang tua atlet, Roy Triono, mengaku menyaksikan sedikitnya enam kali keributan selama kejuaraan berlangsung.

"Kalau saya lihat ada sekitar enam kali keributan. Yang paling ramai karena ada pelatih yang merasa atletnya dirugikan saat pertandingan," ujar Roy dikonfirmasi, Rabu (1/7/2026).

Menurut Roy, salah satu insiden terbesar melibatkan kontingen Lampung dan Medan yang memprotes hasil pertandingan karena dinilai tidak adil.

"Keributan paling besar terjadi di hari terakhir. Intinya ada pelatih yang tidak menerima keputusan pertandingan karena merasa anak didiknya dicurangi," katanya.

Selain persoalan hasil pertandingan, Roy juga menyoroti penyelenggaraan kategori Festival.

Menurut dia, pertandingan pada kategori tersebut sempat dihentikan setelah muncul protes dari peserta. Meski demikian, seluruh peserta akhirnya tetap menerima medali emas.

"Kategori festival akhirnya tidak dilanjutkan pertandingannya, tetapi semua pesertanya mendapat medali emas. Pesertanya berasal dari berbagai provinsi," jelasnya.

Persoalan lain yang dipersoalkan peserta adalah perbedaan tulisan pada medali dan sertifikat yang dibagikan pada hari terakhir kejuaraan. Pada medali tertulis "Piala Presiden", sedangkan pada sertifikat hanya tercantum "Indonesia Open Championship".

"Peserta mempertanyakan kenapa tulisan di medali Piala Presiden, tetapi di sertifikat hanya Indonesia Open Championship. Seharusnya kalau memang satu kejuaraan, penulisannya sama," ungkapnya.

Roy menilai berbagai persoalan tersebut menjadi catatan penting bagi penyelenggara. Menurutnya, Lampung sebagai tuan rumah seharusnya mampu menghadirkan pelaksanaan kejuaraan nasional yang lebih profesional.

"Jangan sampai kejadian seperti ini mencoreng nama daerah. Semoga menjadi evaluasi agar ke depan penyelenggaraan kejuaraan nasional bisa lebih baik," pintanya.

Hingga berita ini ditayangkan, Liputan6.com masih berupaya meminta tanggapan dari pihak penyelenggara. Konfirmasi telah disampaikan kepada Sekretaris Umum FORKI Lampung, Indra, yang juga menjadi bagian dari panitia penyelenggara. Namun, belum memberikan respons.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner