Liputan6.com, Jakarta - Limbah kayu sering kali berakhir menjadi kayu bakar atau disimpan dalam jangka waktu yang lama hingga lapuk. Bahkan, tidak jarang sampah kayu juga berakhir di tempat pembuangan sampah atau hanyut di sungai.
Leonie Dian Anggrasari (42) dan Miftakul Efendi (42) berhasil mengubah limbah kayu mebel menjadi alat makan yang unik dan berkelanjutan. Berawal dari gagasan sederhana, pasangan suami istri asal Bantul, Yogyakarta ini mendirikan brand Somah Wooden Cutlery pada tahun 2020.
Enam tahun sejak didirikan, Somah Wooden Cutlery terus berinovasi menciptakan alat makan yang ramah lingkungan dengan menggunakan kayu mebel. Hingga kini terhitung sudah kurang lebih sepuluh alat makan yang dibuat.
"Mulai dari bikin sendok teh, sekarang kurang lebih ada sendok teh pendek, panjang, sendok makan, garpu, travel, kemudian pisau, sama sendok yang kecil. Ada sekitar kurang lebih 10 produk," jelas Leonie saat ditemui di rumahnya pada Sabtu (30/5/2026).
Berawal dari Kebutuhan Sendiri hingga Menjadi Peluang Usaha
Dari berbagai jenis alat makan, Leonie ungkap jika sumpit merupakan alat makan yang belum dijual. Sumpit merupakan alat makan yang presisi sehingga setiap detailnya harus diperhatikan agar bisa menjepit makanan dengan sempurna.
"Kalau dari aku sendiri, sumpit itu bentuk yang presisi. Kalau gak begitu (kalau tidak presisi) agak susah menjepitnya. Untuk membuat presisi, aku masih belum bisa. Jadi masih menunda untuk produksi," kata Efendi memberikan alasan belum menjual sumpit.
"Pernah (pernah mencoba buat sumpit) cuma kami tidak pasarkan. Secara fungsi belum maksimal. Kalau bentuk, secara estetika bisa," tambahnya.
Leonie dan Efendi awalnya tidak terpikir untuk membuat produk ramah lingkungan dari limbah kayu. Gagasan tersebut bermula ketika Leonie membutuhkan sendok makan minimalis yang mudah dibawa ke mana saja. Kemudian, Efendi yang merupakan pasangannya membuat sendok teh dari kayu bekas yang tersedia saat itu. Sendok teh tersebut menjadi produk pertama yang dibuat pada tahun 2018.
"Pertama kali sendok teh, karena kecil dan kebetulan yang dibutuhkan waktu itu lagi sendok teh," kata Leonie.
Setelah itu, muncul ide untuk menciptakan produk alat makan ramah lingkungan dari limbah kayu. Produk dibuat secara handmade, dan ciri khas tersebut tetap dipertahankan. Hingga kini, Leonie dan Efendi belum terpikir untuk membuat produk menggunakan mesin.
"Kami masih mengutamakan pembuatan secara manual," kata Leonie.
Saat ini, mesin yang digunakan hanya sebatas untuk pemotongan kayu, sedangkan proses lainnya masih dikerjakan secara manual menggunakan tangan. Efendi, yang merupakan lulusan Seni Kriya Kayu dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, tentu memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman dalam mengolah kayu.
Berangkat dari Kepedulian Terhadap Lingkungan
Alasan utama terciptanya produk berkelanjutan dari limbah kayu mebel adalah karena Efendi tidak ingin ada pohon baru yang ditebang untuk keperluan produksi. Oleh karena itu, pemanfaatan sisa kayu mebel menjadi pilihan yang tepat.
"Dan juga kenapa kami milih kayu bekas, karena buatku sendiri agar saya melihat banyak-banyak pohon yang sudah hilang, yang sudah dikebang, jadi perumahan, bangunan-bangunan segala macam. Dan kebetulan produk kami kan kecil-kecil, jadi kenapa nggak mencoba pakai kayu-kayu yang bekas, nggak menebang pohon yang baru," jelas Efendi ungkap alasannya memilih kayu bekas sebagai bahan utama produk Somah Wooden Cutlery.
Kayu mebel biasanya masih memiliki kualitas yang baik untuk diolah kembali karena sebagian besar menggunakan kayu jati. Oleh karena itu, Leonie dan Efendi memilih memanfaatkan kayu mebel agar tidak berakhir menjadi kayu bakar.
"Kenapa juga akhirnya kemudian menggunakan kayu bekas mebel adalah karena biasanya mebel-mebel yang ada di Indonesia itu kan pakai kayu-kayu yang bagus. Nah, bekas mebelnya itu seringnya kan dibiarkan untuk dibuang dan berakhir jadi kayu bakar. Akhirnya kemudian kami mengolahnya," tambah Leonie.
Berusaha Meminimalkan Limbah Produksi
Sejak awal memilih memproduksi produk ramah lingkungan dari limbah kayu mebel, Leonie dan Efendi mengupayakan agar sisa produksi Somah Wooden Cutlery tidak kembali berakhir menjadi sampah.
"Karena buatku ini kan mengolah limbah, seminimal mungkin kalau bisa, tidak ada limbah lagi," kata Efendi.
Sisa kayu produksi Somah Wooden Cutlery dimanfaatkan menjadi mulsa hingga berbagai produk lainnya. Limbah kayu mebel tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh pasangan lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini.
"Terus kemudian sisa sampahnya, bisa kami olah lagi untuk penutup di tanaman. Di balik pintu ini, kami punya ada kecombrang, ada pisang, ada jeruk nipis, ada markisa juga di depan," ungkap Leonie.
Leonie dan Efendi benar-benar memanfaatkan sisa produksi dengan baik, baik untuk kebutuhan tanaman maupun keperluan lain yang masih memungkinkan menggunakan sisa kayu tersebut.
"Ini juga masuk, kami punya lumbang. Sebetulnya mulsa ya untuk penutup bagian atas tanah. Terus yang ini, potongannya bisa dijadi bahan bakar untuk pada saat merebus (merebus produk Somah Wooden Cutlery yang sudah jadi)," jelas Leonie.
Untuk mendapatkan kayu bekas untuk membuat produk Somah, Leonie dan Efendi mendapatkan dari mebel atau diberikan oleh kerabat. Bahkan Leonie sempat menunjukkan kayu bekas tempat tidur yang nomornya menunjukkan beberapa tahun yang lalu.
"Ada yang dikasih teman, ada yang ini kebetulan kami dapatnya di tukang rosok, apa ya? Tapi kayak pemborong, barang-barang, enggak terbatas kantor sih, barang-barang yang mau di-rolling sama sebuah institusi. Sebuah instansi," ungkap Efendi.
Filosofi Nama Somah
Menentukan nama usaha tentu bukan hal yang mudah. Leonie dan Efendi mengakui bahwa proses mencari nama untuk usahanya saat mulai berproduksi cukup sulit karena mereka menginginkan nama yang mudah diingat sekaligus memiliki makna.
Somah dalam bahasa Jawa berarti pasangan. Leonie ungkap jika Somah merupakan kata yang sudah lama tidak dipakai. Selain terdengar sederhana dan menarik, Leonie juga sempat mencari arti sebenarnya dari kata Somah melalui kamus sebelum akhirnya memilihnya sebagai nama usaha.
"Namanya gampang aja sih Somah, tapi waktu itu nyari di kamus ya. Somah itu artinya pasangan," jelas Leonie.
Efendi mengungkapkan bahwa alasan memilih nama usaha dalam bahasa Jawa adalah karena kecintaannya terhadap budaya Jawa. Makna Somah juga mewakili Leonie dan Efendi sebagai pasangan yang membangun dan menjalankan usaha ini bersama sejak awal.
"Keluarga yang berada dalam satu atap (makna Somah). Kenapa milih bahasa Jawa? Karena mungkin aku suka dengan kebudayaan Jawa kali ya," tambah Efendi.
Digitalisasi dengan QRIS BRI
Somah Wooden Cutlery menyediakan QRIS atau Quick Response Code Indonesia Standard bagi pelanggan yang ingin melakukan pembayaran secara non tunai. Leonie menunjukkan QRIS dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) Somah Wooden Cutlery yang masih tersimpan di ponselnya dan belum dicetak.
QRIS tersebut sangat berguna ketika Somah Wooden Cutlery mengikuti pameran atau bazar. Leonie mengungkapkan bahwa tidak semua pameran atau bazar diikuti, karena mempertimbangkan target pasar serta menyesuaikannya dengan produk yang dijual.
"Yang kami memilih adalah satu yang jelas disesuaikan dengan pasar. Siapa konsumen yang akan datang ke pasar tersebut itu cocok atau tidak dengan produk kami. Jadi tidak asal ikut-ikut," kata Leonie.
BRI Hadirkan QRIS Cross Border BRImo di China
Melansir dari laman resmi BRI pada 8 Juni 2026, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus memperkuat layanan pembayaran digital melalui QRIS Cross Border pada aplikasi BRImo yang kini dapat digunakan di China. Layanan ini menjadi upaya BRI dalam menghadirkan kemudahan transaksi bagi nasabah yang melakukan aktivitas keuangan di luar negeri.
Melalui fitur tersebut, pengguna dapat membayar di merchant China yang telah mendukung QRIS hanya dengan memindai kode QR. Transaksi berlangsung praktis tanpa perlu menukar uang tunai karena pembayaran diproses menggunakan saldo rupiah dengan nilai tukar yang transparan dan real-time. Selain memudahkan, layanan ini juga membantu nasabah menghemat waktu dan biaya selama perjalanan.
Direktur Information Technology BRI Saladin Dharma Nugraha Effendi mengatakan, perluasan QRIS Cross Border BRImo ke China merupakan bagian dari strategi BRI dalam menghadirkan layanan digital yang semakin relevan dengan mobilitas masyarakat, khususnya nasabah yang bepergian ke mancanegara.
"Kehadiran QRIS Cross Border BRImo di China berpeluang meningkatkan transaksi wisatawan di luar negeri, karena kemudahan penggunaannya. Dengan sistem ini, wisatawan Indonesia bisa langsung berbelanja di merchant di China yang sudah terintegrasi QRIS. Ke depan, BRI akan terus mendorong inovasi layanan digital yang relevan dengan kebutuhan masyarakat sekaligus memperluas akseptasi sistem pembayaran digital Indonesia di level global," ujar Saladin dikutip Liputan6.com dari laman resmi BRI pada (13/6/2026).
Penggunaan layanan digital BRI juga terus mengalami pertumbuhan. Hingga Triwulan I 2026, volume transaksi QRIS BRI mencapai Rp30,5 triliun atau tumbuh 76 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), dengan jumlah transaksi sebanyak 253 miliar atau meningkat 86,7 persen YoY. Sementara itu, volume transaksi melalui super app BRImo naik 29,4 persen YoY menjadi Rp2.042,2 triliun.

4 hours ago
3
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262132/original/019625000_1781771651-WhatsApp_Image_2026-06-18_at_3.21.35_PM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8261973/original/032498900_1781764711-1001368963.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8261938/original/019894100_1781763332-769678.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8261934/original/008152300_1781763177-Dampak_gempa_di_Sulteng.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8261871/original/084253600_1781761058-1001371513.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362922/original/053117200_1758877175-1000628283.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260677/original/056641500_1781620086-tjahnom__4_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8261697/original/019465600_1781754158-Mahasiswa_pergoki_intel_masuk_UMY.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8261664/original/038706100_1781753333-b5489792-c856-4b44-a85a-e4379e7d1474.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5322557/original/006714000_1755748849-1000807397.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8261304/original/063773700_1781694394-766806.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8261214/original/038369100_1781689103-26333.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8261231/original/008965100_1781690242-1001369032.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8261225/original/026647000_1781689711-Demo_mahasiswa_di_Surabaya.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8261181/original/054754900_1781688127-IMG-20260617-WA0018.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8261148/original/046694300_1781685840-IMG-20260617-WA0041_1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8261130/original/021934100_1781683856-1000857162.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2370239/original/096295400_1538190133-20180929-Setelah-Gempa-dan-Tsunami-Melanda-Palu-AFP-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8261112/original/050119800_1781681409-20260617_095218.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5545819/original/058042400_1775210778-IMG_20260403_161322.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522592/original/086641300_1772769941-1001716059.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535954/original/045396000_1774177401-IMG-20260322-WA0071.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5542831/original/038641400_1774963974-Rumah_kepala_dukuh_Karyo_Utomo_pernah_jadi_markas_besar_militer_dalam_peristiwa_serangan_umum_1_Maret_1949.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517682/original/025033300_1772436678-1001759799.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5046528/original/067015500_1733919669-20241211-Ojek_Pangkalan-ANG_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5511854/original/021153700_1771918936-mbg8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537833/original/008774200_1774468315-IMG-20260315-WA0003.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515159/original/013988600_1772163544-Penemuan_potongan_tubuh_di_Gianyar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5513879/original/091814800_1772074967-Potongan_video_WN_Ukraina_diduga_diculik_di_Bali.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4009429/original/017937800_1651117586-20220428-Mudik-Gratis-Kementerian-Perhubungan-Dirjen-Perhubungan-Darat-fanani-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7100399/original/041417000_1779882669-685298.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4002342/original/071823600_1650541238-20220421_173113.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5513754/original/079309000_1772064124-John_Tobing.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509994/original/069472800_1771813365-IMG-20260223-WA0007.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514719/original/002107400_1772102114-1000601182.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514623/original/023780000_1772097662-John_Tobing_dan_Afnan_Malay.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534028/original/002692300_1773806214-TKP_pria_di_Pringsewu__Lampung_ditemukan_tewas_gantung_diri_di_rumah_tunangannya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5506177/original/056520100_1771409863-Screenshot_2026-02-18-16-35-53-36.jpg)