Liputan6.com, Jakarta - Limbah kayu dapat berubah menjadi karya bernilai di tangan pasangan suami istri asal Bantul, Yogyakarta. Berawal dari ide sederhana untuk memanfaatkan sisa kayu yang tidak terpakai, mereka mendirikan Somah Wooden Cutlery, sebuah usaha yang mengolah limbah kayu menjadi produk unik dan fungsional.
Ditemui pada Sabtu (30/5/2026) di rumahnya, pasangan suami istri Leonie Dian Anggrasari (42) dan Miftakul Efendi (42) menceritakan perjalanannya menciptakan berbagai alat makan ramah lingkungan dengan beragam ukuran dan bentuk yang disesuaikan dengan kebutuhan penggunaan dalam berbagai situasi.
Proses produksi dilakukan di teras depan rumah mereka. Karena fokus memproduksi alat makan dengan jumlah varian yang saat ini sekitar sepuluh jenis, ruang yang dibutuhkan untuk proses produksi pun tidak terlalu besar.
Pasangan yang menikah pada 2019 ini memilih untuk mempertahankan nilai produknya dengan tetap mengandalkan proses pembuatan secara handmade. Mereka belum berencana menggunakan mesin atau peralatan yang dapat mempercepat produksi dalam jumlah besar karena ingin menjaga kualitas serta keunikan setiap produk yang dihasilkan.
Dengan memperhatikan setiap detail pada proses pengerjaan, pengerjaan produknya dikerjakan satu per satu secara manual. Dalam sehari, mereka biasanya mampu menghasilkan sekitar dua produk, tergantung tingkat kerumitan dan waktu pengerjaan masing-masing karya.
Ide Usaha yang Berawal dari Hal Sederhana
Sambil berbincang santai di teras rumahnya, Leonie menceritakan bagaimana ide mengolah limbah kayu menjadi alat makan unik dan bernilai itu bermula. Gagasan tersebut muncul dari kebutuhan sederhana, yakni keinginannya memiliki alat makan yang praktis dan mudah dibawa saat bepergian.
"Kami memulainya itu sebetulnya karena saya ada kebutuhan untuk pergi-pergi, karena pekerjaan, gitu kan. Itu satu. Kemudian kedua, saya nggak bisa ke alat makan. Agar memudahkan untuk sambil jalan tapi tetap nggak kesulitan makan. Nah, itu kan membutuhkan alat makan, kalau pakai stainless itu kan lumayan berat," cerita Leonie.
Setelah gagasan tersebut muncul, Leonie kemudian membicarkannya kepada suami yang kala itu keduanya belum menikah. Ide tersebut muncul pada tahun 2018 yang kemudian berkembang menjadi rencana untuk menciptakan produk alat makan yang unik dan fungsional.
"Jadi, ide awalnya sebetulnya untuk alat makan yang mudah dibawa-bawa. Itu ide awalnya. Kemudian, karena waktu pertama kali bikin adanya kayu bekas ya," kata Leonie.
Kala itu kayu bekas yang digunakan adalah kayu bekas milik Efendi. Efendi merupakan lulusan Seni Kriya Kayu Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tahun 2002. Sementara Leonie adalah lulusan Sastra Jawa Universitas Gadjah Mada (UGM).
Dengan latar belakang pendidikan tersebut, tentunya mudah bagi Efendi untuk berkreasi menciptakan alat makan yang simpel dan estetik dengan bahan dan alat yang dimiliki pada saat itu.
"Suamiku lulusan Kriya Kayu ISI, jadi dia punya latar belakang cara mengolah, kemudian cara mendesain, kemudian kalau proses kenyamanan dan secara fungsi itu sambil jalan," ungkap Leonie.
Kayu Bekas dengan Karakter dan Keunikan Tersendiri
Setelah melihat hasil produk yang dibuat dari kayu bekas tersebut, pasangan ini mulai mempertimbangkan untuk mengembangkannya menjadi sebuah usaha yang ramah lingkungan dan bernilai tinggi.
Berbeda dengan kayu yang baru, serat kayu lama atau kayu bekas lebih terlihat. Lewat produk yang diciptakannya, Leonie dan Efendi membuktikan bahwa kayu bekas masih layak untuk digunakan daripada berakhir di pembuangan.
"Kalau kayu-kayu yang sudah lama itu kebanyakan garis-garis seratnya itu lebih muncul daripada yang masih baru," kata Efendi menjelaskan tentang ciri khas dari kayu bekas.
Leonie kemudian menambahkan bahwa kayu bekas mempunyai ciri khas tersendiri karena seratnya yang lebih muncul. Serat kayu tersebut tentunya menjadi nilai estetika dari produk alat makannya.
"Penggunaan pertama kalau kayu lama itu ya, dia punya kekhasan sendiri baik secara kualitas bahannya, kemudian garis-garis yang ini kami bukan hanya fungsional tapi tetap tidak meninggalkan estetikanya," kata Leonie sembari memperlihatkan serat kayu pada produknya.
Memilih Kayu Bekas Mebel karena Kualitas Masih Baik
Kayu bekas yang digunakan untuk membuat produk Somah Wooden Cutlery sebagian besar berasal dari sisa produksi mebel. Kayu bekas mebel umumnya masih memiliki kualitas yang baik dan layak digunakan, sehingga dapat diolah.
"Kenapa juga akhirnya kemudian menggunakan kayu bekas mebel adalah karena biasanya mebel-mebel yang ada di Indonesia itu kan pakai kayu-kayu yang bagus. Nah, bekas mebelnya itu seringnya kan dibiarkan untuk dibuang dan berakhir jadi kayu bakar, akhirnya kemudian kami mengolahnya," kata Leonie.
Efendi menambahkan bahwa bahan baku yang digunakan tidak terbatas pada kayu bekas mebel. Berbagai jenis kayu dapat dimanfaatkan selama masih layak diolah dan mudah dibentuk menjadi produk baru.
"Kebetulan kebanyakan yang kami dapatkan adalah kayu-kayu jenis kayu jati karena secara kualitas kayu dia jelas bagus, seratnya lebih mudah diolah, dan kebanyakan mebel juga pakai kayu jati," jelas Efendi.
Proses Panjang Sebelum Jadi Produk Bernilai
Proses produksi Somah Wooden Cutlery sebagian besar dilakukan secara handmade atau dikerjakan dengan tangan. Penggunaan mesin hanya dilakukan pada tahap pemotongan awal kayu agar proses pengerjaan menjadi lebih efisien.
"Nah, suamiku untuk memotongan pakai ini. Jadi mesin hanya di sini. Selebihnya mulai dari yang ini sampai nanti selesai itu manual, pakai tangan. Tidak pakai mesin bubut," jelas Leonie.
Setelah produk selesai dibentuk, tahap selanjutnya adalah perebusan. Proses ini menjadi salah satu tahapan penting karena produk yang dihasilkan merupakan alat makan yang akan bersentuhan langsung dengan makanan.
"Di rebus, baru kemudian di amplas. Kemudian terakhir baru di finishing. Nah, kami menggunakan minyak namanya flagship oil. Itu tuh minyak yang food grade," jelas Leonie.
Somah Wooden Cutlery memilih fokus pada produk berukuran kecil, seperti sendok, garpu, dan berbagai alat makan lainnya. Sementara itu, produk seperti piring, mangkuk, dan perlengkapan tidak diproduksi karena proses pembuatannya umumnya memerlukan mesin bubut.
Memperluas Penjualan Melalui Sistem Titip Produk
Selain dijual secara online, Somah Wooden Cutlery juga menitipkan sejumlah produknya di toko, kafe, dan restoran yang memiliki visi sejalan, yaitu mendukung gaya hidup ramah lingkungan (eco-living).
"Karena kami nitip di beberapa tempat. Ada satu toko namanya Peony (Peony Ecohouse) dan Yabbiekayu," kata Leonie.
"Yang ketiga di ViaVia Bakery. Kalau Via Via ini ada resto, ada travelnya, ada bakerynya. Kami nitipnya di Bakery-nya," tambah Leonie.
Selain di tiga lokasi di Yogyakarta, Leonie dan Efendi juga menitipkan produk Somah Wooden Cutlery di Toko Nol Sampah yang berlokasi di Jalan Dago, Bandung.
Dengan menitipkan produk di berbagai tempat, Somah Wooden Cutlery semakin dikenal oleh masyarakat. Leonie dan Efendi juga terus berinovasi dengan menghadirkan produk-produk yang masih jarang ditemui di pasaran, tetapi memiliki fungsi yang dibutuhkan banyak orang.
Beberapa di antaranya adalah sendok khusus untuk pengguna tangan kiri (kidal), spork atau kombinasi sendok dan garpu dalam satu alat, hingga sendok mini yang praktis dibawa saat mendaki gunung atau melakukan aktivitas luar ruangan lainnya.
"Atau ada teman yang pengen centong nasi. Jadi ada proses kami diskusi dengan teman-teman yang pesan karena kami menerima custom. Ada kantor yang ingin ada logonya dipasangkan disitu (di produknya) sehingga kami menerima ukurannya disesuaikan, logonya dipasangkan," jelas Leonie.
Menjadi Trainer, Pelatih, atau Fasilitator
Efendi pernah diminta menjadi trainer atau fasilitator dalam berbagai kegiatan, salah satunya oleh SMA De Britto Yogyakarta. Leonie menjelaskan bahwa SMA De Britto memiliki program pembelajaran di luar sekolah yang disebut studi ekskursi.
Pada tahun ini, program tersebut mengangkat tema pengelolaan limbah, dan Somah Wooden Cutlery menjadi salah satu lokasi yang dikunjungi para siswa untuk belajar mengenai pemanfaatan limbah kayu menjadi produk bernilai guna.
"Jadi belajar 3 hari tentang pengelolaan limbah kayu. Mereka memilih untuk membuat semacam hiasan. Jadi mereka mulai membuat desain. Waktu itu pembicaraannya full suami saya. Mulai dari membuat desain, kemudian memilih bahan, kemudian teknik pakai mesin untuk potong," kata Leonie.
Modal Awal Merintis Usaha
Modal awal untuk memulai usaha Somah Wooden Cutlery sekitar kurang dari Rp500 ribu karena saat itu bahan baku yang digunakan masih memanfaatkan kayu bekas yang tersedia.
Seiring perkembangan usaha dan meningkatnya permintaan, kebutuhan produksi pun bertambah sehingga Leonie dan Efendi mulai berinvestasi pada peralatan baru untuk menunjang proses pembuatan produk.
"Oh, oke. Yang modal pertama di bawah 500, tapi setelah itu mungkin 2-3 jutaan, ya karena beli pisau baru, gitu. Mungkin modal tetap masih di bawah 15 juta sih, Mbak, sampai selama 6 tahun," jelas Leonie.
Produk Somah Wooden Cutlery dijual dengan harga mulai dari Rp30 ribuan, tergantung jenis dan ukuran produknya. Ukuran produk yang ditawarkan juga beragam, mulai dari sendok kecil hingga yang paling besar seperti centong nasi.
Alumni BRIncubator 2025
Somah Wooden Cutlery merupakan UMKM Unggulan Alumni BRIncubator 2025. Leonie yang suka belajar dan menambah ilmu tidak melewatkan kesempatan untuk ikut serta BRIncubator pada Agustus 2025 lalu.
BRIncubator merupakan program pembinaan bagi UMKM terkurasi di bidang makanan dan minuman, fesyen dan kecantikan, serta dekorasi rumah dan kerajinan. Melalui pelatihan dan pendampingan, program ini membantu pelaku usaha meningkatkan kemampuan bisnis agar siap menembus pasar ekspor.
“Saya orang yang senang belajar. Jadi waktu itu memang sedang berencana untuk berhenti bekerja. Itu bulan Agustus tahun lalu. Saya berhenti kerja itu dari Oktober, jadi dua bulan. Jadi akhir Juli sampai Agustus,” cerita Leonie.
Digelar selama dua bulan dengan delapan kali pertemuan, Leonie menyebutkan bahwa ia mendapatkan dua keuntungan mengikut program BRIncubator tersebut. Dosen yang ditunjuk sebagai pembicara juga membuat pelatihan tersebut banyak manfaatnya.
“Kalau ditanya keuntungannya apa, ada dua buat saya. Dapat ilmu. Sama dua adalah berkenalan dengan teman-teman, karena akhirnya kemudian dapat jaringan. Ada teman-teman yang kemudian jadi sering berkontak atau saling berbagi informasi,” cerita Leonie sembari mengingat pengalamannya ikut BRIncubator.
Registrasi BRImo Bisa Dilakukan di 15 Negara
Berdasarkan unggahan Instagram BRI pada 6 Juni 2026, proses registrasi BRImo kini dapat dilakukan dari 15 negara. Layanan pendaftaran BRImo bagi masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri tersedia di berbagai negara, mulai dari Indonesia, Hong Kong, Jepang, Arab Saudi, Korea Selatan, Kuwait, Malaysia, Singapura, Taiwan, Uni Emirat Arab, Jerman, Amerika Serikat, Timor Leste, Brunei Darussalam, hingga Australia.
Untuk melakukan registrasi, pengguna hanya perlu menyiapkan nomor handphone dengan kode negara yang sesuai, email aktif, e-KTP, serta melakukan verifikasi wajah mengikuti panduan yang tersedia. Dengan kemudahan tersebut, masyarakat Indonesia di berbagai negara dapat mengakses layanan BRImo secara lebih mudah, cepat, dan fleksibel.

5 hours ago
2
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8261148/original/046694300_1781685840-IMG-20260617-WA0041_1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8261130/original/021934100_1781683856-1000857162.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2370239/original/096295400_1538190133-20180929-Setelah-Gempa-dan-Tsunami-Melanda-Palu-AFP-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8261112/original/050119800_1781681409-20260617_095218.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8258578/original/046027800_1781365644-elis_kumara.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260650/original/038398400_1781618153-tjahnom__12_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8261044/original/050295700_1781676569-1001368923.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8261003/original/086719700_1781672452-KPK_sita_aset_milik_Bupati_Pekalongan_nonaktif_Fadia_Arafiq.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260543/original/020308500_1781600359-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260707/original/033259800_1781627607-dalang2.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260933/original/073962100_1781669949-1001366788.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5336127/original/051928400_1756861799-WhatsApp_Image_2025-09-02_at_17.48.34.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260893/original/074591800_1781668334-362834.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260359/original/038934600_1781588341-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6461876/original/048016500_1779324747-napi-kasus-narkoba-di-lp-banda-aceh-tiba-tiba-meninggal-dunia.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260600/original/015820700_1781607451-dok-ditjenpas-sulsel-4.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260505/original/011038600_1781598396-IMG_20260616_131759.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260446/original/020744100_1781594191-IMG_20260616_120038.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5545819/original/058042400_1775210778-IMG_20260403_161322.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522592/original/086641300_1772769941-1001716059.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535954/original/045396000_1774177401-IMG-20260322-WA0071.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5542831/original/038641400_1774963974-Rumah_kepala_dukuh_Karyo_Utomo_pernah_jadi_markas_besar_militer_dalam_peristiwa_serangan_umum_1_Maret_1949.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517682/original/025033300_1772436678-1001759799.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5046528/original/067015500_1733919669-20241211-Ojek_Pangkalan-ANG_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5511854/original/021153700_1771918936-mbg8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537833/original/008774200_1774468315-IMG-20260315-WA0003.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515159/original/013988600_1772163544-Penemuan_potongan_tubuh_di_Gianyar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5513879/original/091814800_1772074967-Potongan_video_WN_Ukraina_diduga_diculik_di_Bali.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4009429/original/017937800_1651117586-20220428-Mudik-Gratis-Kementerian-Perhubungan-Dirjen-Perhubungan-Darat-fanani-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7100399/original/041417000_1779882669-685298.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4002342/original/071823600_1650541238-20220421_173113.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5513754/original/079309000_1772064124-John_Tobing.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509994/original/069472800_1771813365-IMG-20260223-WA0007.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514719/original/002107400_1772102114-1000601182.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514623/original/023780000_1772097662-John_Tobing_dan_Afnan_Malay.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534028/original/002692300_1773806214-TKP_pria_di_Pringsewu__Lampung_ditemukan_tewas_gantung_diri_di_rumah_tunangannya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5506177/original/056520100_1771409863-Screenshot_2026-02-18-16-35-53-36.jpg)