Misi Siomay Gemoy Kenalkan Jajanan Sehat, Ajak Anak Muda Tak Takut Ngemil

20 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Kiprah UMKM Siomay Gemoy dalam jagat kuliner Yogyakarta, bermula dari kondisi yang serba tidak pasti. Mulanya, sang owner yang masih bekerja kantoran dan belum memulai usaha siomay, harus terdampak gelombang PHK akibat wabah Covid-19 yang mematikan sektor ekonomi pada 2020 lalu.

Di tengah masa pembatasan sosial yang membuatnya tidak bisa keluar rumah, dirinya justru menemukan peluang dari kegemarannya berburu jajanan siomay. Kala itu, masyarakat mulai menaruh perhatian ekstra pada isu kesehatan dan kebersihan makanan, sementara pedagang jajanan di luar rumah juga sulit ditemukan. Salma kemudian mencoba mengulik berbagai resep dari internet dan memodifikasinya menjadi camilan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menyehatkan.

Berawal dari menawarkan produk di grup-grup WhatsApp, komunitas dan rekan kerjanya, usaha mandiri yang ia rintis dari dapur rumah ini terus berkembang sampai sekarang. Dengan modal awal yang tidak sampai Rp 500.000 saat memulai, Salma perlahan mampu mengumpulkan modal yang cukup, hingga pada Agustus 2023, gerai offline pertamanya resmi berdiri di kawasan Babarsari, Sleman.

Tawarkan Produk Siomay Tanpa MSG yang Sehat dan Tetap Mengenyangkan

Melalui Siomay Gemoy, Salma lantas membawa visi yang kuat untuk menghadirkan konsep jajanan sehat bagi konsumen yang mulai peduli pada apa yang dikonsumsi.

Ia sadar banyak orang ingin ngemil siomay tapi seringkali merasa bersalah karena kandungan penyedap rasa (MSG), termasuk porsi tepung dan proses menggoreng bumbu yang berlebih. Untuk itu, dirinya berinovasi untuk mencoba membuat siomay dengan komposisi 70 persen daging ikan tenggiri asli dan hanya 30 persen tepung terigu. 

"Karena pada saat itu momennya pas, mereka pada nyari makanan sehat semua. Dan dari pengetahuan saya, waktu itu kayaknya belum ada deh siomay yang non MSG," kenang Salma saat bercerita kepada Liputan6 mengenai awal mula berdirinya Siomay Gemoy, Selasa (16/6).

Ukurannya yang sengaja dibuat lebih besar dan dibalut kulit pangsit menjadi alasan di balik pemilihan nama "Gemoy". Satu porsi Siomay Gemoy dibanderol dengan harga Rp25 ribu, denga nisi enam potong siomay, sehingga mengenyangkan bagi konsumen.

Berkat komposisi yang padat gizi ini, Salma berani mengklaim bahwa produknya bisa menjadi opsi makanan utama pengganti nasi dan makanan harian karena seluruh kebutuhan nutrisi sudah tercukupi di dalamnya. 

“Produk Siomay Gemoy ini cocok sebagai pengganti nasi, karena dalam satu porsinya itu ada karbohidrat, ada protein dari ikan, telur dan tahu, ada seratnya dari kubis dan pare. Jadi memang sudah lengkap nutrisinya,” kata Salma.

Gunakan Bumbu Kacang yang Rendah Lemak

Tidak hanya pada adonan utama, komitmen sehat ini juga ia terapkan pada pembuatan bumbu kacang sebagai pelengkapnya. Bumbu kacang dari Siomay Gemoy disebut Salma dibuat dengan metode oven untuk mematangkan kacang tanah sebelum digiling dan bukan dengan cara digoreng dalam minyak panas yang banyak.

Langkah ini terbukti efektif menekan kadar minyak sehingga tekstur bumbu tetap gurih, rendah lemak, dan aman bagi tubuh. Pengolahan seperti ini juga mampu mempertahankan kandungan vitamin B kompleks yang terdapat pada kacang tanah. Ditambah dengan kesegaran sayur kubis, kentang, serta telur yang direbus dengan tingkat kematangan pas.

“Jadi memang saya tidak asal membuat siomay, proses perebusan telurnya saja saya lakukan selama 7 hingga 9 menit, sehingga matangnya pas. Terus bumbunya itu, kacangnya saya oven, jadi memang tidak banyak mengandung minyak,” katanya

Jadikan Siomay Gemoy sebagai Healthy Comfort Food

Salma memang secara konsisten mengampanyekan gerakan healthy comfort food untuk mengangkat kuliner nusantara ini agar bisa diterima sebagai jajanan yang kekinian. Langkah edukasinya dilakukan secara organik dengan menyasar komunitas-komunitas yang memiliki kesadaran tinggi akan gaya hidup sehat, seperti kalangan pekerja kantoran, mahasiswa, hingga komunitas olahraga sepeda, gym, dan padel.

Strategi ini terbukti efektif karena konsumennya masuk kategori loyal, tidak sekedar pembeli umum yang memang mencari siomay untuk kenyang dan murah. Kelompok pelanggan ini mencari nilai lebih dari apa yang mereka konsumsi dan tidak keberatan dengan harga yang ditawarkan karena mengetahui kualitas bahannya.

Karakteristik konsumen yang tersegmen dengan baik ini membantu Salma mempertahankan stabilitas usahanya di tengah dinamika ekonomi. 

"Saya ingin mengampanyekan dan mengangkat kuliner lokal menjadi healthy comfort food. Produk Siomay Gemoy ini nggak hanya bikin kenyang, tetapi juga manfaat bagi siapapun yang menaruh perhatian di kesehatan diri," jelas Salma. 

Inovasi Siomay Frozen dan Tembus Penjualan Antarkota

Melihat antusiasme yang tinggi, Salma tidak ingin langkah Siomay Gemoy terhenti di wilayah Yogyakarta saja. Ia mulai melebarkan sayap dengan memproduksi varian siomay frozen agar produknya bisa distok di rumah oleh pelanggan. Inovasi ini dirancang khusus agar cita rasa dan kualitas produk tetap terjaga meski harus menempuh perjalanan jauh. 

Untuk mendukung varian beku ini, bumbu kacang juga dikemas dalam tekstur kering menyerupai bumbu pecel yang nantinya tinggal dilarutkan dengan air sebelum dikonsumsi. Berkat metode pengemasan kering ini, bumbu menjadi jauh lebih awet tanpa memerlukan tambahan bahan pengawet kimia. Melalui jaringan pemasaran digital, produk frozen ini kini telah rutin merambah kota-kota besar seperti Solo, Semarang, Bandung, hingga Jakarta. 

“Memang konsumen Siomay Gemoy ini ada yang nyari juga produk frozennya, sehingga Siomay Gemoy bisa distok di rumah,” kata Salma.

Siomay Gemoy Naik Kelas Bersama Rumah BUMN Yogyakarta binaan BRI

Keunikan konsep yang dibawa Salma akhirnya mengantarkan Siomay Gemoy lolos tahap kurasi di Rumah BUMN Yogyakarta binaan BRI. BRI melihat usahanya memiliki dampak nyata bagi lingkungan dan kesehatan, salah satunya karena komitmen menggunakan kemasan food grade thinwall tahan panas yang aman dan bisa didaur ulang.

Atas pencapaian ini, BRI kemudian memfasilitasi pembuatan foto produk secara profesional untuk digunakan sebagai katalog digital yang estetik dan materi spanduk berkualitas HD.  Langkah pendampingan berlanjut saat Salma terpilih mengikuti program pelatihan BRIncubator pada awal tahun 2024.

Di sini, ia dibimbing langsung oleh mentor profesional untuk merapikan manajemen usaha, mulai dari menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP), menghitung HPP secara detail, hingga menerapkan sistem 5R (Ringkas, Resik, Rapi, Rawat, Rajin) demi menciptakan dapur yang ideal. Digitalisasi finansial juga langsung diterapkan melalui adopsi QRIS BRI untuk mempermudah transaksi harian konsumen di outlet maupun saat pameran. 

"Berkat pelatihan di BRIncubator ini, saya sekarang lebih tertata manajemennya. Sekarang sudah bisa bikin HPP, menghitung profit margin, dan tahu cara memilih target pasar yang sesuai dengan produk kami yang memang segmented," ungkap Salma mengenai dampak positif kehadiran peran BRI. 

Mimpi Menembus Gen Z dan Menjadi Oleh-Oleh Khas

Terkait rencana usaha ke depan, Salma memiliki harapan besar agar Siomay Gemoy bisa merambah pasar yang lebih luas hingga ke luar Pulau Jawa. Peluang tersebut kini mulai terbuka lebar setelah Siomay Gemoy berhasil masuk ke dalam program inkubasi pemerintah untuk diarahkan menjadi salah satu alternatif oleh-oleh khas Yogyakarta.

Salma ingin membuktikan bahwa buah tangan dari Jogja tidak melulu bakpia, melainkan ada siomay sehat non-MSG yang bisa dibawa pulang oleh para wisatawan.  Ia berambisi membuat produknya perlahan menjadi tren jajanan kekinian yang digandrungi oleh generasi muda atau Gen Z.

Tak lupa, dirinya turut berpesan kepada sesama pelaku UMKM agar tidak pernah takut memulai dari langkah kecil, aktif membangun networking, dan selalu mencari mentor untuk menjaga konsistensi arah usaha.

"Harapannya, Siomay Gemoy bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas lagi sebagai produk lokal yang kekinian dan menembus Gen Z. Intinya jangan takut memulai, kalau memang yakin punya value, terus fokus saja ke kualitas produk dan konsisten," pungkas Salma.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner