Lewotobi Perempuan, Sisi Lain Gunung Kembar NTT yang Jarang Terekspose

17 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Gunung Lewotobi Laki-laki yang ada di Flores Timur, NTT, ternyata tidak jomblo. Dia punya pasangan, yang bernama Gunung Lewotobi Perempuan. Secara administratif, pasangan gunung ini berada di Kecamatan Wulanggitang dan sebagian kecil Kecamatan Ile Bura, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Namun siapa yang sangka, puncak tertinggi Gunung Lewotobi justru ada di Gunung Lewotobi Perempuan, yakni dengan ketinggian 1.703 meter di atas permukaan laut. Beda tipis dengan Gunung Lewotobi Laki-Laki yang memiliki ketinggian 1.584 meter di atas permukaan laut.

Meski berada berdekatan dalam satu kawasan pegunungan yang sama, ternyata keduanya punya karakteristik yang berbeda. Jika diperhatikan lebih dekat, Gunung Lewotobi Perempuan punya kontur permukaan yang lebih kasar dibandingkan dengan pasangannya.

Area Gunung Lewotobi Laki-Laki juga lebih luas, dengan bentuk puncaknya yang unik, yaitu berbentuk kerucut dan terpotong pada bagian atasnya. Keduanya dipisahkan oleh lahan seluas 2 kilometer.

Gunung Lewotobi Perempuan seperti dikutip dari berbagai sumber diketahui memiliki dua kawah aktif. Satu kawah berukuran besar dengan diameter sekitar 700 meter, satu lagi lebih kecil, yakni diameter 400 meter.

Di dasar kawah Gunung Lewotobi Perempuan terdapat kubah lava yang masih aktif dan kerap mengeluarkan asap solfatara, yaitu asap putih yang terus menyembul dari permukaan tanah. Fenomena alam tersebut menjadi penanda bahwa Gunung Lewotobi Perempuan masih terus beraktivitas di dalam perut bumi. 

Data yang dikutip dari laman Kementerian ESDM, Gunung Lewotobi Perempuan tercatat pernah mengalami erupsi dahsyat pada 1921 dan 1935. Erupsi tahun 1921 menjadi letusan pertama yang tercatat secara resmi dalam sejarah Gunung Lewotobi Perempuan.

Karakteristik letusan tersebut bersifat magmatik, yang mengeluarkan material padat. Gunung menyemburkan abu vulkanik pekat serta lontaran batu-batu pijar dari kawah utamanya. Sedangkan erupsi tahun 1935, menjadi erupsi yang kedua, sekaligus yang terakhir dicatat terjadi 14 tahun setelah letusan pertama. Letusan ini ditandai dengan aktivitas embusan gas yang intens dan konsisten.

Material yang dikeluarkan kala itu adalah semburan asap tebal dan pekat yang keluar secara berkala setiap 5 menit sekali. Sejak 1935 itu hingga saat ini, Gunung Lewotobi Perempuan cenderung tenang, tidak seperti pasangannya, Gunung Lewotobi Laki-Laki.

Aktivitas paling mutakhir Gunung Lewotobi Perempuan terjadi pada 2023. Saat itu terjadi peningkatan aktivitas vulkanik sehingga statusnya dinaikkan menjadi Normal menjadi Waspada. 

Petugas Pos Pantau Gunung Lewotobi Perempuan kala itu, Hendra menjelaskan, pengamatan visual dan instrumental periode 1-17 Desember 2023, menunjukan adanya peningkatan aktivitas kegempaan yang terekam, serta tinggi kolom asap tidak teramati.

Warga sekitar kaki gunung kembar, termasuk wisatawan diimbau untuk tidak beraktivitas dengan radius 2 kilometer karena berpotensi terkena gas beracun.

"Tidak beraktivitas atau berada dalam radius 2 kilo meter dari pusat gunung, serta tidak mendekati lubang tembusan gas yang berada di sekitar kawah untuk menghindari potensi bahaya gas beracun," katanya.

Pakar Gunung Api Surono atau Mbah Rono saat dihubungi tim Regional Liputan6.com, Jumat (24/7/2026) mengatakan, 'diam'nya Gunung Lewotobi Perempuan bukan suatu pertanda besar.

Dalam pandangannya, banyak gunung api yang memiliki titik erupsi saling berdekatan, seperti antara lainn Gunung Merapi - Gunung Merbabu, Gunung Lokon - Kawah Tompaluan, Gunung Sibayak - Gunung Sinabung, Gunung Lewotobi Laki-Laki - Gunung Lewotobi Perempuan.

"Alam akan secara cerdas melilih salah satu titik erupsi, tidak dua-duanya. Kenapa? Karen magma akan secara cerdas pilih jalan yang paling mudah dilalalui untuk meletus," kata Surono.

Dirinya menegaskan, mengapa magma memilih jalan yang mudah untuk meletus melalui Lewotobi Laki-Laki, hal itu tidak perlu diperdebatkan.

"Gak usah dipikir yang tidak dipilih untuk meletus, pusing-pusing amat, pikirkan tata cara mitigasi bencananya saja," pungkas Surono.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner