Kisah Inspiratif Ryan Aryanto Bangun Nalara Coffee, Ubah Tantangan Jadi Peluang Lewat BRI

5 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Industri kedai kopi di Yogyakarta terus menunjukkan geliat yang impresif. Di tengah ketatnya persaingan, Nalara Coffee, sebuah usaha kopi yang berlokasi di Mlensen, Pondokrejo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta hadir dengan pendekatan yang berbeda. Ryan Aryanto selaku pemilik Nalara Coffee yang tidak hanya mengejar profit, tetapi juga membangun ekosistem bisnis yang berkeadilan bagi para petani dan komunitas di sekitarnya.

Seperti yang diketahui, Ryan memulai perjalanannya di dunia kopi dengan penuh kesederhanaan. Ia belajar banyak tentang kompleksitas kopi sejak masih duduk di bangku kuliah, yang kemudian membawanya merintis usaha kopi pertama kali di sebuah garasi rumah di daerah Pogung, Yogyakarta, pada tahun 2015.

"Perjalanan kami sebenarnya sudah dimulai sejak 2015 saat saya membuka kedai kopi di daerah Pogung, belakang UGM. Dari situlah saya mulai mengenal dunia kopi lebih dalam hingga akhirnya mulai mencoba menanam sendiri," kenang Ryan.

Pandemi COVID-19 menjadi titik balik yang mengubah orientasi bisnisnya menjadi lebih berdampak sosial. Ia memutuskan untuk memanfaatkan rumahnya sebagai ruang belajar bagi anak-anak muda yang membutuhkan.

"Titik baliknya terjadi saat pandemi. Waktu itu, kegiatan benar-benar terhenti. Saya terpikir untuk memanfaatkan rumah ini sebagai wadah belajar gratis bagi teman-teman lulusan SMA yang belum bisa lanjut kuliah," jelasnya.

Setelah kegiatan belajar tersebut selesai dan suasana rumah menjadi sepi, Ryan memutuskan untuk membangun usaha roasting dengan nama Nalara. Nama Nalara sendiri diambil dari nama anak-anaknya sebagai pengingat akan semangat keluarga. Ryan resmi menata legalitas usahanya pada akhir tahun 2024.

"Kenapa Dinamakan Nalara? Kalau nama itu anak sebenarnya mas. Nama anak pertamanya Nala. Anak kedua Nara. Jadi kita namain Nalara itu. Itu sih," tuturnya.

Ia menjelaskan pula mengenai waktu operasional produksinya. "Kalau Nalaranya sendiri, maksudnya kita kemudian ngurus izin segala macam itu di 2024 Akhir ya. Itu di bulan November. Kalau yang mulai produksi roasted bean nya itu ya ditahun 2025 mas," lanjutnya.

Proses Produksi yang Presisi

Bagi Ryan, kualitas adalah harga mati yang tidak bisa ditawar dalam setiap proses produksi kopi di Nalara. Ia menerapkan standar yang sangat ketat untuk memastikan hanya biji kopi terbaik yang sampai ke tangan pelanggan.

"Kami melakukan panen kopi dua kali dalam setahun. Karena kami menggunakan proses natural, tahap awal yang sangat krusial adalah sortasi. Meski sudah menerapkan metode petik merah, terkadang masih ada buah yang belum matang sempurna, jadi kami lakukan pemisahan menggunakan metode perendaman air (flotation). Biji yang tenggelam adalah kualitas terbaik yang akan kita proses lebih lanjut," terang Ryan mengenai standar kualitasnya.

Ketelitian ini dilanjutkan dengan sistem pengolahan yang terukur untuk menjaga konsistensi produk. Ryan memastikan bahwa kapasitas produksi tetap berada dalam batasan yang aman demi menjaga citarasa specialty coffee.

"Kami sangat menjaga konsistensi dengan memisahkan hasil panen sejak awal berdasarkan kebun asal, varietas, hingga ukuran bijinya. Setelah dikeringkan dan dikupas kulitnya menjadi green bean, kami lakukan pengayakan kembali," paparnya.

Bahkan, ia kemudian menambahkan mengenai keterbatasan kapasitas yang menjadi tantangan sekaligus penjaga kualitas.

"Dari total panen misalnya 1 ton, kami mengalokasikan sekitar 300 kg untuk di-roasting sendiri di sini, dan 700 kg sisanya kami jual ke roaster lain dalam bentuk green bean. Ini karena kami menyesuaikan dengan kapasitas mesin roasting kami yang maksimal 10 kg per hari untuk menjaga kualitas specialty kopi. Jadi, total produksi tahunan kami ada di kisaran 600 hingga 700 kg hasil kebun sendiri," pungkasnya.

Kopi Wonosobo sebagai Andalan

Nalara Coffee memiliki kebanggaan tersendiri pada produk kopi yang berasal dari kebun mereka di Wonosobo. Ryan memastikan bahwa setiap langkah budidaya diawasi langsung untuk menjaga kualitas yang tidak dimiliki oleh produk kopi dari daerah lain. Hal ini dikarenakan kontrol penuh yang dilakukan timnya dalam seluruh rantai produksi.

"Produk unggulan kami sejauh ini tentu kopi dari kebun sendiri di Wonosobo," ujar Ryan dengan penuh percaya diri.

"Kopi Wonosobo menjadi produk unggulan kami karena kami terlibat penuh di seluruh prosesnya, mulai dari penanaman, pengolahan, hingga menjadi roasted bean. Hal ini memberi kami kepercayaan diri lebih dibandingkan produk lain yang kami ambil dari luar daerah," lanjutnya.

Dalam hal pemasaran, Ryan memilih untuk jujur dan transparan kepada para konsumennya. Ia menghindari klaim organik sembarangan demi menghormati standar kejujuran dalam berbisnis dan memilih narasi pertanian berkelanjutan sebagai identitas produknya saat ini.

"Untuk urusan branding, kami memang tidak berani mengeklaim label 'organik' secara resmi. Alasannya karena kebun kami berada dalam satu kawasan dengan lahan lain yang mungkin masih menggunakan pestisida, sehingga risiko residu terbawa air hujan tetap ada," jelasnya mengenai strategi pemasaran yang etis.

"Sebagai gantinya, kami lebih memilih memasarkan produk ini dengan narasi 'pertanian berkelanjutan'. Kami memastikan kebun kami sendiri bebas dari penggunaan pupuk kimia maupun pestisida sintetis, sebagai bentuk komitmen kami terhadap praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan," tegasnya.

Varian Lainnya hingga Penjualan Tembus Pasar Digital

Tak hanya fokus pada Robusta dari kebun mandiri di Wonosobo, Nalara Coffee juga memperkaya koleksinya dengan pilihan Arabika Nusantara dari berbagai daerah penghasil kopi terbaik, seperti Gayo, Mandailing, Sumbing, Temanggung, hingga Solok.

Seluruh varian produk ini dipasarkan dalam berbagai ukuran kemasan mulai dari 100 gram, 250 gram, 500 gram, hingga 1 kilogram. Harganya pun sangat kompetitif dan ramah di kantong. Untuk varian Robusta dibanderol mulai dari Rp 35.000 hingga Rp 55.000 per 100 gram, sedangkan untuk varian Arabika berkisar antara Rp 45.000 hingga Rp 70.000 per 100 gram.

Berkat optimalisasi ekosistem digital, pasar Nalara Coffee kini telah menembus luar Pulau Jawa. Penjualan utamanya ditopang oleh platform e-commerce Shopee, persiapan live streaming di TikTok, aktivitas di Instagram, serta arus trafik yang kuat dari website pribadi yang dikelola langsung oleh Ryan.

"Untuk sebaran pelanggan khusus produk unggulannya yakni Robusta Wonosobo, sebenarnya yang paling banyak datang justru dari luar pulau, terutama melalui pemesanan via website. Data kami mencatat pelanggan tetap dari Sumatera sudah mencapai 15 orang lebih setiap bulannya, dengan titik sebaran yang beragam mulai dari Medan, Jambi, hingga Lampung. Selain Sumatera, pasar kami di Sulawesi dan Kalimantan juga cukup potensial, khususnya di Kalimantan Selatan itu kemungkinan besar karena adanya jejaring teman-teman di sana yang merekomendasikan produk kami. Untuk wilayah Indonesia Timur, NTB juga menjadi salah satu daerah dengan peminat yang cukup konsisten," ungkap Ryan mengenai peta pelanggannya.

Pengalaman Unik saat Bergelut di Dunia Kopi

Dunia kopi ternyata menyimpan banyak cerita unik bagi Ryan, terutama mengenai perubahan perilaku konsumen di marketplace. Ia menyadari bahwa tantangan di platform digital memaksa pemilik bisnis untuk lebih kreatif dalam menjalin hubungan dengan pelanggan.

"Untuk pemasaran, kami memang sempat merasakan penurunan drastis di marketplace seperti Shopee sejak adanya penyesuaian biaya administrasi. Kondisi ini memaksa penjual menaikkan harga, namun kami sadar bahwa di tingkat konsumen, khususnya mereka yang menyeduh kopi di rumah, ada batas psikologis harga yang tidak bisa ditembus," ungkap Ryan mengenai dinamika pasar saat ini.

Ia kemudian beralih fokus pada basis pelanggan setia yang sudah terbangun melalui komunikasi langsung. Strategi ini terbukti lebih efektif dan berkelanjutan bagi kelangsungan usaha Nalara Coffee.

"Akibatnya, kami kini lebih mengandalkan basis pelanggan tetap yang sudah terbangun. Banyak pembeli yang awalnya dari marketplace, kini beralih memesan langsung melalui WhatsApp setelah mereka mengenal kualitas produk kami," lanjutnya.

Ryan bahkan menceritakan pengalaman menarik mengenai pelanggan yang puas dengan profil kopi buatannya.

"Meski pengiriman di Shopee tetap berjalan dengan rata-rata 10 resi per hari, fokus kami saat ini lebih kepada menjaga hubungan baik dengan pelanggan setia yang sudah paham mengenai nilai dari produk kami," imbuhnya.

Pandangan terhadap Dunia Kopi Saat Ini

Melihat pertumbuhan kedai kopi yang sangat masif di Yogyakarta, Ryan memberikan perspektif yang realistis namun tetap optimis. Ia menyadari bahwa persaingan yang ada saat ini menuntut setiap pelaku usaha untuk terus berinovasi dalam hal pengolahan.

"Jujur, karena baru setahun saya serius di sini, saya belum bisa menyimpulkan gambaran industri kopi secara utuh. Namun, melihat fenomena di Jogja, pertumbuhan kedai kopi memang sangat massif, meskipun di balik itu, ada saja kedai yang tutup seiring dengan kedai baru yang bermunculan," ulas Ryan mengenai kondisi industri.

Di tengah pertumbuhan tersebut, Ryan mencoba membangun model bisnis yang berbeda dengan konsep "pra-koperasi". Ia ingin memastikan bahwa keuntungan yang didapat tidak hanya dinikmati oleh pemilik modal, tetapi juga kembali kepada para petani.

"Inovasi anak-anak sekarang luar biasa; pengolahan kopinya jauh lebih kreatif dibandingkan era kami yang dulu masih sangat konvensional," katanya mengakui kehebatan generasi baru.

Ia kemudian menjelaskan filosofi keadilan yang ia pegang teguh.

"Pertumbuhan ini, termasuk menjamurnya kedai kopi kekinian bahkan yang kelas gerobakan, memberikan dampak yang signifikan bagi kami. Banyak dari mereka yang mencari kopi blend untuk menu kopi susu kekinian. Namun, tantangan terbesar kami tetap pada menekan harga, padahal proses pengolahan kopi itu sendiri sangat kompleks. Saya selalu menjaga agar harga yang kami tetapkan tetap adil bagi semua pihak, terutama petani. Filosofi yang sedang kami bangun di sini adalah 'pra-koperasi' atau bisnis yang berkeadilan. Kami tidak hanya mengambil untung untuk operasional, tapi ada bagian keuntungan yang kami kembalikan ke petani. Jadi, saat kami menjual produk, harga yang didapatkan petani sudah di atas standar pasar, ditambah lagi dengan pembagian keuntungan dari hasil penjualan kopi tersebut," paparnya.

Sinergi dengan BRI dan Harapan untuk Bisnis

Kemudahan transaksi harian melalui QRIS BRI dan fasilitas KUR juga menjadi penyelamat bagi arus kas Nalara Coffee. Ryan merasa lebih tenang menjalankan bisnis karena memiliki mitra perbankan yang bisa diandalkan. Bahkan, ia sangat mengapresiasi kecepatan dan kompetitivitas bunga yang ditawarkan.

"Terkait urusan finansial, kami memang banyak terbantu dengan ekosistem perbankan dari BRI. Untuk transaksi harian, kami sudah menggunakan QRIS yang memudahkan operasional. Selain itu, untuk permodalan, kami sempat memanfaatkan fasilitas KUR dari BRI. Jujur saja, bagi kami KUR itu sangat membantu, terutama dari sisi bunga yang sangat kompetitif dan prosesnya yang cepat. Jadi, kalau ada kebutuhan modal yang sifatnya mendesak untuk pengembangan usaha, kami merasa lebih tenang karena sudah ada akses pendanaan yang terpercaya," tambahnya.

Ke depan, Ryan memiliki visi besar untuk terus mengembangkan skala usaha dari level mikro menjadi UMKM yang lebih mapan. Ia berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas agar bisa memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.

"Harapannya ya semoga bisa memaksimalkan penjualan online dan memperkuat kapasitas produksi," tutup Ryan.

Ia sangat berharap bisa konsisten menjaga kemitraan yang sudah terjalin baik selama ini. "Terkhusus bagaimana kami bisa konsisten memenuhi kebutuhan mitra-mitra kami, baik itu teman-teman petani maupun kedai kopi yang bekerja sama dengan kami. Jadi, langkah ke depan memang lebih ke peningkatan kualitas dan kapasitas," pungkasnya.

Varian Wonosobo Jadi Andalan Pagi Warga Lokal

Kualitas produk Nalara Coffee tak hanya diakui oleh pelanggan dari luar pulau, tetapi juga mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat sekitarnya. Haris, salah seorang warga lokal yang cukup sering membeli biji kopi (bean) langsung di Nalara, mengakui adanya keunikan rasa yang disajikan.

"Biji kopi di Nalara ini punya rasa yang unik dan aroma yang segar. Yang pastinya pas dan nikmat banget untuk dibawa ngopi di pagi hari sebelum memulai aktivitas," ujar Haris saat memberikan kesaksiannya sebagai salah satu pelanggan.

Dari berbagai pilihan varian yang ditawarkan, Haris mengaku paling sering memburu roasted bean asal Wonosobo yang menjadi produk unggulan Nalara. Konsistensi rasa menjadi alasan utama mengapa ia terus kembali membeli produk lokal Sleman ini.

"Saya sendiri paling sering membeli bean yang dari Wonosobo. Menurut saya, rasanya itu konsisten dan tidak berubah-ubah dari waktu ke waktu. Terlebih lagi, sekarang produk kopi bubuk mereka sudah dijual di minimarket sekitar rumah, jadi kita sebagai konsumen tidak perlu khawatir lagi soal standar kualitasnya," pungkas Haris.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner