Dedikasi Pelaku Seni Ngalangan, Rawat Tradisi Kebudayaan Jawa yang Hidup Kembali Lewat CSR BRI

4 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Menjaga kelestarian seni tradisi di era modern bukan perkara mudah. Dibutuhkan keteguhan niat, idealisme, hingga kerelaan berkorban dari para pelakunya agar nilai-nilai adiluhung warisan leluhur tidak tergerus zaman. Lembaran dedikasi inilah yang terus ditulis oleh para penggiat seni di Padukuhan Ngalangan, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Di dusun ini, dunia pedalangan dan seni tradisi bukan sekadar pertunjukan hiburan semata, melainkan sebuah jalan hidup (laku) yang dirawat dengan penuh rasa hormat oleh para warganya. Anang Prawoto (63 Tahun), salah satu tokoh penggiat seni asal Ngalangan yang kini mengemban amanah sebagai Sekretaris PEPADI (Persatuan Pedalangan Indonesia) DIY ini menceritakan ketertarikannya pada dunia pewayangan sudah tumbuh sejak usia belia berkat garis keturunan dari sang buyut.

"Saya ini memang sudah senang wayang dari kecil, Mas. Di keluarga, dulu Mbah Buyut punya wayang dan juga dalang, tapi karena beliau menjabat lurah, urusan masyarakat jadi lebih diutamakan, akhirnya ndalangnya jadi nomor sekian. Begitu juga Pak Lik saya, ada yang bisa ndalang tapi jadi polisi, jadi tidak fokus," kenang Anang membuka cerita dengan Liputan6.com saat ditemui di rumahnya, di Ngalangan, Sleman, Yogyakarta. 

Langkah hidup Anang pun sempat mengikuti pola yang sama dengan para pendahulunya. Tanggung jawab sebagai seorang pendidik sempat menjauhkannya dari aktivitas mendalang secara aktif. Namun, titik balik keterlibatan Anang secara mendalam di dunia organisasi pedalangan formal dimulai dua dekade lalu, tepatnya pasca-bencana besar yang melanda Yogyakarta.

"Saya pun awalnya begitu. Saya tetap latihan, tapi karena profesi saya sebagai guru dan sempat merantau ke Maluku, kegiatan ndalang jadi sedikit terbengkalai. Baru setelah pindah ke Jogja tahun 1994, saya mulai aktif lagi di kegiatan kesenian, baik di kampung maupun di organisasi," tuturnya.

"Semuanya berawal tahun 2006. Waktu itu pasca-gempa Jogja dan erupsi Merapi, dinas mengadakan festival pedalangan di Terogogo Putri untuk memulihkan pariwisata. Saya didaulat oleh tokoh dari Sleman Tengah untuk ikut seleksi. Alhamdulillah, waktu itu penampilan saya dinyatakan sebagai yang terbaik," ungkap Anang.

Keberhasilan dalam festival pemulihan pariwisata tersebut membawanya masuk ke dalam jajaran pengurus Persatuan Pedalangan Indonesia.

"Setelah itu, saya masuk ke PEPADI (Persatuan Pedalangan Indonesia) DIY. Awalnya saya di seksi penelitian dan pengembangan, kemudian berlanjut terus sampai akhirnya dipercaya menjadi Sekretaris PEPADI DIY sampai sekarang," tambahnya.

Memilih Jalan Sunyi Demi Menghidupi Sesama Dalang

Meski memiliki kapasitas sebagai salah satu penampil terbaik, Anang kini secara sadar membatasi aktivitasnya di atas panggung komersial. Pilihan tersebut diambil demi memberikan ruang rezeki bagi rekan sejawat yang sepenuhnya menggantungkan hidup dari profesi mendalang.

"Jujur, karena kesibukan sebagai PNS, yakni guru dan sekarang lebih fokus ke pengurus organisasi, kegiatan mendalang saya jadi berkurang. Saya baru akan tampil kalau ada teman dekat atau lingkungan kelurahan yang meminta secara khusus," ucap Anang.

"Di PEPADI sendiri, saya sengaja tidak mau mengambil job manggung. Saya merasa posisi saya di pengurus adalah untuk melayani teman-teman dalang yang memang menjadikan pedalangan sebagai profesi utama mereka. Saya ini 'seniman setengah hati', Mas dalam artian saya memang cinta wayang, tapi sekarang setelah pensiun pun, saya lebih ingin memprioritaskan teman-teman dalang yang hidupnya memang bergantung sepenuhnya dari seni pedalangan ini," tegasnya komit.

Bahkan, sikap membatasi diri ini tetap dipegangnya dengan teguh, sekalipun ada tawaran pementasan resmi yang didanai oleh alokasi Dana Keistimewaan (Danais).

"Betul, kalau ada pementasan dari Danais atau program-program resmi lainnya, saya berusaha untuk tidak tampil. Saya lebih memilih memberi ruang bagi teman-teman dalang lain. Tapi, kadang saya jadi serba salah kalau ada permintaan dari teman dekat. Ingatan saya melayang ke tahun 1989, waktu pertama kali saya mendalang di rumah Pak Dukuh sepuh, di sebelah utara sini. Hubungan emosional itu yang membuat saya sulit menolak. Sampai sekarang, teman-teman di sana punya semacam agenda rutin, entah setiap tahun atau dalam acara tertentu. Saya sering diminta mengisi, dan biasanya kami kerjakan dengan format yang minimalis, dalangnya gratis, penabuhnya pun menyesuaikan. Ya, karena itu tadi, karena mereka adalah kawan-kawan lama saya," papar Anang secara rinci.

Fokus Manajemen Organisasi dan Misi Regenerasi

Sebagai Sekretaris PEPADI DIY, fokus energi Anang saat ini dicurahkan untuk mengawal program-program strategis organisasi, termasuk persiapan festival kebudayaan skala regional yang menyasar generasi muda.

"Fokus utama saya memang lebih banyak di urusan keorganisasian. Misalnya, dalam waktu dekat ini, yaitu tanggal 21 sampai 24 Juli, PEPADI DIY akan mengadakan festival di Taman Budaya. Kami akan menampilkan perwakilan terbaik dari setiap kabupaten/kota di seluruh DIY," jelasnya.

Ajang kompetisi kebudayaan yang berlangsung selama empat hari tersebut dirancang untuk menguji sekaligus memetakan potensi seniman muda di wilayah Yogyakarta.

"Nanti ada empat kategori yang dilombakan: wayang kulit anak, wayang golek anak, serta wayang kulit dan wayang golek remaja. Jadi acaranya akan berlangsung selama empat hari. Tugas kami di pengurus ya mengawal jalannya acara tersebut dan memfasilitasi setiap pelatihan yang dibutuhkan," kata Anang.

Bagi Anang, peran sebagai fasilitator di balik layar organisasi justru memberinya keuntungan spiritual dan intelektual karena bisa menyerap ilmu secara konstan dari para maestro pedalangan.

"Menariknya, lewat peran sebagai fasilitator ini, saya justru jadi lebih banyak belajar. Saat ada teman-teman dalang senior menjadi narasumber, saya otomatis ikut menyimak dari awal sampai akhir. Jadi, ibaratnya saya ini 'pintar tanpa sengaja' karena setiap hari terus menyerap ilmu dari para ahlinya," selorohnya.

Polarisasi Dunia Wayang: Antara Selera Pasar dan Pakem Yogyakarta Klasik

Sebagai seorang idealis dalam berkesenian, Anang tidak menampik adanya realitas sosiologis yang membelah dunia pedalangan kontemporer menjadi dua kutub kepentingan yang berbeda.

"Saya akui, saya masih memegang sisi idealis dalam berkesenian. Saat ini, dunia pedalangan memang terbelah menjadi dua kutub. Di satu sisi, ada wayang yang harus mengikuti pasar demi pendapatan. Di luar panggung dinas, dalang biasanya akan memasukkan banyak unsur lawakan dan hiburan yang cair agar disukai penonton," urainya mengenai tantangan dunia pewayangan hari ini.

Sementara di kutub lainnya, terdapat benteng pertahanan nilai filosofis yang didukung penuh oleh kebijakan kultural pemerintah daerah. Menghadapi tantangan tersebut, ia menekankan pentingnya fleksibilitas tanpa harus mengorbankan marwah asli dari filosofi pewayangan itu sendiri.

"Di sisi lain, ada upaya pelestarian yang digarap oleh Dinas Kebudayaan lewat dukungan Danais (Dana Keistimewaan). Di sini, wayang harus tetap bercorak Yogyakarta klasik dengan segala kedalaman filosofinya. Masalahnya, pementasan yang murni mempertahankan filosofi ini terkadang penontonnya memang lebih sedikit. Orang awam seringkali sulit membedakan mana sabetan yang pakem dan mana selipan guyonan yang hanya untuk hiburan pasar," keluh Anang.

"Sebagai seniman, saya merasa kita harus mampu bermain di tengah-tengah. Ada saatnya kita harus melayani pasar agar roda ekonomi tetap berputar, tapi ada kalanya kita juga harus setia pada pakem klasik agar filosofi wayang yang adiluhung tidak hilang tergerus zaman. Keduanya harus bisa berjalan beriringan," tambahnya.

Dimensi Spiritual dan Pengalaman di Luar Nalar sang Dalang Aktif

Kisah dedikasi dari Padukuhan Ngalangan kian lengkap dengan perspektif Purwoko, seniman dalang setempat yang hingga saat ini masih aktif naik panggung. Bagi Purwoko, pertunjukan wayang bukan sekadar perkara teknis, melainkan soal menjaga kematangan rasa dan suasana hati (mood).

"Jujur, ada kalanya saya merasa ingin berhenti saja sebelum tampil. Jika mood sudah hilang, ya sudah, rasanya berat sekali. Jadi, menjaga suasana hati itu memang harus dipelihara dengan baik. Bagi saya, mood itu sangat dipengaruhi oleh lakon atau cerita yang akan saya bawakan. Kalau lakonnya menyentuh, rasanya seperti sedang tanggap Gusti Pangeran, ada dialog batin yang luar biasa di sana," ungkap Purwoko.

Penghayatan spiritual yang mendalam terhadap kelir pewayangan membuat Purwoko memahami adanya dimensi-dimensi kehidupan lain yang melingkari proses kreatif seorang dalang.

"Memang, banyak juga cerita dalam wayang yang secara logika manusia sulit diterima. Tapi saya menyikapinya dengan wajar. Kita harus sadar bahwa dimensi kehidupan ini luas, bukan hanya tentang manusia, tapi juga ada tumbuhan dan dimensi lain di sekitar kita," jelasnya reflektif.

Kedekatan dengan dimensi lain tersebut bahkan mewujud secara nyata melalui sebuah peristiwa mistis yang membekas dalam ingatannya sesaat sebelum memulai pementasan. Kehadiran ular misterius tersebut spontak memicu histeria dari orang-orang di sekitar lokasi pementasan. 

Menariknya, kesadaran penuh akan potensi bahaya dari peristiwa mistis tersebut baru dirasakan oleh Purwoko setelah fajar menyingsing pasca-menyelesaikan pertunjukan.

"Ada satu kejadian yang cukup membekas belum lama ini. Saat itu, saya sedang duduk-duduk di kursi bersama beberapa tokoh di sini, bersiap untuk mendalang. Saya sama sekali tidak menyadari kalau ada ular hitam yang merayap naik dan tidur melingkar di atas kaki saya. Tiba-tiba, orang di dekat saya berteriak, 'Astagfirullah, Pak! Itu ada ular!' Saya sendiri benar-benar tidak merasa. Begitu sadar dan saya angkat kaki, ularnya jatuh ke lantai. Orang-orang sempat ingin membunuh ular itu, tapi saya larang. Jangan, biar saja," kisah Purwoko.

"Lucunya, saya baru sadar kejadian itu menjelang subuh, sekitar pukul 04.30 pagi. Kalau saja tidak ada yang berteriak saat itu, mungkin saya tidak akan pernah tahu kalau ada ular di sana. Malah teman saya yang bercanda, katanya saya sedang 'digendong' ular. Cerita-cerita seperti itulah yang kadang terjadi, bagi saya itu bagian dari dimensi lain yang memang ada di sekitar kita," lanjutnya.

Ekosistem Dua Sanggar Komunitas dan Strategi Kaderisasi Bersama

Gerak kebudayaan di Padukuhan Ngalangan disokong secara swadaya oleh keberadaan dua sanggar komunitas lokal yang berbagi peran secara harmonis.  Sinergi fungsional dalam pembuatan instrumen fisik wayang di antara kedua tokoh seni ini bahkan telah berhasil diestafetkan kepada generasi berikutnya.

"Di perdukuhan ini sebenarnya sudah ada dua sanggar. Satunya ada di rumah Pak Dukuh, satunya lagi di tempat Pak Purwoko. Nah, kalau Pak Purwoko itu dedikasinya luar biasa, beliau tidak punya beban lain, jadi kalau ada tanggapan atau panggilan untuk mendalang, beliau selalu siap. Itu sangat bagus sekali untuk pengembangan budaya di sini," puji Anang terhadap koleganya.

"Dulu, kami punya pembagian peran yang unik. Pak Purwoko lebih cenderung ke bagian nyungging atau mewarnai wayang, sementara saya lebih fokus ke bagian mahat (mengukir). Tapi sekarang, Pak Purwoko sudah punya putra yang keahlian memahatnya sudah luar biasa. Jadi, urusan regenerasi di sanggar beliau sudah berjalan dengan sangat baik," kata Anang bangga.

Meski demikian, Anang mengakui tantangan terbesar saat ini adalah minimnya kader dalang muda yang menetap di wilayahnya, meski ketertarikan dari wilayah luar sesekali muncul.

"Jujur, kalau bicara kader yang menetap, di sini memang belum kelihatan. Tapi, ada cerita menarik. Pernah ada seorang anak yang rumahnya tidak jauh dari sini, sekitar 1-2 kilometer dan sekolah di SMP Muhammadiyah Pakem. Dia dengar kalau di sini ada yang punya wayang, lalu dia datang untuk belajar. Saya senang sekali, artinya masih ada anak muda yang punya ketertarikan," ceritanya.

Menyikapi minat tersebut, Anang memosisikan dirinya sebagai ruang sinergi belajar bersama dengan memanfaatkan bekal pengetahuan dari para senior kebudayaan.

"Betul. Meskipun saya sendiri praktisi, saya lebih membuka diri untuk belajar bersama. Pengalaman saya menjadi penasihat pedalangan Sleman sejak 2020, ditambah sering mendampingi tim DIY saat latihan dan mendengar masukan dari para dalang senior, memberikan saya banyak ilmu baru," tuturnya mengenai perannya sebagai fasilitator.

"Ilmu-ilmu yang saya dapatkan dari para senior, termasuk apa saja yang biasanya dikoreksi. itulah yang kemudian saya bagikan kepada anak-anak muda ini. Jadi, ini adalah proses belajar bersama. Saya menyerap ilmu dari yang senior, lalu saya tularkan kepada mereka yang baru mulai belajar," lanjut Anang.

Karakteristik Unik Ngalangan dan Rencana Fasilitas Terintegrasi

Secara sosiologis, Padukuhan Ngalangan digambarkan sebagai wilayah yang unik karena mampu memadukan dua poros kekuatan komunal yang berbeda secara geografis.

"Ngalangan itu tempat yang unik, seperti kantung yang memadukan banyak hal. Di sisi utara, warganya religius dan tekun mengaji, sementara di sisi selatan, banyak seniman hebat, mulai dari seniman ketoprak sampai karawitan," urai Anang memetakan karakteristik wilayahnya.

Suasana kultural masa lalu yang kental dengan gema suara pementasan tradisional masih membekas kuat dalam ingatan masa kecil Anang.

"Saya masih ingat betul masa kecil saya. Dulu, kalau ada pementasan wayang di sekitar sini, suaranya sudah terdengar sampai jarak tiga kilometer karena memakai corong horn. Mendengar suaranya saja, saya sudah ingin lari ke sana. Rasanya seperti melihat artis datang ke kampung sendiri. Sayangnya, belakangan ini perkembangan budaya memang agak turun. Namun, sekarang Pak Dukuh mulai menggugah kembali potensi-potensi tersebut, seperti ketoprak, macapat dan karawitan. Meskipun untuk macapat belum terlalu berhasil, karawitan sudah mulai jalan lagi," ungkapnya.

Untuk memaksimalkan potensi seni tersebut, jajaran pamong wilayah sebenarnya telah merancang wacana pembangunan infrastruktur kebudayaan yang terpadu.

"Betul, Pak Dukuh memang punya keinginan untuk membangun sanggar yang lengkap—mulai dari sanggar karawitan, tari, sampai pedalangan, semuanya ada di satu tempat. Sebenarnya sudah ada rencana pengajuan proposal ke pihak BRI, cuma sampai sekarang informasinya belum ada kejelasan, katanya sih proposalnya belum terkirim," ungkap Anang transparan mengenai kendala administratif wacana tersebut.

Ketiadaan fasilitas terpadu tidak menyurutkan semangat gotong royong antar-warga dalam menggelar aktivitas latihan seni secara berkala.

"Tapi, kami terus memikirkan bagaimana caranya agar ide ini tetap berjalan. Misalnya, kalau saya pribadi kan tidak memiliki perangkat gamelan, nah, dengan adanya gamelan di tempat Pak Dukuh, kita bisa bersinergi. Jadi, nanti kegiatannya bisa saling mengisi," jelasnya.

Bahkan, manajemen latihan musik tradisional sengaja dipisahkan berdasarkan kelompok usia demi menjaga kenyamanan psikologis para lansia di dusun tersebut.

"Sekarang justru banyak warga sepuh yang ingin latihan menabuh gamelan, karena dulu di masa mudanya mereka memang pemain musik. Kami berencana membuat kelompok tersendiri bagi mereka. Kenapa dipisah? Karena kalau dicampur dengan anak-anak muda, kasihan yang sepuh. Anak muda itu kan daya ingatnya cepat dan keterampilannya sudah bagus. Kalau yang sepuh, untuk mengingat satu deretan notasi saja harus butuh waktu dan tenaga ekstra. Jadi, biar yang sepuh latihan dengan temponya sendiri, menikmati masa tua sambil nguri-uri budaya bersama teman sebayanya," tutur Anang bijak.

Kehadiran CSR BRI: Jembatan Budaya Penentu Harmoni Dusun

Di tengah dinamika perjuangan para pelaku seni Ngalangan merawat tradisi dengan keterbatasan alat, sebuah titik balik krusial hadir melalui realisasi program Corporate Social Responsibility (CSR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) berupa bantuan satu set instrumen gamelan baru. Kehadiran bantuan ini menjadi pengikat sosial yang ditunggu-tunggu warga untuk menghidupkan kembali denyut kebudayaan lokal.

Bagi Anang Prawoto, dampak material dari bantuan instrumen musik perbankan ini bernilai jauh lebih besar secara filosofis karena mampu merekatkan kembali sekat sosiologis antar-warga dusun.

"Bagi saya, kehadiran perangkat gamelan dari program CSR BRI bukan sekadar pengadaan barang atau bantuan fisik semata. Bantuan ini adalah 'penghubung' yang selama ini kami nantikan untuk menghidupkan kembali denyut budaya di Ngalangan," ungkap Anang penuh haru.

Gamelan bantuan CSR BRI ini bertindak bak magnet sosial yang mengumpulkan kembali seluruh lapisan masyarakat ke dalam satu ruang ekspresi kultural yang produktif.

"Sezeit gamelan itu ada, suasana di dusun kami berubah drastis. Warga yang tadinya sibuk dengan urusan masing-masing, kini punya alasan yang sangat indah untuk berkumpul. Setiap kali suara gamelan mulai ditabuh, seolah ada magnet yang menarik mereka untuk datan, baik tua maupun muda ke sanggar," tambahnya penuh semangat.

Melalui media instrumen gamelan baru ini, warga Ngalangan kini memiliki wadah silaturahmi yang jauh lebih bermakna untuk menumbuhkan rasa memiliki kolektif terhadap akar sejarah mereka.

"Dulu, kami seperti kehilangan wadah untuk bersilaturahmi dengan cara yang lebih bermakna. Sekarang, lewat gamelan ini, masyarakat Ngalangan tidak hanya sekadar duduk bersama, tetapi mereka sedang belajar membangun kerukunan, saling bertukar pikiran, dan yang terpenting menumbuhkan kembali rasa memiliki terhadap warisan leluhur. Melihat semangat warga, terutama anak-anak muda yang mulai antusias memegang kendang atau saron, saya merasa optimis bahwa keberlangsungan budaya Jawa di sini memiliki masa depan yang cerah. Gamelan ini telah menjadi titik temu yang menyatukan hati warga Ngalangan dalam satu harmoni," urai Anang panjang lebar mengenai dampak masif bantuan tersebut.

Harapan Masa Depan: Gotong Royong Menuju Desa Budaya

Kebangkitan aktivitas seni pasca-turunnya bantuan gamelan CSR BRI kian memicu optimisme warga untuk menempatkan Padukuhan Ngalangan sebagai pilar penyokong utama status kebudayaan di level kelurahan.

"Harapan saya besar sekali agar Ngalangan bisa menjadi pilar pendukung utama bagi status Desa Budaya di Sardonoharjo. Ingat saya, sejak November 2021, saat peringatan Hari Wayang Dunia, kami bersama teman-teman di sini sudah mulai bergerak mendukung kelurahan. Saat itu, mulai dari UMKM hingga pegiat seni semua turun tangan," kata Anang.

Akselerasi program kebudayaan tingkat lokal ini pun menuntut ketahanan fisik dan mental yang tinggi dari para penggiatnya yang murni bergerak sebagai relawan komunitarian.

"Menurut saya, Ngalangan punya nilai plus dibanding tempat lain. Walaupun, jujur saja, Pak Dukuh di sini 'hiperaktif'-nya luar biasa sampai membuat saya ikut pusing dan kurang tidur selama tiga minggu karena memikirkan program-programnya! Tapi, bagi orang Jawa, ini adalah proses nanting—menguji kesanggupan diri. Kami ini kan relawan (volunteer), jadi yang kami cari bukan materi, melainkan kebahagiaan saat melihat masyarakat mulai guyub, berkesenian dengan baik, dan kompak dalam kegiatan sosial," terangnya.

Sebagai penutup, Anang memberikan pesan moral dan etis yang mendalam bagi ekosistem pelaku seni pertunjukan tradisional, khususnya para generasi muda yang kini mendominasi panggung industri hiburan modern.

"Saya berharap ada keseimbangan. Saya tidak anti dengan dalang milenial yang menggantungkan hidup dari industri ini, itu hak mereka. Namun, saya menitipkan pesan agar mereka punya empati pada dalang senior. Jangan sampai karena mengejar viral atau industri, mereka mematikan ruang bagi dalang-dalang senior yang sudah berdedikasi lama," imbau Anang serius.

"Kita harus tetap menjaga filosofi wayang yang adiluhung, di samping tetap melayani pasar. Menjadi seniman itu harus tahu kapan waktunya 'bermain' untuk pasar dan kapan waktunya setia pada pakem. Saya sendiri memilih tetap di tengah-tengah bekerja dengan jujur, menjaga pantangan, seperti menjaga suara dan energi dan terus merawat wayang-wayang saya sebagai wujud prihatin yang saya yakini sebagai sebuah 'laku' hidup," pungkas Sekretaris PEPADI DIY tersebut mengakhiri pembicaraan.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner